Wednesday, 28 November 2012

Kinerja Otak Anak Berawal dari Gizi

saat marwah menjadi juara mewarnai dikelas

selalu ceria

imajinasi yang tinggi

Kinerja otak sangat ditentukan oleh aneka zat gizi yang dikonsumsi anak.

Setelah lewat masa ASI eksklusif selama 6 bulan, bayi mulai diberi makanan pendamping ASI (MP-ASI). Tujuannya agar tubuh bayi selalu memperoleh berbagai zat gizi dalam jumlah yang sesuai.

Secara umum, semua zat gizi  diperlukan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan sel-sel otak anak. Namun, ada beberapa zat gizi yang secara  khusus  mempengaruhi kerja otaknya 

Cukupi kebutuhan. Seiring dengan pertambahan usianya, anak Anda akan semakin terampil. Misalnya, setelah anak Anda melewati satu tahun pertamanya, dia sudah mulai bisa berjalan. Kemampuan ini merupakan hasil dari keterampilannya dalam mengoordinasikan gerakan kepala, tubuh, tangan, dan kedua kakinya untuk melangkah, setapak demi setapak. Semua itu tentu tak lepas dari hasil perkembangan berbagai bagian otaknya.

Nah, agar proses tumbuh-kembang anak, termasuk tumbuh-kembang otaknya, berjalan optimal, maka seluruh jenis zat gizi yang dibutuhkan tubuhnya harus selalu dipenuhi. Itu sebabnya, pemberian MP ASI pun sebaiknya sehat, bergizi seimbang dan bervariasi. 

Dengan demikian, tubuh bayi mendapat asupan  karbohidrat, lemak, protein, serat, vitamin dan tak ketinggalan mineral dengan baik. Selain itu, jenis makanannya juga harus  sesuai dengan tahap keterampilan makan yang sudah dicapai bayi
Share:
Read More

Tuesday, 27 November 2012

Agar Ibu Bekerja Tetap Dekat dengan Anak di Rumah





Biaya hidup yang semakin tinggi akhir-akhir ini, mendorong banyak pasangan orang tua yang bekerja untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Peran Ibu di rumah, kini digantikannoleh pengasuh atau nenek,,hihih kalau aku sih di titipin mamahkuyang adalah neneknya marwah. Akibatnya, Marwah cenderung lebih dekat dengan mamahku daripada dengan aku sebagai ibu kandungnya.

Cuek, menangis saat digendong, tak mau diajak bermain, selalu mencari nenek saat sedih atau menangis adalah beberapa contoh sikap balita yang tidak dekat dengan ibu kandungnya. Sebenarnya hal ini tidak perlu terjadi bila Ibu memiliki kualitas kedekatan yang baik dengan buah hatinya.

Ada banyak cara yang bisa dilakukan ibu yang bekerja agar tetap dekat dengan si anak, antara lain:

1. Sempatkan memandikan anak di pagi hari sebelum berangkat kerja. Selain menjalin kedekatan, anakpun akan terbiasa bangun pagi sedari balita.

2. Bila jarak kantor tidak terlalu jauh dan masih ada waktu luang, ada baiknya jika Anda membiasakan sarapan bersama di meja makan. Dengan begitu, Anda masih sempat menyuapi dan bercengkrama dengan balita di rumah.Hiks namun cara ini aku tidak bisa karena letak rumah mamah sama aku lumayan jauh sih.

3. Di sela-sela waktu luang di kantor, cobalah sesekali menelponnya di rumah. Walaupun ia masih menggunakan bahasa bayi, setidaknya dapat bercakap-cakap dan membuatnya mengenali suara Anda. Disamping itu, Anda pun bisa memantau keadaannya di rumah.Yess aku sering melakukan ini utk sekedar menanyakan sedang apa Marwah?.

4. Sepulang kerja, cobalah untuk sekadar menggendong atau mengajaknya bermain. Jangan pernah gengsi bertingkah manja atau berakting sebagai teman bermainnya. Biasanya anak-anak lebih suka pada orang tua yang mau memahami dunia mereka.Situasi seperti ini jarang bisa aku ekplorasikan dengan Marwah,karena sepulang kantor aku langsung kuliah,,tapi jika kuliah sedng kosong aku selalu bermain bersama Marwah dan peran yang Marwah suka adalah dia sebagai princess cinderella...

5. Jangan pernah pelit memberi pujian pada anak yang sudah berkelakuan baik. Terlalu banyak larangan, malah membuat mereka tidak lagi bisa membedakan mana yang berbahaya dan mana yang tidak disukai oleh orang tuanya.

6. Mengantarnya tidur sambil membacakan dongeng merupakan proses pendekatan yang paling disukai anak. Selain itu, mendongengkan anak juga berperan dalam proses perkembangan kognitif anak, terutama daya imajinasinya.

7. Jika sampai di rumah sudah terlalu larut, sempatkan mampir ke kamarnya untuk sekadar memeluk dan menciumnya.

8. Di akhir minggu, sekadar mengantar sekolah dan menungguinya selama beberapa saat akan membuat anak merasa bangga dan lebih dekat dengan orang tuanya.

9. Bersama-sama melakukan permainan yang disukai anak seperti bersepeda, berenang, bermain pistol air, atau sekadar bersenda gurau akan meningkatkan keintiman orang tua dan anak.

Ternyata bekerja dengan seabrek aktifitas bukan alasan untuk tidak bisa menjadi kebanggaan anak bukan?Yuk besarkan anak dengan cinta dan kasih sayang,dan jangan pernah mengajarkan anak dengan sesuatu yang diluar nalarnya...

with love,,,
ibunya marwah
Share:
Read More

Perkembangan anak di usia 4-5 tahun


Ketika si buah hati memasuki rentang usia 48-60 bulan, umumnya perkembangan dan stimulasi yang ada akan dangat pesat sekali. Jika asupan gizi dan nutrisi si kecil cukup, pada rentang usia ini bayi akan menunjukkan kegiatan yang menggemaskan sekaligus membanggakan hati, seperti:
  • Berdiri 1 kaki dalam 6 detik
  • Melompat-lompat dengan 1 kaki
  • Menari
  • Menggambar tanda silang
  • Menggambar lingkaran
  • Menggambar orang dengan 3 bagian tubuh
  • Mengancingkan baju atau pakaian boneka
  • Menyebut nama lengkap tanpa dibantu
  • Senang menyebut kata-kata baru
  • Senang bertanya tentang sesuatu
  • Menjawab pertanyaan dengan kata-kata yang benar
  •  Bicaranya mudah dimengerti
  • Bisa membandingkan / membedakan sesuatu dari ukuran dan bentuknya
  • Menyebut angka, menghitung jari
  • Menyebut nama-nama hari
  • Berpakaian sendiri tanpa dibantu
  • Menggosok gigi tanpa dibantu
  • Bereaksi tenang dan tidak rewel ketika ditinggal ibu.


