Wednesday, 17 October 2012

Mau Sehat?Yuk pakai terus Otak Kita....

Dalam bekerja sehari-hari, ada sebagian orang yang lebih banyak menggunakan otak ketimbang ototnya. Orang-orang semacam itu tak punya pilihan, untuk selalu menjaga kesehatan organ tubuh vital satu-satunya itu. Syukur-syukur bukan cuma menjaga, tapi juga mengoptimalkannya.

"Kalau dia itu nasinya tolong yang banyak, Bu. Dia 'kan kuli pasar," ujar Yanto kepada ibu penjual nasi, sambil menunjuk Joko. Celetukan di sebuah warung nasi itu langsung menyegarkan suasana yang sangat panas. Joko, seorang designer creative sebuah media cetak, pun cuma bisa senyum-senyum saja. Sudah biasa baginya diejek seperti itu.

Diejek? Ya, tentu saja. Jelas-jelas ia bukan kuli pasar. Untunglah ia tidak marah, sebab memang sudah jadi kebiasaannya, makan siang dengan porsi berlebih.

Bagi Joko, baik kuli pasar - yang konotasinya cuma bekerja mengandalkan fisik - atau tukang kreatif seperti dia, tetap harus makan dalam jumlah yang cukup. Kalau asupan kurang, seorang kuli pasar tidak akan punya tenaga untuk mengangkut beban. Sementara Joko, otaknya yang tidak mau diajak kompromi.

Obrolan tadi memang mewakili pandangan banyak orang selama ini tentang dua jenis pekerjaan. Kerja otot dan kerja otak. Keduanya berbeda, bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Coba renungkan, Anda termasuk yang mana?

Wendy, penulis blog yang sedang jauh dari rumah, menulis di halaman situs blognya, "Dari segi gengsi, kerja pake otak kedengarannya memang lebih keren karena (biasanya) identik dengan pakaian rapi, kubikel dengan komputer, parfum, AC, dan dasi. Sedangkan kerja otot identik dengan keringat, ban berjalan, mesin-mesin, dan rutinitas." Apa benar?

Agak sedikit berbeda, Nugroho, MM, ACS, CL, tokoh pendidikan muda yang visioner dan enerjetik mencoba membedah kerja otot versus kerja otak ini. Menurutnya, kerja otot dan kerja otak, berujung pada si Sukses dan si Gagal, si Bahagia dan si Menderita. Wah!

Penjelasannya begini. Bila seseorang menjalani hidupnya dengan lebih dominan mengandalkan ototnya, akan mendapatkan hasil yang berbeda dari orang yang lebih dominan dalam mengandalkan otaknya. Orang yang mengandalkan otot adalah tipe orang yang bekerja sendiri (one man show) sementara orang yang bekerja dengan otaknya akan bekerja dengan melibatkan orang lain seraya membangun kerjasasama tim. Istilahnya, (team work building).

Orang yang mengandalkan otot cenderung tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Sementara orang "berotak" lebih fleksibel dalam pengaturan waktu. Sebabnya, orang yang bekerja sendiri tidak berani atau bahkan mungkin tidak tahu bagaimana mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Sementara yang bekerja dalam tim cenderung saling membantu dalam menjalankan tugas.

Namun tulisan ini tidak akan berlarut-larut dalam polemik perbedaan kerja otot dan kerja otak. Mari mengupas bagaimana jika kita termasuk orang yang mengandalkan kerja otak. Apa yang mesti kita persiapkan agar otak senantiasa siap diajak bekerja. Kalau perlu sampai lembur.

Mirip komputer

Otak, sampai sekarang masih menyimpan banyak misteri. Sigmun Freud, si pakar psikoanalisa itu, berteori, otak manusia adalah segala-galanya. Sedangkan dalam buku Use Your Head, Tony Buzan menyebutkan, otak ibarat raksasa tidur. Sebabnya, banyak hal yang belum diungkap secara keilmuan.
Sejauh ini sering kita mendengar, otak terbagi menjadi dua bagian penting, yakni otak kanan dan otak kiri. "Otak kiri untuk hal-hal yang rasional, nyata, berpikir linier. Sedangkan otak kanan kaitannya dengan imajinasi, musik, kesenian, merasa bahagia, konstruksional," tutur dr. Samino, Sp.S. (K), spesialis saraf dari RS Islam Cempaka Putih.

