Wednesday, 31 July 2013

BILA BALITA RAJIN MEMBANTAH

Perubahan perilaku dari penurut menjadi pembantah pada balita 3-4 tahun, itu normal. Senang membantah orang yang lebih superior  - orangtua, pengasuh, nenek, kakak -  menurut pakar psikologi perkembangan Erik Erikson, terjadi karena anak tengah mengalami dua tahapan perkembangan. Pertama, tahap otonomi versus rasa malu dan ragu, kedua tahap inisiatif versus rasa bersalah.  
Pada tahap otonomi versus rasa malu dan ragu, anak mencoba bersikap mandiri dalam tugas tumbuh kembangnya, termasuk melatih motorik kasar dan halus. Perasaan malu dan ragu timbul bila ia merasa tidak diberi kebebasan, lantaran orangtua banyak membatasi.

Sedangkan  tahap inisiatif versus rasa bersalah adalah tahap ketika anak mulai berinisiatif mencari pengalaman baru dan  beraktivitas melalui kemampuan indera-indera. Tahap ini  membuatnya tidak mau  banyak dilarang.

Selain itu, menurut Eric, di usia 3-4 tahun anak  juga sedang menumbuhkan konsep diri -membentuk sikap- hasil penggabungan kedua tahapan di atas.  Jika anak membantah, namun hanya sesekali, itu masih wajar sebab menunjukkan adanya perkembangan kemandirian atau keinginan mengatur diri. Tetapi bila terlalu sering atau bahkan selalu, musti disiasati dengan kompromistis agar perbedaan pendapat bisa dijembatani dengan baik, dan hubungan tidak rusak gara-gara berbantahan.
  • Respon dengan humor. Jangan terpancing untuk marah, apalagi bila anak bersikeras melakukan sesuatu yang tidak berbahaya. Katakan saja, ”Oh, kamu main air supaya tanganmu bersih, ya? Tapi tanganmu bisa kedinginan dan pilek kalau dicuci berkali-kali.”
  • Tetap ingatkan kewajiban. Untuk hal-hal yang bersifat wajib, tidak ada toleransi untuk berkelit dan bebas. Ingatkan terus anak. Misalnya,  tugas membereskan mainan atau menggosok gigi, katakan dengan tegas namun tidak berteriak.
  • Gunakan psikologi terbalik. Ketika ia tidak mau membereskan mainan,  coba katakan, ”Ya, sudah, nggak apa-apa kalau kamu tidak mau membereskan mainan. Mainanmu akan ibu sumbangkan kepada anak yang rajin merapikan mainan." Dengan psikologi terbalik, anak berpikir Anda tidak peduli terhadap reaksinya. Itu akan memancingnya untuk berbuat sebaliknya.
  • Mengajak, bukan memerintah. Misal, ”Yuk, parkir sepedamu di gudang,"  lebih baik untuk ego anak daripada “Sana, simpan sepedanya di gudang!". Jangan lupa, nada suara Anda penting -tidak perlu berteriak atau membentak.
  • Terangkan dengan spesifik. Tugas yang lebih spesifik akan lebih mudah dilakukan oleh anak. Misalnya, ketika Anda ingin dia merapikan mainan, katakan, “Yuk, taruh mobil-mobilanmu di kotaknya,” bukannya perintah umum, "Rapikan mainanmu.”
  • Ajarkan anak kata-kata untuk mengekspresikan perasaan. Terkadang anak mebantah Anda sekedar untuk menunjukkan perasaan tidak senang, protes, atau marah. Cek dengan bertanya, ”Kamu marah? Apa yang membuatmu marah?" Dengarkan, sambil membantunya memilih kata-kata.
  • Jangan larang, tapi beri usul. Angie T.Cranor, Ph.D, asisten professor di universitas North Carolina, Greensboro, AS, mengatakan, daripada melarang anak melakukan sesuatu, lebih baik usulkan alternatifnya. Kalimat “Jangan lompat-lompatan di tempat tidur" dapat memancing argumentasi. Lebih baik usul, “Kita lompat-lompatan di trampolin barumu, yuk?
  • Mengalihkan perhatian. Alya senang menyemplungkan kue atau nasi ke mug ayah yang masih berisi kopi. Puluhan  kali bundanya mengatakan "jangan", tidak mempan menghentikan tindakan impulsifnya. Akhirnya, bundanya mengalihkan perhatian Alya dengan melakukan aktivitas mirip, seperti memberi makan ikan di akurium atau bermain isi-tuang  air ke gelas plastik saat Alya mandi.  Sukses!
  • Cari kata selain “jangan”, untuk mencegah aktifitas berbahaya. Misalnya, ketika anak main gunting, katakan dengan ekspresif: “Gunting itu tajam. Kalau tanganmu tergunting, ooooh, bisa berdarah dan sakiiiit sekali."  
  • Beri tahu cara yang lebih aman. Contoh, “Kamu tidak boleh menyeberang jalan sendiri, tapi boleh jika bersama bunda.” Tekankan bahwa anak boleh melakukan sesuatu dengan cara yang lebih aman. Ini memberinya pilihan, tidak sekedar melarang.
  • Jangan terlalu membatasi. Sikap over protective orangtua membuat anak memberontak lewat penolakan-yang Anda artikan sebagai membantah.

0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)