Perkembangan Motorik atau Gerak Kasar 
Stimulasi yang perlu dilanjutkan: dorong anak main bola, lari, lompat dengan 1 kaki, lompat jauh, jalan di alas papan sempit/permainan keseimbangan tubuh, berayunayun dan memanjat. (baca : Perkembangan & Stimulasi Anak Usia 36-48 bulan).
Lomba karung
Ambit karung/train sarung yang cukup lebar untuk menutup bagian bawah tubuh dan kedua kaki anak. Tunjukkan pada anak dan temantemannya cars memakai karung dan melompat-loin Pat, siapa yang paling cepat/dulu sampai garis tujuan.
Main engklek
Gambar kotak-kotak permainan engklek di lantai. Ajari anak dan teman-temannya cara bermain engklek.
Melompati tali 
Pada waktu anak bermain dengan teman sebayanya, tunjuk 2 anak untuk memegang tali raffia (panjang 1 meter), atur jarak dari tanah, jangan terlalu tinggi. Tunjukkan kepada anak cara melompati tali dan bermain “katak melompat”.
Perkembangan Motorik atau Gerak Halus 
Lanjutkan stimulasi: ajak anak bermain puzzle, menggambar, menghitung, memilih dan mengelompokkan, memotong dan menempel gambar. (baca : Perkembangan & Stimulasi Anak Usia 36-48 bulan).
Konsep tentang “separuh atau satu”
Bila anak sudah bisa menyusun puzzle, ajak anak membuat lingkaran dan segi empat dari kertas/karton, gunting menjadi dua bagian. Tunjukkan pada anak bagaimana menyatukan dua bagian tersebut menjadi satu bagian.
Menggambar
Ketika anak sedang menggambar, mints anak melengkapi gambar tersebut, misal: menggambar baju pada gambar orang, menggambar pohon, bunga, matahari, pagar pada gambar rumah, dan sebagainya.
Mencocokkan dan menghitung 
Bila anak sudah bisa berhitung dan kenal angka, buat 1 set kartu yang ditulisi angka 1-10. Letakkan kartu itu berurutan di alas meja. Minta anak menghitung benda-benda kecil yang ada di. rumah seperti: kacang, batu kerikil, biji sawn dan fain-fain, sejumlah angka yang tertera pada kartu. Kemudian letakkan benda-benda tersebut di dekat kartu angka yang cocok.
Menggunting
Bila anak sudah bisa memakai gunting tumpul, ajari cara menggunting kedas yang sudah dilipat-lipat, membuat suatu bentuk seperti rumbai-rumbai, orang, binatang, mobil dari sebagainya.
Membandingkan besar/kecil, banyak/sedikit, berat/ringan
Ajak anak bermain menyusun 3 buah piring berbeda ukuran atau 3 gelas diisi air dengan isi tidak sama. Minta anak menyusun piring/gelas tersebut dari yang ukuran kecil/jumlah sedikit ke besar/banyak atau dari ringan ke berat. Bila anak dapat menyusun ketiga benda itu, tambah jumlahnya menjadi 4 atau lebih.
Percobaan ilmiah 
Sediakan 3 gelas isi air. Pada gelas pertama tambahkan 1 sendok teh gula pasir dan bantu anak ketika mengaduk gula tersebut. Pada gelas kedua masukkan gabus dan pada gelas ketiga masukkan kelereng. Bicarakan mengenai hasilnya ketika anak melakukan “percobaan” ini.
Berkebun
Ajak anak menanam biji kacang tanah/kacang hijau di kaleng /gelas aqua bekas yang telah diisi tanah. Bantu anak menyirami tanaman tersebut setiap hari. Ajak anak memperhatikan pertumbuhannya dari hari ke hari. Bicarakan mengenai bagaimana tanaman, binatang dan anak-anak tumbuh/bertambah besar.
Perkembangan Aspek Bicara dan Bahasa
Lanjutkan stimulasi (baca : Perkembangan & Stimulasi Anak Usia 36-48 bulan):
    • Buat anak mau bertanya dan berceritera tentang apa yang dilihat & didengarnya.
    • Dorong anak sering melihat buku. Buat agar ia melihat anda membaca buku.
    • Bantu anak dalam memilih acara TV, batasi waktu menonton TV maksimal 2 jam sehari. Dampingi anak menonton TV dan jelaskan kejadian yang baik dan buruk. Ingat bahwa acara dan berita di TV dapat berpengaruh buruk pada anak.
Belajar mengingat-ingat
Masukkan sejumlah benda/mainan anak ke sebuah kantung. Minta anak memperhatikan anda ketika anda mengambil 3-4 macam benda kecil/dari kantung tersebut. Letakkan di atas meja dan minta anak menyebut nama benda/mainan satu persatu.
Kemudian, minta anak menutup matanya, dan ambil salah satu benda tadi. Tanyakan kepada anak benda apa yang hilang. Bila ia sudah menguasai permainan ini, tambahkan jumlah benda yang diletakkan di meja.
Mengenal huruf dan simbol 
Tulis nama benda-benda yang ada di ruangan pada sepotong kertas kecil. Kemudian tempel kertas tersebut pada setiap benda, misainya: tulisan meja ditempel di meja, tulisan buku, bungs, bantal dan sebagainya. Minta anak menyebutkan tulisan di kertas tersebut. Ajari anak mengenali tanda-tanda di sepanjang jalan.
Mengenal angka 
Bantu anak mengenali angka dan mulai berhitung. Ajak anak bermain kartu, gunakan kartu angka 2-10.
Membaca majalah 
Kumpulkan majalah anak (bekas) atau bila mungkin berlangganan majalah anak. Bacakan dan ajak anak melihat majalah tersebut. Bila berlanggganan lakukan secara teratur setiap penerbitan majalah itu.
Mengenal musim
Bantu anak mengenal musim hujan dan kemarau. Bicarakan apa yang terjadi pada kedua musim itu, pengaruhnya terhadap tanaman, binatang dan alam sekitarnya.
Buku kegiatan keluarga 
Ajak anak membuat buku kegiatan keluarga dengan mengumpulkan foto/gambar anggota keluarga, benda-benda dari berbagai tempat yang pernah dikunjungi anak, dan sebagainya.
Mengunjungi perpustakaan
Sesering mungkin bawa anak mengunjungi taman bacaan/perpustakaan anak-anak. Pinjam buku yang menarik perhatian anak dan bacakan untuk anak.
Melengkapi kalimat 
Buat kalimat pemyataan ‘mengenai apa yang anda dan anak lakukan bersarna dan minta anak menyelesaikannya. Misalnya sehabis mengajak anak ke kebun binatang; “Kemarin kami pergi ke” atau sehabis mengajak anak makan mie bakso; “Makanan kesukaan adik adalah”
Bercerita “ketika saya masih kecil” 
Anak senang mendengar cerita tentang masa kecil orangtuanya dan senang bercerita tentang “masa kecil anak”. Ceritakan kepada anak masa kecil anda dan selanjutnya minta anak menceritakan masa keciinya.
Membantu pekerjaan di dapur
Katakan pada anak bahwa anda mengangkatnya sebagai “asisten” anda. Minta anak membantu memotong sayuran. menyiapkan dan mernbersihkan meja makan, dan lain-lain. Buat agar anak mau menjelaskan apa yang sedang dilakukannya. Katakan betapa menyenangkan dapat membantu sesama dan mengerjakan sesuatu dengan baik.
Perkembangan Aspek Sosialisasi dan Kemandirian
Lanjutkan stimulasi (baca : Perkembangan & Stimulasi Anak Usia 36-48 bulan):
    • Berikan tugas rutin pada anak dalam kegiatan di rumah, ajak anak membantu anda di dapur dan makan bersama keluarga
    • Buat agar anak bermain dengan teman sebayanya.
    • Ajak anak berbicara tentang spa yang dirasakan anak.
    • Bersama-sama anak buatlah rencana jalan-jalan sesering mungkin.
Membentuk kemandirian 
Beri kesempatan pada anak untuk mengunjungi tetangga dekat, teman atau saudara tanpa ditemani anda. Selanjutnya minta anak bercerita tentang kunjungannya itu.
Membuat “album” keluarga 
Bantu anak membuat album keluarga yang ditempeli dengan foto-foto anggota keluarga. Tulis nama setiap orang di bawah fotonya.
Membuat “boneka” 
Tunjukkan cara membuat “boneka” dari kertas. Gambar bagian muka dengan spidol. Agar dapat berdiri tegak, pasang lidi sebagai “rangka/badan” boneka. Atau buat “boneka” dari kaos kaki bekas. Gambar-mata, hidung dan mulut. Gerakkan jari-jari tangan anda seolah-olah boneka itu dapat berbicara. Buat agar anak mau bermain dengan temannya selain bermain sendiri.
Menggambar orang. 
Tunjukkan pada anak cara menggambar orang pada selembar kertas. Jelaskan ketika anda menggambar mata, hidung, bibir dan baju.
Mengikuti aturan permainan/petunjuk. 
Ajak anak bermain sekaligus belajar mengikuti aturan/petunjuk permainan. Pada awal permainan, beri perintah kepada anak, misalnya “berjalan 3 langkah besar ke depan atau berjalan mundur 5 langkah jinjit”. Setiap kali akan menjalankan perintah itu, minta anak mengatakan: “Bolehkah saya memulainya?”
Setelah anak bisa memainkan permainan ini, bergantian anak yang memberikan perintah dan anda yang mengatakan: “Bolehkah saya memulainya?”
Bermain kreatif dengan teman-temannya. 
Undang ke rumah 2-3 anak yang sebaya. Ajari anak-anak permainan dengan bernyanyi, membuat boneka dari kertas/kaos kaki bekas dan kemudian memainkannya. Minta anak mau menirukan tingkah laku binatang seperti yang dilihatnya di kebun binatang.
Bermain “berjualan dan berbelanja di toko”. 
Kumpulkan benda-benda yang ada di rumah seperti sepatu, sendal, buku, mainan, majalah, dan sebagainya untuk bermain “belanja di toko”. Tulis harga setiap benda pada secarik kertas kecil. Buat “uang kertas” dari potongan kertas dan “uang logam” dari kancing/tutup botol. Kemudian minta anak berperan sebagai pemilik toko, anda dan anak yang lain pura-pura membeli benda-benda itu dengan “uang kertas” dan “uang logam”. Selanjutnya secara bergantian anak-anak menjadi pembeli dan pemilik toko. []
Share:
Read More