Kenyataannya, selama ini kebanyakan hanya otak kiri yang diberdayakan. Tapi sejak munculnya istilah kecerdasan emosi, otak kanan pun mulai banyak dibahas. Trik dan metode mengoptimalkan otak kanan mulai bermunculan.

Kedua "otak-otak" itu memang harus dimanfaatkan secara seimbang. Pasalnya, memori yang dibangun otak kiri akan menjadi memori jangka panjang yang disimpan otak kanan. Jadi, antara otak kiri dan kanan, punya semacam jembatan penghubung.

Jika dianalogikan, otak mirip komputer. Mungkin inilah sebabnya, di Tiongkok, komputer diistilahkan sebagai jun nye, yang arti langsungnya "otak listrik" atau otak yang bekerja pakai listrik. Seluruh aktivitas tubuh merupakan refleksi dari program-program yang ada di dalam otak.

Chip-nya otak adalah neuron atau sel saraf. Neuron adalah sel yang mempunyai juluran-juluran yang menghantar rangsangan. Juluran yang menghantar rangsang ke badan sel yang mengandung inti di dalamnya disebut dendrit. Sedangkan juluran yang menghantar rangsang keluar dari badan sel disebut akson.

Sel-sel saraf yang berhubungan satu sama lain membentuk suatu jaring perkawatan. Hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain disebut sinapsis. Makin rimbun hubungan antarsel saraf, makin tinggi kecerdasannya. Jadi, tingkat kecerdasan tidak berkaitan dengan besar atau berat otak, yang sekitar 1,5 kg itu.

Makin banyak dan baik asupan program yang terjadi pada proses belajar, makin banyak percabangan juluran sel saraf yang terjadi. Ini berarti daya mengingat meningkat. Jadi, ingatan terwujud sebagai cabang-cabang juluran sel sarah dengan sinapsis-sinapsisnya.

Tapi masalahnya, jumlah sel saraf tidak dapat bertambah. Malah bisa menyusut seiring tambah usia. Kematian sel otak bahkan sudah dimulai semenjak kelahiran.

Karena sel-sel otak tidak diperbarui sejak kita lahir, jumlah totalnya akan mulai berkurang. Percabangannya memang dapat terbentuk terus hingga usia lanjut. Hanya saja, sama seperti alat yang jika jarang digunakan bakal timbul masalah, begitu pula otak. Kalau jarang digunakan, otak akan melisut. Percabangan juluran sel saraf juga rusak dan menggersang.

"Jadi, jika mau bugar otaknya, pakai terus!" saran Samino, menyimpulkan segala kerumitan tentang persarafan di dalam kepala ini.

Use it or loose it

Agar dapat sepenuhnya menggunakan potensi otak, kita harus belajar memandangnya sebagai bagian dari tubuh kita. Sama seperti otot dan sendi yang menjadi kaku bila tidak digunakan, otak pun akan kehilangan kemampuannya bila tidak dimanfaatkan. Seperti halnya peregangan dan olahraga untuk memelihara kondisi fisik, kita juga perlu meregangkan dan melatih otak untuk memelihara dan mengembangkan "kondisi otak" kita.

Ada banyak cara untuk merawat otak. "Yang penting memperhatikan gaya hidup saja. Gaya hidup ini meliputi pola makan, pola latihan fisik, dan pola tidur," tegas Samino.

Memperhatikan pola makan, termasuk di dalamnya menjauhi kebiasaan merokok dan makan makanan yang mengarah terjadinya sklerosis pembuluh darah. Pola pikir juga penting diperhatikan, sebab ketika otak bekerja ia menghasilkan zat-zat sampah yang akan mengganggu metabolismenya. "Jadi perlu di-recovery. Kalau tidak otak akan kelelahan," tambah Samino.

Untuk menjaga agar otak tidak lelah, maka tubuh perlu tidur rata-rata enam jam sehari. Namun, meski tubuh tidur, otak sebenarnya tidak sepenuhnya istirahat. "Ia tetap bekerja meski dalam kondisi basal, yakni kerja minimal untuk memberikan pengaturan bagi sistem tubuh," kata Samino.

