Wednesday, 9 September 2015

Mengenali dan mengambarkan emosi pada anak

Penting banget kita sebagai orang tua untuk memahami makna dari emosi. Tujuannya agar bisa mencerminkan dan juga memahami emosi anak dan tentunya mengerti apa sih yang sedang mereka rasakan. Dengan mengerti dan memahami perasaan mereka, maka akan dengan sangat mudah sekali untuk mereka berbicara dan akan lebih terbuka tentang apa yang sedang mereka hadapi. 

Mengenali dan mengambarkan emosi pada anak


Marwah juga sering sekali menunjukkan sikap marah, dan kadang saya menghadapinya dengan kesal. Namun ternyata saya salah, ketika Marwah marah itu artinya ia sedang merasakan ketidakadilan. Seharusnya saya lebih care bukannya malah balik memarahinya. Ketika Marwah marah lalu saya balik memarahinya, bukannya tenang namun ia terlihat tambah kesal dan marahnya tak juga reda, oke noted banget buat saya lain waktu kalau Marwah marah. 

Ketika Marwah sedang merasa bersalah, misalnya dia merasa melakukan kesalahan yang sebenarnya dimata saya sih biasa aja. Namun ternyata dibalik merasa bersalahnya itu sebenarnya dia sedang merasa telah berbuat tidak adil terhadap orang lain. Dengan begitu, besarkan hatinya adalah yang terbaik. 
Ketika anak sedang frustasi, artinya ia sedang melakukan hal yang ia lakukan secara berulang namun hasilnya tidak sesuai dengan apa yang ia harapkan. Artinya kita sebagai orang tua harus bisa membesarkan hati anak agar tidak pesimis. 
Anak merasa kecewa ketika apa yang diinginkannya tidak bisa terwujud. Memang, sebagai orang tua ga boleh banget tuh segala - gala nya nurutin kemauan anak. Namun juga ada masa dimana kita harus peka terhadap anak. 
Marwah pernah kehilangan mainan kesayangannya, sedih? iya dia sedih sekali. Perasaan sedih akan timbul ketika kehilangan sesuatu. Penanganannya cukup hibur, jangan juga menjanjikan akan membelikan mainan baru, banyak jalan menuju roma deh. Hibur anak tidak harus dengan membelikan yang baru kan?
Anak akan nurut dengan apa yang kita ucapkan ketika kita sebagai orang tua mau menerima dan memahami anak. Hati mereka akan terbuka, bahkan kita akan dipersilakan untuk berkunjung pada palung hatinya yang paling dalam. Maka dalam palung hati anak itu, titipkan pesan kebaikan, masukan yang positif dan arahan yang hebat demi masa depannya. 
Butuh banyak waktu untuk melakukan ini, saya harus mampu memasuki palung hati Marwah dan menitipkan pesan kebaikan disana. Bukankah semua butuh proses? Mari berproses dengan baik agar hasilnya nanti baik pula, :). 

Bandung yang sedang mendung namun tak juga hujan

Tian Lustiana 


4 comments:

  1. postingan oke nih teh Tian soalnya saja juga rasakan pentingnya mengenal emosi dengan cara empati dan komunikasi. hmm, alasan terbesar saya menghindari si anak tantrum tanpa alasan jelas teh.. ^^

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, kadang demi menghindari tantrum anak ya sudah lah kita iya in aja. Kadang saya juga masih gitu kok, perlahan sekarang udah berangsur berubah heheh :D

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)