Monday, 26 November 2012

cara mengajari anak

Duuh udah lama nih ga update blog,,hehehe sibuk urusin bisnis sana-sini pluuus tugas kuliah sama kerjaan kantor yang banyak sekali,,aiiih wonder woman banget deh ibunya neng marwah yah,,yaa begitulah pemirsa,,sibuk karena banyak yang harus aku kejar,termasuk mengejar mimpi utk memenuhi semua kebutuhan neng Marwah kelak,,supaya ga kekurangan,,aamiin mudah2an semua nya terbalas suatu saat nanti deh yaaa,,Aamiin Ya Alloh,,,

Dengan seabrek rutinitas aku yang amat2 full namun kewajiban sebagai seorang ibu harus tetap aku jalanin doong walaupun yaa anakku lebih sering di titip sama mamahku,,hihihi maklum lah jaman sekarang ga percaya deh sama baby sitter atau pembantu,disamping ga percaya juga siih sayang budgetnya,,hihihihi harus hemat niih menjelang pendidikan yang eduun biayanya.


Mayoritas kurikulum sekolah di Indonesia lebih banyak melakukan pendekatan untuk mengajari bagaimana cara menghafal pelajaran dan tidak menekankan bagaimana proses berpikir.

Padahal cara berpikir jauh lebih penting dan berguna bagi anak didik di masa datang. Itu mengapa, indikator yang sering dijadikan ukuran untuk menilai anak didik berkualitas atau tidak lebih berdasarkan kuantitas nilai yang dicapai.

Tak ayal, kita terbiasa mengukur perkembangan anak didik berdasarkan nilai lebih gampang dan jelas indikatornya dengan hadirnya rapor, rangking, ijazah dan lain-lainnya. Padahal cara seperti itu sarat dengan subjektivitas pendidik.

Namun bukan berarti faktor nilai menjadi suatu hal yang tidak penting, persoalannya hanya pada ukuran kualitas anak didik juga harus diukur berdasarkan bagaimana mereka memiliki pola berpikir.

Intelegensi dan kecerdasan antara anak yang satu dengan yang lain hampir sama. Namun yang memiliki peranan penting dalam menentukan hasil akhir manusia dalam menghadapi suatu masalah jelas sekali ialah pola berfikir. Terkait dengan perbedaan yang timbul ketika dihadapi lingkungan, semangat hidup dan kemauan untuk maju.

Salah satu sebabnya adalah perbedaan cara berpikir mereka. Dan ini sangat berkait erat dengan bagaimana para guru menanamkan bagaimana cara berpikir yang benar pada anak didik.

Tak terkecuali pula pendidik juga jangan menganggap bakat sebagai satu-satunya alat untuk melihat masa depan potensi anak didik. Sebab, ada kalanya dalam suatu kasus bakat justru menjadi penghambat kemajuan.

Kehidupan itu tidak akan bisa dihadapi hanya dengan bakat. Prakek nyata adalah solusinya. Bagaimana mungkin orang yang baru belajar berenang dua atau tiga kali, tetapi belum bisa mengatakan bahwa ia tidak berbakat? Mengapa tidak melakukannya berulang-ulang (trial & error).