Mengenai lamanya tidur, Samino menegaskan, "Tidak tergantung umur. Tidur yang bagus ya segitu. Memang, pada orang tua tidurnya kurang. Ada yang cuma empat jam atau bahkan dua jam. Tapi itu 'kan karena ada masalah. Sel-sel otaknya banyak yang mati, jadi mengganggu pola tidurnya. Umur yang bertambah memang membuat tubuh akan melisut. Akan terjadi kemunduran baik secara fisik maupun faal. Rambut memutih, tulang mengeropos, dan begitu juga otaknya."

Karena otak berhubungan dengan setiap bagian lain tubuh, olahraga fisik juga menjadi bagian tidak terpisahkan dalam memelihara otak agar selalu dalam kondisi puncak. Aktivitas intelektual macam berdebat dan memainkan permainan strategi seperti catur dan "Go" merupakan olahraga otak yang sangat baik.
Belajar juga salah satu cara untuk memelihara - bahkan dapat meningkatkan kemampuan otak. Jangan puas dengan karir yang dicapai hari ini. Jika memungkinkan, Samino menyarankan agar terus ditingkatkan. Prinsipnya no time for loose sebab sel-sel otak itu hanya mengenal hukum use it or loose it.

Optimalkan bersama ALISSA

Untuk mengoptimalkan otak, dalam bukunya Manajemen Kecerdasan, Taufiq Pasiak - dosen Anatomi Sistem Saraf Pusat Universitas Sam Ratulangi, Manado - menjabarkan enam cara yang untuk memudahkan disingkat menjadi ALISSA (Amankan, Latihan fisik, Informasi dan gizi, Santai, Sosialisasi, Aku mencintai).

Apa maksud itu semua, mari kita kupas lebih dalam.

Amankan, maksudnya selalu melindungi otak. Meski dijaga berlapis-lapis struktur - termasuk adanya cairan yang berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) - otak sangat rentan terhadap penyakit dan trauma fisik. Waspadai penyakit ringan - macam flu - yang dapat berpotensi merusak otak kalau tidak diantisipasi dengan baik. Trauma lahir juga dapat merusak otak dan menghambat perkembangan, termasuk perawatan bayi yang tidak semestinya.

Latihan fisik penting, tapi bukan satu-satunya cara membuat otak menjadi kuat sebagaimana didengungkan oleh mereka yang tidak melatih otak. Latihan fisik hanya melatih sedikit daerah sensorik otak dan semua daerah motorik.

Latihan fisik paling baik jika melibatkan dua bagian tubuh, kiri dan kanan, secara seimbang, terutama jika jari-jemari dilibatkan secara intens. Dari semua bagian motorik tubuh, jari-jemari dan lidah memiliki daerah pengaturan yang paling besar di otak.

Segala informasi, terutama yang baru dan unik, serta makanan bergizi punya peran penting pada pembentukan dan pengayaan sinaptik pada sel-sel saraf. Zat gizi seperti omega-3 dan omega-6 dapat menguatkan fungsi sel saraf sebagai penguat (booster) bagi dirinya sendiri. Yang jauh lebih penting, memberikan ASI kepada bayi, sebab kandungan DHA-nya lebih baik dan lebih banyak dibanding susu formula.

Otak memang tak kenal istirahat. Namun konsolidasi memori antar-sel saraf akan optimal saat otot-otot tubuh istirahat tidur. Saat itulah otak sedang santai. Ada banyak cara untuk menyantaikan otak, seperti mendengar musik, menulis puisi, mencermati lukisan naturalisme, atau yang lebih teknis: meditasi. Otak yang santai dapat menjadi alat untuk self therapy.

Sosialisasi membuat semua organ perifer otak, seperti indera-indera, selalu terangsang. Bagian sentral, terutama kulit otak dan sistem limbik, dapat bekerja secara baik. Dengan mengobrol, rasa dan rasio dapat terangsang. Sosialisasi akan melatih kekuatan emosi (EQ), kemantapan spiritual (SQ), dan kecerdasan rasio (IQ).

Mencintai sangat baik bagi otak. Bawaan manusia antara lain need of affection, kebutuhan akan kasih, sayang, dan cinta, dalam kehidupan sehari-harinya. Cinta yang paling baik adalah memberi daripada menerima. Banyak penelitian otak yang membuktikan bahwa pengeluaran hormon stres dapat dihambat dengan perasaan yang penuh cinta dan kasih sayang. Tiga sifat yang sangat ampuh merusak otak adalah iri, serakah, dan sombong.

Nah, yuk kita optimalkan kinerja otak kita supaya tetap sehat :)

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)