Tuesday, 12 December 2017

Tenyata Belanja Saat Harbolnas Di Bukalapak Ada Fakta Psikologinya Loh!


Belanja itu sepertinya sudah menjadi kebiasaan ya, pria ataupun wanita ga lepas dari kesenangan untuk berbelanja, semacam pemborosan gitu. Untuk pecinta shopping  ada yang selalu dinantikan misalnya di toko online terpercaya seperti di Bukalapak, harbolnas Bukalapak merupakan salah satu momen yang paling ditunggu sebab saat hari belanja online nasional tersebut konsumen akan bisa membeli barang yang dijual di Bukalapak dengan harga yang jauh lebih murah karena banyaknya promo seperti potongan harga.


Berdasarkan pada teori psikologis mengenai perilaku pembeli ataupun pelanggan misalnya yang ada di Bukalapak, terdapat 3 cara pendekatan pokok, yaitu:

  • Ekspreimental: Pendekatan ini memusatkan perhatian ke eksistensi fisiologikal atau pada kebutuhan tubuh sebagai kekuatan yang motivational eksperimen yang dilakukan terhadap manusia.
  • Klinikal: Rangsangan yang dimulai dari analisis dasar sebab sewaktu-waktu rangsangan tersebut dimodifikasi oleh kekuatan sosial.
  • Gestalt: Disebut juga sebagai psikologi sosial yang menganggap individu dan lingkungannya sebagai keseluruhan yang tidak dapat dibagi dan perilaku ini mengarah ke berbagai jenis tujuan.

Adanya harbolnas Bukalapak dengan banyaknya promo belanja seperti cashback, potongan harga, promo misalnya beli 2 gratis 1 ataupun gratis ongkos kirim, menyebabkan tidak sedikit konsumen yang gila belanja untuk menikmati promo tersebut. Gila belanja atau yang biasanya dikenal sebagai shopaholic ini menderita obsesif kompulsif dimana orang tersebut nyaman jika mewujudkan keinginannya dengan tindakan yaitu dengan belanja. Cara untuk mengatasinya adalah pastikan jika Anda mampu membatasi diri sendiri seperti membuat rancangan keuangan, menyesuaikan budget sebelum belanja.



Terdapat ciri-ciri shopaholic yang harus Anda perhatikan agar Anda tidak menjadi salah satu yang gila belanja yaitu:

  • Sering berbelanja barang yang tidak ada dalam rencana atau membeli barang yang diluar daftar barang yang akan dibeli. Membeli barang yang tidak terencana tersebut biasanya terjadi saat ada promo seperti adanya sale.
  • Memperbaiki mood sebagai pengalihan masalah dengan belanja misalnya karena Anda sedang sedih ataupun saat sedang frustasi.
  • Menyesal setelah belanja apalagi saat mendapati keuangan Anda semakin menipis.
  • Tidak bisa untuk menahan keinginan berbelanja walaupun Anda sedang terlilit hutang bahkan tidak jarang yang rela berhutang agar bisa belanja.
  • Sering berbohong mengenai banyaknya uang yang digunakan untuk belanja.
  • Belanja adalah hobi atau aktivitas yang mutlak.
Karena saat harbolnas Bukalapak banyak potongan harga ataupun promo yang lainnya, tidak heran jika ada pelanggan atau pembeli yang membeli dengan berlebihan. Impulsive buying yang dilakukan oleh konsumen ini bisa disebabkan karena banyak hal dan salah satu diantaranya adalah tekanan seperti sedang stress. 


Jika dilihat dari segi gender, wanita mempunyai tendensi yang lebih tinggi untuk melakukan impulsive buying dibandingkan dengan pria. Hal ini disebabkan karena wanita cenderung untuk melakukan sesuatu dengan sisi emosional dan faktor ‘hubungan dekat’ atau sudah kenal dengan orang yang menjual barang tersebut sedangkan bagi pria sendiri, mereka cenderung melihat dan memilih barang yang berguna untuk dirinya sendiri. Jika dilihat dari rentang usia, usia 18-39 tahun merupakan usia yang rentan untuk mengalami impulsive buying. Alasannya adalah karena usia muda dinilai merupakan masa dimana orang tidak merasakan cemas saat menghamburkan uang dan masih memiliki kontrol diri yang rendah. Tidak heran jika remaja dan ibu rumah tangga lebih menghabiskan waktunya untuk berbelanja online di saat waktu luang atau saat ingin sesuatu.


Selamat berburu whistlist belanjaan dan jangan lupa nego sampe dapet ye! 


0 komentar:

Post a Comment

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)