Di sinilah pentingnya peran orangtua di dalam menanamkan proses berpikir dalam mendidik. Bahwa proses berpikir itu jauh lebih penting dari sekedar mengkaitkannya dengan bakat. Jarang, untuk tidak mengataan tidak ada, pendidik yang menolak hubungan antara bakat dengan pengembangan anak didik.

Pada kebanyakan kasus para pendidik maupun orang tua terjebak pada aksioma, “Oh kamu berbakat melukis” kepada anak didik yang mahir menggambar. Seharusnya kepada anak didik kita bisa mengganti pertanyaannya yang lebih motivatif dengan, “Kamu akan bisa melukis seperti teman-temanmu, sebab menggambar tidak ada kaitannya dengan bakat. Yang penting praktek dan terus belajar, semua akan bisa diatasi” kepada anak yang belum bisa melukis.
Penting sekali diingat, tanamkan bahwa semua orang punya bahan dasar intelegensi dan kecerdasan sama. Yang membuatnya berbeda ialah tergantung bagaimana mengolah bahan dasar tersebut.

Acapkali terjadi tiap anak didik yang sama intelegensinya namun pada akhirnya berbeda pada tingkat kesuksesannya di akhir nanti. Elemen alasan paling mendasarnya, orang yang lebih sukses itu berpikir dua atau tiga kali lipat dibanding orang yang tidak terlalu sukses tadi.

Penanaman pemahaman yang demikian tentunya akan lebih bermakna dan sangat berguna bagi anak didik dari sekedar menghafal pelajaran. Dampak positif lainnya adalah, anak didik yang “merasa” punya intelegensi rendah akan terpicu semangatnya mau untuk maju. Karena dengan ‘penyama-rataan kemampuan intelegensia’ tersebut, niscaya membuat mereka semakin percaya diri dan berpotensi untuk menciptakan kecerdasan yang dapat menandingi dengan teman-temannya.

Berikutnya kita perlu lebih banyak memberikan penugasan dan pelajaran yang tidak lagi menekankan pada hafalan namun tugas-tugas persoalan yang menekankan pada pengembangan proses berpikir.

Misalnya, bagaimana tanggapan anak didik terhadap permasalahan sosial yang dihadapinya. Misalnya, bagaimana sikap mereka terhadap kaum pengemis? Ini bisa dilakukan dengan model simulasi atau permainan yang menyenangkan kepada anak. Proses berikir di dalam menilai seorang pengemis akan memperlihatkan bagaimana mereka berpikir. Bukankah pengemis bagian dari masalah sosial yang suatu saat akan dihadapi anak didik?

Model seperti itu juga punya kelemahan. Kelemahan yang terasa adalah tidak semua pendidik punya wawasan luas tentang masalah tersebut. Tak jarang pendidik merasa lebih pintar dari anak didik, sehingga anak didik harus menjawab ini dan itu. Ketidaksamaan jawaban akan membuat peserta didik takut berbeda pedapat dengan pendidiknya. Ketakutan pada pendidik yang dibiarkan berlarut-larut ini tidak kondusif bagi pengembangan anak didik di masa datang, terutama sekali akan menghambat proses berpikir mereka.[]


Share:
Read More

Thursday, 1 November 2012

Tips untuk membangun harga diri anak


Harga diri atau self esteem adalah pandangan keseluruhan dari individu tentang dirinya sendiri. Membangun citra diri biasanya diawali pada masa kanak-kanak dan sangat tergantung dari apa yang dia dengar tentang dirinya dari orang lain. 

Jadi, jika seorang anak selama masa hidupnya mendengar pujian, motivasi, dan kritikan yang membangun, maka kemungkinan besar anak itu akan berkembang menjadi pribadi yang baik dan memiliki rasa harga diri yang tinggi. Di sisi lain, jika anak selalu dikritik, diperlakukan kasar dan tidak pernah diberikan penghargaan atas prestasi kecil yang dia dapat, maka anak cenderung tumbuh menjadi pribadi yang kurang memiliki kepercayaan diri.

Membangun kepribadian seorang anak normalnya dimulai dari lingkungan rumah. Kepribadian individu mulai terbentuk pada masa kanak-kanak, sehingga orang tua mempunyai tanggung jawab besar dalam pembentukan self esteem sang anak.

Berikut adalah beberapa tips untuk membangun rasa harga diri yang tinggi pada anak, seperti dikutipLifemojo :
* Jadilah pendengar yang baik: Di tengah kehidupan modern saat ini, seringkali orang tua sulit meluangkan waktu untuk anak-anak mereka. Sesibuk apa pun, wajib bagi Anda untuk membagi waktu bersama anak-anak setiap hari.
Tinggalkan semua pekerjaan Anda, duduk dan bicaralah dengan anak Anda seperti halnya Anda berbicara dengan orang dewasa..

* Pujilah Anak Anda: Anak Anda mungkin datang kepada Anda untuk menunjukkan suatu keahlian atau hasil ujian yang diperolehnya di sekolah. Berikan pujian kepada anak Anda untuk karyanya, namun jangan berlebihan.

* Jangan bandingkan: Orang tua sering membandingkan satu anak dengan anak lain atau tetangga dengan maksud bahwa anak Anda dapat berubah dan menjadi seperti yang Anda harapkan. Namun, ini bukanlah cara yang benar karena dapat mengarah ke pembentukan perasaan rendah diri pada anak yang bersangkutan.

* Jangan mengkritik terlalu keras: Kritik yang keras selalu membawa hasil yang merugikan. Jika Anda ingin mengkritik, lakukan dengan kata-kata yang halus dan jangan sampai menyinggung perasaannya.

* Jadilah contoh: Anak-anak umumnya tidak terlalu bisa banyak mengingat nasihat dari orang tua mereka. Akan tetapi mereka cenderung mengamati perilaku dan sikap Anda. Jadi, berikanlah panutan yang baik pada anak-anak Anda.

Share:
Read More

Renungan untuk para isteri

LIHATLAH, … DIALAH SUAMIMU … (RENUNGAN UNTUK PARA ISTRI) …



WAHAI para ISTERI, ..

Pernahkah kau perhatikan lebih jauh tentang sosok perkasa yang ada dirumahmu, yang menjadi separuh nyawamu itu, dan yang menjadi teman seumur hidup bagimu untuk menghabiskan hari?
Lihatlah dia dalam tidurnya …


Tidur nyenyaknya seakan menggambarkan betapa seharian ini beliau begitu lelah guna mencukupi nafkah untukmu. Dia menyingsingkan lengannya dan mengusap keringatnya, demi dirimu untuk sebuah tercukupi. Katup sayu matanya mungkin tengah menahan derasnya air mata dalam tidur, karena jebolnya bendungan hati yang kian tergerus setumpuk masalah hidup. Tapi semua masih tertahan, karena tidak akan tega membiarkan kau dan keluargamu terlunta.


