Friday, 19 May 2017

Jika Anak Bermusuhan Dengan Temannya

Suatu saat, pulang sekolah. 

"Bu, aku musuhan sama temen." 

Kemudian besoknya. 

"Bu, aku udah ga musuhan lagi, udah saling minta maaf." 


Ibu hanya bisa tersenyum sambil narik nafas panjang deh, huh. Ketika Marwah ngomong musuhan, dijutekin dan curhatan - curhatan lainnya kadang ibu merasa gimana gitu, sedih, marah dan kecewa. Namun ibu berpikir kembali, ah dulu pun saya seperti itu, ketika seusia Marwah sayapun mungkin seperti itu, bermusuhan sama temen, baikan lagi dan musuhan lagi. Realita anak - anak kali yah. 

Marwah, kenal musuhan semenjak masuk sekolah dasar, well mungkin karena pada fase usia itu sosialisasi Marwah kian bertambah dengan berbagai karakter, jadi kadang tidak seiya sekata dengan karakter temannya yang lain, maklumi saja? Apa gimana? 

Dalam permusuhan antara anak dengan anak lagi, sebagai orang tua lebih baik hanya memberikan masukan saja pada anak, beri pengertian pada anak jadi enggak boleh turun langsung ikut campur menyelesaikan masalahnya. 

Saya, sebagai ibunya Marwah nyaris tidak pernah ikut menyelesaikan masalah Marwah dengan teman - temannya jika Marwah bilang ia sedang bermusuhan, paling ya cari aman curhat sama ibu gurunya, biar gurunya ikut memantau juga. Kenapa sih saya ga langsung negur anak - anak yang bermusuhan? Niat saya sih ingin membuat Marwah bisa ngambil keputusan sendiri dan bisa menyelesaikan masalahnya sendiri, selama emang musuhannya dalam konteks yang biasa saja. 

Ketika Marwah curhat bahwa ia sedang bermusuhan, biasanya saya tanya kenapa dulu, saya tanyakan alasannya bermusuhan apa, apa sih penyebab bisa sampai musuhan gitu, karena kan takkan ada asap kalau gak ada api. Nah, baru deh setelah saya tahu alasannya kasi deh masukan - masukan yang masuk diakal Marwah, saya bilang " neng, ga boleh loh musuhan. Neng harus minta maaf, karena kalau musuhan lebih dari tiga hari, dosa." 

Menurut seorang psikolog Dr. Rose Mini MPsi, bilang bahwa pada fase awal perkembangan anak ada yang disebut dengan egosentris, itu adalah fase dimana semuanya berkiblat pada anak, jika ada anak yang melakukan sesuatu maka anak yang satunya akan melakukan hal yang sama. Perlahan, dengan seiring waktu berjalan anak akan menyadari sendiri kok bahwa dalam kehidupan ini ada orang lain, dan anak akan mulai belajar tenggang rasa.


Permusuhan pasti banyak deh faktornya. 

Belum bisa menerima perbedaan pendapat

Mungkin salah satunya adalah Marwah belum bisa menerima adanya beda pendapat dengan temannya, jangankan anak - anak, orang dewasa juga kalau yang belum bisa menerima pendapat berbeda suka debat dan akhirnya juga musuhan, ya kan? Selain itu, kurangnya empati juga bisa menjadi penyebab anak bermusuhan. 

Pola asuh 

Pola asuh kita sebagai orang tua juga bisa menjadi sponsor utama loh. Kadang anak yang sejak kecil selalu dimanjakan, dituruti maunya akan menjadi anak yang begitu juga ketika berinteraksi dengan temannya, kalau temannya tidak mau mengikuti instruksi nya maka akan terjadi permusuhan. 

Saya, sebagai orang tualah yang seharus mampu melatih hubungan interpersonalnya Marwah. Sejak Marwah kecil sih sudah saya biasakan seperti melatih Marwah untuk antri. Antri bisa mengajarkan anak bahwa ada masa dimana kita harus memberikan kesempatan untuk orang lain dulu, baru kita dan alhamdulillah Marwah sudah bisa paham kalau itu. Kemampuan kognitif Marwah kan masih terbatas ya jadi ya saya lah yang wajib membantunya untuk bisa mengasah kemampuannya lagi agar lebih baik.  Saya pun tak segan menyuruh Marwah untuk selalu meminta maaf, sengaja atau tidak. 

Sebagai ibu, saya ternyata salah 

Ya, saya akui bahwa salah salah jika saya menyudutkan Marwah ketika Marwah bermusuhan dengan temannya. Saya salah ketika saya bilang " Ah neng nya kali yang nakal." Saya telah melakukan kesalahan. Seharusnya saya tidak berkata seperti itu, seharusnya saya tidak menyudutkan Marwah. Saya sebagai orang tua harusnya menggali saja penyebab dari permusuhan itu, mengajak anak untuk berkomunikasi sampai menemukan pemecahan masalahnya. Yang penting sih menurut saya anak bisa belajar berkomunikasi dengan pertengkaran, jadi anak bisa menyelesaikan masalah sendiri. 

Dan ini adalah kondisi dimana saya sebagai ibu harus berkepala dingin 

Kondisi ini saya artikan sebagai masa konflik. Saya harusnya bersikap tenang, meski kadang saya suka sedih. Jika permusuhan ini disebabkan konflik yang biasa saja ya saya enggak boleh turun tangan ikut menyelesaikan masalah. Dan yang saya lakukan bicara dengan pihak sekolah untuk ikut memnatau saja jangan sampai masalahnya berlarut.

Buat saya, permusuhan anak - anak itu enggak selamanya negatif sih, ada pelajaran yang bisa dipetik juga. Marwah jadi bisa menjalin komunikasi yang baik itu gimana agar konflik tidak berkepanjangan.

Kontrol emosi anak adalah salah satu cara yang bijak menyikapi masalah ini, memberikan contoh bagaimana cara meredam emosi, diam sejenak dan tarik nafas atau diam saja. Lakukan bertahap dan perlahan, lama kelamaan juga akan terbiasa mengontrol emosi dengan baik. 


Nah kalau ibu - ibu lain jika anak curhat musuhan sama temennya gimana? Sharing yuk.


With Love,


Ibu




1 comment:

  1. Akmal belum sampai pada tahap bermusuhan. Belum terlalu kenal konsep musuh. Tapi, Akmal pernah dimusuhin sama orang tua temannya karena Akmal itu kan aktif banget Teh. Kelihatan dari raut mukanya kalau Akmal main ke rumah temannya, raut muka orang tua si anak seperti tidak suka.

    Hiks.

    Aku jadi suka ngelarang Akmal main sama anaknya dia. Kalau sama anaknya sih sebenarnya gak ada masalah, cuma sama ortunya aja.

    Atau gimana ya Teh, ada solusi/pencerahan gak, baiknya gimana?

    Maaf numpang curhat.. hehehe :D

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)