Thursday, 11 October 2012

Pendekatan Positif Dalam Melarang si Buah Hati

Saya pernah membaca buku tentang cara yang paling efektif untuk melarang anak. Di dalam buku itu dikatakan bahwa sebaiknya orang tua menggunakan kalimat positif dalam melarang anak. Jangan berkata ‘jangan’. Tidak bilang ‘tidak boleh’. Di buku itu dikatakan bahwa kata-kata positif memiliki kekuatan untuk membuat anak merasa berguna, merasa senang, memberi harapan, dan memupuk jiwa mereka. Kata-kata positif juga menular. Anak-anak yang biasa mendengarkan orangtuanya berbicara positif, akan melakukan hal yang sama pada sekelilingnya.

Jadi, misalnya saat melihat anak hendak berbecek-becek, daripada bilang “Jangan lewat sana”, mustinya orang tua mengatakan “Hei, sepatumu musti tetap kering lho”. Saya sih bisa bayangkan segera setelah kata ‘jangan’ terucap, anak memang akan menghindari becek tapi dia akan sengaja berjalan dekat dengan becek-becek tadi karena rasa keingintahuannya yang sangat besar. Mungkin malah sedikit menyentuh becek dengan ujung sepatunya.

Anjuran lain yang saya ingat di dalam buku itu adalah menyediakan alternatif. Dalam kasus becek-becek tadi, selain kita memberi tahu anak bahwa sepatunya harus selalu kering, kita juga bisa beri pilihan. “Kita lewat sini saja ya nak,” atau “kamu mau lewat sebelah sana?”

Saya sudah mencoba anjuran di buku itu saat saya belanja bersama Kai, anak saya, di supermarket. Saat itu Kai duduk manis di trolley dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan muncul bencana. Tak lama, kami tiba di lorong susu. Kai yang tangannya punya kecepatan akselerasi yang sama dengan mobil Formula 1 menyambar susu botol hingga berjatuhan. Saya menarik nafas. Mulai berhitung dalam hati sambil menunduk untuk mengambil susu-susu yang berserakan.

Perlahan namun pasti, akhirnya saya berhasil mengkonstruksi kalimat positif di kepala. “Kai, kita jaga supaya susu-susu di rak supaya tetap rapih ya?” ucapku. Kai menjawab singkat. “Kai mau susu, Ma”. Inginnya saya jawab dengan cepat “Iya boleh, tapi kan jangan diberantakin gitu”. Saya terdiam. Selang empat kali jangkrik berbunyi di dalam kepala, akhirnya terucap dari mulut saya. “Iya boleh, Kai bilang ke Mama mau apa, nanti Mama yang ambilin”.

”Kata-kata positif juga menular. Anak-anak yang biasa mendengarkan orangtuanya berbicara positif, akan melakukan hal yang sama pada sekelilingnya”

Berhasil? Mmm... Kai memang tidak lagi menjatuhkan barang dari rak tapi secara misterius di dalam trolley saya muncul: makanan kucing (kami tidak punya kucing), satu butir jeruk, dan satu lembar papan display harga.

Well, meski tidak mudah, setidaknya, dengan berusaha membuat kalimat positif sebagai larangan, ada waktu sejenak untuk mengurangi tekanan darah yang tiba-tiba meningkat.

Selain itu, ucapan “Kai, ikannya harus dibiarkan berenang di air lho supaya tetap hidup,” kan terdengar lebih sophisticated dibandingkan dengan penampakan wajah dengan otot-otot tertarik kencang berteriak “Kaiii… ikannya jangan diambil dari aquariuuum…!!”. - Intan. Ibu dari Kai (3 tahun), Bali

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)