Lihatlah kaki kuat itu …
Allah yang menopang tubuh renta suamimu, yang menjadi penopang ketika harus menyusuri dunia untuk sebuah kebahagiaanmu, wahai wanita.
Bahkan seperti yang di sabdakan Nabi Muhammad salallahu alaihi wassalam, jikapun memang sesama manusia boleh bersujud, maka di kaki itu, kau harus meletakkan sujudmu dan memasrahkan tanganmu kepadanya.


Lihatlah gurat garis wajahnya …
Kulitnya yang legam dan kasar itu menandakan beratnya perjuangannya. Seakan disana terukir sebuah perjuangan yang begitu melelahkan namun menenangkan seluruh anggota keluargamu. Dengan tanpa keluh walaupun sesekali bimbang dalam melintasi, namun tetep menyediakan pundak yang kuat, dan dada yang lapang demi kau bersandar. Lihatlah gurat wajah lelah itu, yang seakan semakin rapuh dari hari ke hari namun tetap teguh demi sebuah yang bernama tanggung jawab.
LIHATLAH PARA ISTERI YANG SHOLIHAH, DIALAH SUAMIMU ..


Lihatlah tangannya …
Rasakan tangan berkulit kasar itu yang semakin hari semakin terasa kasar. Tangan itulah yang telah menyelamatkanmu menuju sebuah kehormatan dan menggandengmu pada sebuah perlindungan. Tangan inilah yang terkait dengan hati mereka dimana mereka seumur hidup menghabiskan hari harinya untuk memenuhi kebutuhan keluarga.


Lihatlah mata mereka …
Pandangan teduh itulah yang mendamaikanmu. Mengajakmu dengan lindungan dalam kekuatan mereka. Berharap kedamaian menyelimutimu, menghapus sedihmu dan kembali membawa senyum untukmu, wahai para ISTERI.

Pandangan teduh itu yang mengoyak arogansi dan kekuatan mereka demi sebuah cinta yang tulus untuk keluarga . Pandangan teduh yang juga begitu lelah.


Wahai para ISTERI, ..
betapa banyak SUAMI yang tidak dapat memejamkan mata mereka karena beratnya pikiran dan tanggung jawab mereka saat ini. Subhanallah, maka bahagiakan dan alihkan sedikit beban mereka dengan sebuah kesenangan dan kesyukuran karena kehadiranmu. Bahagiakan mereka dengan meminimalisir keluhanmu atas mereka, dan menghadirkan senyum hari- hari mereka.


Lihatlah ketulusan hati mereka …
Seorang lelaki yang dengan penuh pengayoman tulus dan pengabdian penuh, telah menghabiskan jatah umur mereka demi memegang kendali kapal rumah tanggamu. Mereka tak mengharapkan balas kecuali kesetiaanmu. Mereka tak mengharapkan puji kecuali kepandaianmu menjaga anak- anak dan kehormatan diri serta keluarga. Mereka tak mengharapkan pamrih kecuali dengan kebahagiaan, karena terjaganya pendamping yang shalihah di disisinya ..

*************

Sungguh para wanita, ridho suamimu adalah kunci surga dunia bagi dirimu dan surga akherat untuk kau dan keluargamu. Maka hargailah ..

Maka rendahkan suaramu, walaupun mungkin dalam amarahnya yang sempat memuncak. Tak apalah jika mengalahmu bisa menjadi sedikit balasan bagi kelegaan hati mereka. Allah akan tersenyum kepadamu, Allah akan ridho kepadamu, surgapun akan merindukanmu atas semua kebesaran hati dan keluasan jiwamu…


Dan … sudahkah hari ini kau memanjatkan doa untuk kemudahan jalannya , mengucapkan kata terimakasih untuknya, seraya mencium tangannya dengan penuh cinta … , berjalan beriringan bersama menuju satu tujuan , Cinta Allah Azza Wa Jalla 
Share:
Read More

Thursday, 25 October 2012

Supaya Anak Menjadi ANtusias dalam belajar

 Ibu pasti akan senang apabila buah hati memiliki kemampuan belajar yang baik. Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi dan kemampuan belajar yang sangat luar biasa. Tetapi sebagian Ibu ada yang masih sering bertanya, anak saya susah sekali ya belajar, apa yang harus saya lakukan?,,sama banget lho bu pertanyaan nya dengan pertanyaan saya,kadang anak saya Marwah suka males2an kalau disuruh belajar,Hmmm sebenarnya mungkin wajar ya, secara anak saya Marwah masih usia 4 tahun,namun saya selalu ingin yg terbaik sih,,hihihih jadi kadang suka paksa Marwah utk belajar.


Meskipun secara alami anak selalu ingin tahu dan itu berarti potensi besar untuk belajar, mereka memang masih belum bisa “dipaksa” untuk duduk manis dan belajar secara serius.Pernah lho Marwah secara sangat manis tiba-tiba bawa buku dan berkata "Bu,,aku mau belajar menggambar dan menullis dong bu,",waduh perasaan saya sangat senang lho Bu,dengan tiba2 si cantik mau belajar dan duduk manis didepan journalnya sambil tersenyum bahagia,ternyata anak juga punya inisiatif sendiri ya Bu. Karena itu, yang perlu dilakukan orang tua adalah menciptakan suasana yang ceria dan gembira sehingga si anak merasa nyaman dalam belajar, tentunya sambil bermain. Supaya anak tidak merasa bosan, sebaiknya Ibu punya banyak cara untuk merangsang anak agar selalu tertarik untuk belajar.


Tapi bagaimana dong kalau anak tetap tidak mau belajar? Hmmm setelah saya membaca berbagai artikel,membaca beberapa perilaku anak disekitar saya,,saya dapatkan beberapa tips,mudah2an bermanfaat ya Bu,,,cekkidot:


1. Kalau ia sudah mulai bersekolah (playgroup/TK), saat pulang sekolah sapa dengan sapaan manis, seperti “Hai sayang, bagaimana di sekolah hari ini, apakah menyenangkan?”. Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan di sekolah dan secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.


2. Saat anak tidur (hypnosleep), coba Ibu bisikkan di telinganya, “Makin hari, belajar makin menyenangkan ya,“ “Seperti bermain, belajar juga sangat menyenangkan,“ atau kata-kata sugesti positif lainnya dengan penuh kasih sayang.Saya udah nyoba nyata-nyata yang ini lho Bu,Takjub banget hasilnya,,hihihihi tar coba lagi aaah buat meng Hypno biar dia ga kebanyakan minum susu,,Heheheh


3. Jelaskan secara perlahan-lahan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut). Misalnya, “Kalau sudah bisa membaca, nanti saat liburan sekolah Ibu akan belikan banyak buku cerita bergambar yang bisa kamu baca sendiri”. Jangan lupa selalu memberi pujian ketika anak sudah bisa menguasai hal-hal atau pelajaran baru.


