Wednesday, 13 January 2016

Kesabaran Dalam Mendidik Anak

7 tahun 7 bulan, saya menjadi orang tua. Yah, usia Marwah sebentar lagi genap 8 tahun dan artinya perjuangan saya sebagai seorang ibu akan semakin penuh rintangan. karena mendidik anak itu ternyata bukanlah perkara mudah, ada rintangan dan halangan yang harus kita lalui, penuh perjuangan. Yang paling penting untuk saya adalah memupuk rasa sabar, ini yang lumayan susah. 



Setuju dong bahwa dalam pengasuhan dan mendidik anak itu yang paling utama adalah kesabaran, selain ilmu? Bayangin aja, dari subuh ampe subuh lagi kita berhadapan dengan tingkah anak yang emang lucu sih namun kadang suka bikin migren dan mengusap dada *dada sendiri yah, jangan dada orang lain*, huhuh. Tapi ya itulah seni menjadi ibu, senangnya ketika saya dulu merasakan hangatnya "ompol" Marwah, ah kadang saya kangen menimang Marwah kecil dulu, sekarang dia sudah menjadi gadis kecil. 


Seiring bertumbuhnya Marwah, seiring itu pula lah kematangan pola pikir dan kesabaran saya ikut bertumbuh, meski masih dalam fase naik turun terutama untuk kesabaran. Ketika emosi memuncak sampai ujung kepala dan dada ini serasa penuh dengan amarah, yang saya butuhkan hanya sendiri dan diam. Karena jika dipaksakan untuk terus berhadapan dengan Marwah takutnya saya lepas kontrol dan malah melakukan tindakan diluar kesadaran, jadi sekarang Marwah sudah tahu yah kalau ibu lagi diam dan menghindar itu tandanya ibu sedang kesal. Ketika saya sedang emosi, sekarang Marwah suka langsung menghampiri dan memeluk serta mengakui kesalahannya, seketika juga hati saya hilang beban, ah sayang terimakasih telah memahami ibu. 

Ketika marah, kesal dan emosi yang paling dibutuhkan emang pikiran yang jernih, jadi amarah pun tak serta merta menguasai kita. Seperti hadist ini : 

”Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Sesungguhnya semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak ada kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mendapatkan kesenangan maka dia pun bersyukur, maka hal itu adalah kebaikan untuknya. Apabila dia tertimpa kesulitan maka dia pun bersabar, maka hal itu juga sebuah kebaikan untuknya.” (HR. Muslim [2999] lihat al-Minhaj Syarh Shahih Muslim[9/241])
Anak adalah ujian untuk para orang tua, apakah orang tua mampu sabar dalam mendidik dan membesarkan anak. Karena sebagai orang tua, saya ingin ketika Marwah dewasa nanti ia akan terbiasa dan terdidik untuk selalu berbuat baik dan menjadi muslimah yang taat pada Allah Swt. Doa yang selalu dipanjatkan adalah untaian doa yang akan menjadi investasi masa depan sang anak. 

Sabarlah untuk selalu memberikan pendidikan pada anak. Sabar ketika mengajarkan Marwah sholat, ia masih celingukan kesana kemari, namun sebagai ibu saya tidak boleh bosan dan kesal, perlahan Marwah akan mengerti. Namun itulah, kesabaran saya yang harus selalu diupgrade, hhuhuh. 

Sabar saat menjawab pertanyaan Marwah. Sejak usia 3 tahun, hmmm dari 2 tahun deng. Marwah tuh cerewet banget apa saja ia tanyakan. Pernah Marwah menanyakan kalau Allah Swt ada dimana? hmmm saya sempat bingung saat itu, kalau saya jawab ada di atas takutnya yang di atas dia sebut Allah, kalau saya bilang ada dimana - mana takutnya Marwah mengartikan Allah itu banyak, maklum saat itu usia Marwah baru 3 tahun, jadi saya harus menjawab yang mampu dipahami anak dan tepat. Akhirnya saya jawab bahwa Allah Swt ada dihati setiap orang yang beriman dan bertaqwa, jadi jika kita beriman dan bertaqwa maka Allah akan senantiasa kita ingat dan ada dalam hati. Kadang suka bosen juga sih jawab pertanyaan anak, hihihi. Kadang jiper juga kalau pas Marwah nanya, saya lagi ga ngerti jawabannya, kan bahaya. Oke, saya harus lebih sabar lagi menjawab pertanyaan Marwah. 

Jadilah pendengar dan teman yang baik. Kadang kalau sedang banyak kerjaan nih, begitu di rumah saya buka laptop dan Marwah sambil cerita, kok jadi ga konsen sama kerjaan. Haha karena kalau cerita Marwah tuh harus sambil dipelototin dengan seksama, tidak boleh berkedip kalau bisa. Hahaha. Tapi saya bersyukur kalau Marwah senang bercerita, artinya dia terbuka. Setiap hari dia menceritakan apa saja yang ia lakukan di sekolah, dan siapa saja temannya yang begini dan begitu. Ketika Marwah bercerita, saya mendengarkan dulu lalu kemudian saya berikan komentar yang diselipi nasihat. 

Perjalanan saya masih panjang, sangat panjang untuk selalu mendampingi dan mendidik Marwah. Banyak ilmu, hadis dan lainnya yang perlu saya pelajari. Berdoa dan ikhtiar melakukan yang terbaik untuk mendidik Marwah, semoga Marwah menjadi anak solehah ya nak, menjadi penerang bagi semua dan kebanggaan ayah, ibu dan keluarga. Sehat terus yaaa. 



With love,




8 comments:

  1. Semangat Mak, memang perlu kesabaran menghadapi anak-anak ya. Tapi nanti kala mereka dewasa dan sibuk dengan urusannya sendiri2 kita akan rindu masa2 itu :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. bener banget mak WInda, makanya saya sedang belajar untuk menikmati masa indah ini heheh

      Delete
  2. Mau tidak mau.. kita hrs menjawab pertanyaan dgn bahasa yg paling mudah ia pahami ya mba.. sy selalu memilih mencari jawaban terbaik dan jujur ketimbang hrs bohong atau menghindar. Sy takut dia bertanya kpd org lain yg jawabannya ngawur. Stok sabar memang hrs melimpah.. smangat mba

    ReplyDelete
    Replies
    1. Bener sekali, bahasa yang mudah dipahami dan dimengerti anak plus jangan sampai anak bertanya pada orang lain dan menemukan jawaban ngawur, thanks sharingnya mbak Ruli

      Delete
  3. semangattt
    emang butuh banyak stok sabar yaa
    sama kayak aku raffi nanya terus pdhl lagi capek atau ga enak badan :") dan lain2...semangattt

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iya, mungkin buat anak ibu itu kamus berjalan atau wikipedia berjalan kali yah, sehat terus ya mak

      Delete

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)