4. Jika Ibu memakai jasa guru les, mintalah supaya les pelajarannya sering-sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting daripada mengajarkan teknik membaca atau menghitung. Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru meningkatkan harga diri anak kita.


5. Membaca cerita bersama adalah cara sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca serta membuat anak mencintai buku. Sayangnya sebagian orang tua sudah tidak sempat lagi membacakan cerita atau dongeng sebelum tidur. Alangkah baiknya jika Ibu masih melestarikan kebiasaan ini.


Ibu bisa mencoba cara ini, bacakan dongeng dengan posisi memangku anak. Tujuannya, agar anak dapat turut melihat cerita yang sedang Ibu bacakan, serta dapat mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua, sehingga anak akan menilai buku sebagai hal yang menyenangkan. Untuk awal, jangan berdongeng atau bercerita terlalu lama, karena anak cepat bosan. Dan gunakan ekspresi wajah dan suara yang menarik agar ia semakin tertarik menyimak cerita.


6. Ada permainan menarik yang bisa Ibu gunakan. Cobalah menulis surat rahasia dari Ibu kepada anak. Ibu bisa berkata “Sayang, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan Ibu yang tahu isinya. Ibu letakan di bawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya”. Isinya bisa berupa kata-kata yang bisa menyemangati anak dalam kegiatan belajar di sekolahnya. Dengan begitu anak akan tahu bahwa Ibunya sangat menyayangi dan memperhatikan dia. Dan tulisan itu, membuat dia suka membaca.



okee makasih yaa Bu Sayang udah sempetin buka dan baca blog saya,,semoga bermanfaat yaaaa


kisses,
_Ibunya Marwah_
Share:
Read More

Monday, 22 October 2012

I'm proud of you dear Marwah Khumira

Senang banget,,banget banget deh,,hihihihi untuk yang ke sekian kalinya anakku menang lagi,,kali ini dapat sebagai juara favorite lho,,,bahagia rasanya kalau anak punya prestasi sendiri,seperti aku ingin memeluk anakku selamanya.... big hugg dari ibu buat ade...peyuuuk........
Marwah emang seneeeeng banget dah di foto,,apalagi ibunya yang paling demen,,hihihi jadi kita sama-sama seneng memoto dan di foto,,akuuuur banget dah,,,heheheh....


pokoknyaaa selameeet untuk yang kesekian kalinya yaaa sayaaang,,,ibu banggaaaaa bangets sama adeee
Share:
Read More

Friday, 19 October 2012

Cara Menjadikan anak Cerdas

Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua adalah; bagaimana cara terbaik untuk menjadikan balita mereka cerdassehingga nantinya bisa memiliki masa depan yang cerah? “Saya biasanya menjawab simple, yaitu mengajak mereka untuk sama-sama menstimulasiotak anak dengan cara yang menyenangkan. Karena dengan menstimulasi, kita juga bisa sekaligus mengolah otak anak dengan cara yang tepat,
Menurut World Health Organization (WHO), seorang anak, khususnya balita, harus mendapat stimulasi positif dari lingkungannya. Dengan stimulasi yang baik, balita akan mampu mengolah otak mereka sehingga kemampuan kognitif, sosial, dan perilakunya dapat berkembang dengan baik.
Cara Menjadikan anak Cerdas
Lebih jauh lagi, Ibu Lely Tobing yang juga berprofesi sebagai instruktur Brain Gym melihat hubungan pernyataan WHO dengan penelitian yang dilakukan Educational Kinesiology Foundation, dimana menyatakan ada tiga dimensi pada otak anak yang memerlukan stimulasi positif.  Pertama, ada Dimensi Lateral yang menentukan keserasian otak kanan dan kiri. Kemudian ada Dimensi Fokus sebagai penentu koordinasi saraf tubuh belakang, batang otak & bagian depan otak. Serta, Dimensi Pemusatan untuk koordinasi keseimbangan, sistem limbik, otak tengah, dan otak besar.
“Sebenarnya, tujuan utama stimulasi positif adalah merangsang otak si Kecil untuk lebih banyak berproses. Dengan diberikan stimulus, bagian-bagian otak si Kecil akan didorong untuk saling berkoneksi dan mengolah informasi yang diterima. Nah, dari sinilah sinergi pada dimensi otak si Kecil terjadi Bu. Semakin banyak si Kecil diberi stimulus, semakin sering pula dimensi pada otaknya akan saling bekerja sama.  Pada akhirnya, sinergi yang baik pun akan berpengaruh positif terhadap aspek konsentrasi, stamina, rasa percaya diri, stress, kontrolemosi, serta kemampuannya berfikir mengolah informasi baru” lanjut Lely Tobing.
Mungkin Ibu penasaran ingin tahu cara menstimulasi otak si Kecil dengan mudah dan efektif. Ternyata Bu, caranya adalah semudah mengajaknya aktifbergerak dan bermain. Mulai dari sekedar berjalan-jalan di taman, berolahraga, atau bahkan hanya dengan bermain dirumah! Sekarang ini, sudah tersedia berbagai permainan edukatif berbentuk board games (papan bermain) dengan alat peraga seperti puzzle, dan papan penyusun pola yang dapat merangsang otak si Kecil untuk bekerja.
“Seperti yang saya jelaskan diawal, menstimulasi dan mengolah otak anak haruslah dengan cara menyenangkan. Karena pada saat usia 1-6 tahun bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi seorang anak, ajaklah mereka bermain agar bisa menstimulasi dan mengolah otak mereka dengan baik,” tutup Lely Tobing yakin. Nah Ibu, sudah ketemu kan salah satu cara untuk bisa menjadikan anak cerdas? Agar stimulasi otaknya berjalan optimal, jangan lupa untuk berikan asupan nutrisi yang tepat!
Jadi tunggu apa lagi, Bu? Yuk ajak si Kecil bermain agar otaknya dapat terstimulasi dengan baik
Share:
Read More

Thursday, 18 October 2012

Cara menghadapi anak kurang ajar




Setiap orangtua tentu tidak mengharapkan anaknya mempunyai perilaku yang buruk di rumah atau di luar rumah. Tapi terkadang karena beberapa atau tanpa sebab, si kecil melakukan kenakalan atau berperilaku buruk. Di sinilah peran penting orangtua diperlukan.

Sebagai orangtua, Anda harus mendisiplinkan atau mengarahkan anak Anda ke hal yang baik. Didik mereka menjadi pribadi yang baik dan berguna. Untuk itu, kenali perilaku buruk anak yang paling umum dan bagaimana cara mengatasinya.

Berikut ada beberapa perilaku buruk anak dan cara mengatasinya. Simak baik-baik yah!

1. Ngambek atau marah-marah.
Terkadang saat ada masalah, anak-anak cenderung akan ngambek atau marah-marah. Ini adalah cara anak-anak mengungkapkan perasaannya terhadap orang lain.

Cara mengatasi: Jika anak Anda ngambek, sebaiknya Anda tidak berdiam saja. Cobalah untuk mengajaknya bicara, menghiburnya dan cari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Begitu juga jika anak Anda marah-marah, sebaiknya ajak dia bicara baik-baik. Jika sudah keterlaluan, tidak ada salahnya Anda memberinya hukuman supaya ada efek jera. Tapi pilihlah hukuman yang ringan saja. Misalnya jika dia marah dan melempar semua mainannya, Anda bisa menghukumnya untuk membereskan mainan yang dilemparnya.

2. Memukul.
Perilaku ini biasanya dilakukan anak pada teman atau adiknya saat mereka bertengkar. Ini adalah hal yang wajar, tapi jika dibiarkan begitu saja ini bisa menjadi kebiasaan buruk baginya. Segeralah untuk melakukan pencegahan.

Cara mengatasi: ajarkan kepada anak-anak Anda bahwa memukul atau melakukan tindakan kasar lainnya merupakan sikap buruk yang dapat mencelakai orang lain. Anda juga jangan pernah memukul mereka karena ini bisa menjadi contoh yang buruk. Komunikasi masih bisa digunakan, jadi jangan gunakan kekerasan.

3. Menggunakan kata-kata kasar.
Ini adalah hal yang wajar dan sering terjadi pada anak-anak. Biasanya ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan tontonannya di televisi. Anak akan mudah meniru, karena masa anak-anak adalah masa meniru.

Cara mengatasi: ketika si kecil menggunakan kata-kata kasar di hadapan Anda, lebih baik langsung memberitahunya kalau kata tersebut tidak boleh digunakan. Ajari dan beri contoh yang baik untuk anak Anda. Jangan sekali-kali Anda menggunakan kata kasar dihadapan mereka, karena bisa saja mereka menirunya.

4. Berbohong.
Anak Anda berpura-pura bermain sepanjang waktu padahal yang mereka kerjakan tidak sekedar bermain, tapi mungkin melakukan sesuatu yang Anda larang. Kebohongan kecil ini akan berlanjut menjadi kebohongan besar suatu saat nanti jika Anda diamkan.

Cara mengatasi: ajari si buah hati selalu berakata jujur. Katakan padanya, berbohong itu bukan hal yang baik. Katakan padanya berbohong itu sama saja berbuat jahat. Terus ajari anak Anda bahwa berbohong bukan hal yang baik.

5. Mencuri.
Mungkin anak Anda tidak bermaksud mencuri tapi meminjam tanpa izin. Hal ini sering terjadi pada anak saat mereka bermain dengan teman mereka. Mereka mengaku hanya pinjam tapi, yang punya mainan tidak tahu. Jika hal ini dibiarkan bisa saja anak Anda akan menjadi pencuri.

Cara mengatasinya: perhatikan perkembangan si kecil secara signifikan. Jika Anda mengetahui anak mengambil barang yang bukan miliknya, coba nasehati dan minta dia untuk mengembalikannya.

Perilaku anak semasa kecil akan berpengaruh terhadap perilakunya saat dewasa nanti. Jika Anda ingin mempunyai anak yang baik, didik anak Anda dengan baik sejak kecil.
Share:
Read More

Hadapi Balita Aktif dan Tak Mau Diam

Menghadapi balita aktif dan tak mau diam waaaah dilema sekali ya Bu,,sama seperti anak saya Marwah Khumaira yang sangat aktif dan ga mau diam,,namun alhamdulillah saya dapet nih artikel hebat yang mengulas semua keluh kesah kita Bu....cekidot


Menurut Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku “Parent Tips” dari Amerika Serikat, perilaku aktif anak-anak 2-3 tahun yang tak mau diam ini, normal. Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun bila ia menjadi terlalu aktif, bisa jadi karena pola asuh orangtua yang berlebihan memberikan perhatian dan stimulasi.

Di lain pihak, ibu dan ayah jarang membiarkan balita mengerjakan sesuatu dan memecahkan masalah sendiri. Menurut Heins, orangtua jenis ini termasuk tipe overparenting. Apa yang perlu orangtua lakukan?
Lakukan kegiatan yang seru setiap hari bersamanya dan pikirkan kegiatan kreatif. Jangan-jangan balita tidak mau diam karena ia bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ajak anak berlari di halaman, menari, mengikuti tingkah tokoh Tiger di televisi yang senang melompat-lompat.
Izinkan balita membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut sapu si Mbak, menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang.
Perhatikan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia senang memakaikan baju boneka, menyisir rambut boneka dan sebagainya.
Melihat balita tampak sangat aktif, Anda bisa mengatakan, “Sayang…, coba diam sebentar Nak.”
Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, stop kontak dan lain lain.
Waktu Main, Waktu Istirahat. Kenalkan balita kegiatan menyalurkan energi dan waktu untuk beristirahat. Jenuh bermain di dalam rumah, lakukan kegiatan outdoor: bersepeda, main ayunan, perosotan dan sepak bola. Saat bermain tetap memperhatikan aturan keamanan.
Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah.
Balita suka memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Anda dan pastikan kursinya kuat dinaiki anak.
Ajak anak berenang, ke playground atau main bola sekali seminggu.
Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya.
Jika anak suka anak anjing, beri dia anjing yang energik seperti Golden.
Share:
Read More

Mengenali Ragam sifat Anak

Kata orang, setiap anak membawa sifat masing-masing. Kata-kata ini sepertinya tak terlalu salah. Banyak memang sifat-sifat anak yang sebaiknya diketahui para orang tua. Dengan

Ada banyak sifat-sifat anak. Selain keras kepala, ada banyak lagi sifat anak yang perlu diketahui para orang tua.

1. EGOIS
Sifat egois atau keras kepala seperti Echa di atas seringkali memang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Umumnya, anak yang egois mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti semua keinginannya. Bila tidak, segala jurus ancaman pun akan ia lontarkan, dari mogok makan, tak mau belajar sampai berguling-guling di lantai.
Yang harus dilakukan:
Jangan panik bila menghadapi anak yang egois. Tak perlu marah, hadapi dengan lembut dan sabar. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghadapi anak bertemperamen keras. Yang terpenting adalah memberikan pengertian dan pengarahan. Ingat, umumnya anak-anak belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Yang ada dalam pikiran mereka adalah mengerjakan atau melakukan sesuatu hanya untuk kesenangannya. Jadi, tugas Anda sebagai orang tua adalah memberikan pengarahan dan pengertian pada si anak.

Mengenali Ragam sifat Anak

2. PERAJUK
Ciri anak perajuk adalah suka ngambek dan cenderung cengeng. Hampir sama dengan anak egois, hanya saja anak perajuk belum tentu keras kepala. Biasanya, anak akan ngambek bila orang tua kurang memberikan perhatian padanya. Misalnya, “Ma, rambut Ella bagus enggak dikuncir seperti ini?” Karena sang mama tidak memberikan komentar dan hanya menggangguk, anak pun ngambek.
Yang harus dilakukan:
Sama seperti menghadapi anak egois, menghadapi anak yang hobi ngambek juga butuh kesabaran. Jika tidak, emosi Anda sebagai orang tua bisa terpancing. Mungkin bagi kita, menggangguk saja sudah cukup, namun bagi anak lain lagi. Ia perlu action dari Anda. Anda bisa mengatakan misalnya, “Oh, bagus sekali. Coba Mama lihat kuncirnya. Hmm… ternyata anak Mama sudah pintar menguncir rambut sendiri!” Perhatian dan komentar Anda akan membuat anak senang.
Bila anak gampang merajuk, cobalah untuk membujuknya. Jangan dengan kekerasan, karena hal itu justru akan berdampak tak baik bagi perkembangan jiwanya.
3. PEMALAS
Sifat anak yang pemalas biasanya tidak mau mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya. Misalnya, merapikan tempat tidur, buku pelajaran atau mainannya. Ia mengandalkan orang lain untuk mengerjakannya.
Yang harus dilakukan:
Beri anak pengertian dan contoh. Misalnya, setelah bangun tidur, tempat tidur harus dirapikan. Ajak ia untuk turut serta melakukan kegiatan tersebut. Walaupun mungkin di rumah ada pembantu, berikan pengertian pada anak bahwa tidak selamanya ada “si mbak” yang bisa membantunya.
Latih anak-anak untuk memiliki tanggungjawab sejak dini. Bukan pekerjaan berat, cukup yang ringan saja. Seperti merapikan tempat tidur, mainan ataupun rak buku pelajaran.
4. NAKAL
Anak yang nakal atau bandel wajar dimiliki oleh anak-anak. Biasanya mereka cenderung aktif, usil dan tak takut bahaya. Selain itu, anak umumnya juga punya banyak akal. Contoh perilaku mereka antara lain hobi berkelahi, mengejar layang-layang, memanjat pohon tinggi, jahil pada temannya, dan sebagainya.
Yang harus dilakukan:
Tak perlu memarahi atau melarangnya bermain. Coba pantau kegiatannya sehari-hari. Sejauh yang dilakukannya tidak membahayakan dirinya dan orang lain, kenapa harus dilarang? Biarkan mereka melakukannya karena hal itu akan menjawab rasa penasarannya.
Lain hal jika yang dilakukan anak membahayakan dirinya dan orang lain. Tak ada salahnya menegur dan memberi pengertian pada anak. Yang terpenting dalam menghadapi anak nakal adalah jangan bosan menasihati dan membimbingnya. Arahkan anak agar menjadi anak yang baik dan sopan.
5. PENDENDAM
Ciri anak pendendam adalah “hobi: menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalasnya di kemudian hari. “Awas, besok kubalas kamu!” begitu biasanya mereka mengancam “lawan” mereka. Biasanya, anak baru merasa puas bila sudah dapat membalas rasa sakit hatinya.
Yang harus dilakukan:
Yang utama, jangan biarkan sifat pendendam bersarang dalam diri anak-anak. Pasalnya, sifat ini bisa merusak mental mereka. Anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya benar. Berikan pengertian pada anak bahwa “sifat mendendam” itu tidak baik. Selain dilarang agama, nantinya juga akan membuat mereka dijauhi oleh teman-teman mereka. Tanamkan pada diri anak bahwa tidak selamanya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.
6. PEMBERONTAK
Hampir mirip dengan anak yang keras kepala. Umumnya anak yang memiliki sifat pemberontak susah diatur, kemauannya besar dan merasa dirinya selalu benar. Dan yang lebih sering terjadi, mereka tidak peduli dengan omongan orang lain.
Pendekatan diri adalah jalan terbaik menghadapi anak pemberontak atau suka membangkang. Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Bila hal yang diinginkannya tidak memberikan manfaat dan cenderung menghancurkan, dengan tegas katakan, “Tidak!”
“Mama melarang kamu pergi karena tak ada pergi ke sana.” Kemukakan juga apa alasan Anda melarang dirinya. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak merasa Anda menegur atau melarang dirinya bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya.
7. PEMALU
Menutup diri, tak banyak bicara, itulah sebagian ciri-ciri dari anak pemalu. Seorang anak pemalu jarang sekali memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara oleh orang lain. Pribadinya sangat tertutup, sehingga sulit menebak isi hatinya. Selain itu, anak pemalu juga terkesan kuper alias kurang pergaulan. Mereka juga akhirnya jarang bergaul dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.
Yang harus dilakukan:
Cara tepat menghadapi anak pemalu adalah melatih dirinya agar berani tampil dan berbicara di depan umum. Misalkan dengan mengikutsertakan dalam kegiatan sekolah, seperti tari, karate ataupun vokal grup. Engan begitu, mereka akan terbiasa berhadapan dengan orang banyak. Hal ini akan membantu anak untuk berinteraksi dan mengemukakan pendapatnya. Ini juga akan membuat ruang lingkup pergaulannya menjadi luas. Dengan demikian, diharapkan anak tak lagi menjadi pribadi yang tertutup.
8. PERIANG
Lincah, ramah dan senang bergaul merupakan ciri-ciri anak yang periang. Umumnya, anak periang memiliki banyak teman, karena kepribadian mereka yang hangat. Mereka memang senang bersahabat. Jarang sekali murung dan selalu bergembira.
Yang harus dilakukan:
Meski sifat periang lebih banyak memberikan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, Anda perlu mengingatkan anak agar dapat menempatkan diri kapan harus gembira dan kapan turut merasakan duka orang lain. Beritahu, bila ada temannya yang sedang bersedih, sebaiknya ia jangan bergembira. Jadi, pintar-pintarlah menempatkan diri.
Share:
Read More

Wednesday, 17 October 2012

MENJADI ANAK TANGGUH

Anak yang tangguh melihat kegagalan sebagai sebuah tantangan. Bantu anak agar ia menjadi individu yang optimis dan tak gampang menyerah melalui stimulasi-stimulasi berikut ini.

Bersikaplah optimis dalam keseharian Anda. Orangtua adalah role model anak, dia akan mengamati dan meniru perilaku Anda. Jika Anda belum bisa menerima kondisi saat ini, usahakan untuk tidak berkeluh kesah di hadapan anak. Keluhan Anda atas gagalan atau rencana yang belum tercapai akan menular pada anak. 

Ikut sertakan anak dalam kompetisi atau lomba.
 Persaingan salah satu pola perilaku masa kanak-kanak awal. Ketika Anda melihat balita suka berlomba minum susu dengan kakaknya atau saling membandingkan tinggi badan dengan para sepupu, itu tanda perkembangan psikologis balita sehat. Tugas Anda mengarahkan agar persaingan berlangsung sehat, tanpa campur tangan orang dewasa sehingga mendorong anak meningkatkan keterampilan dan daya juangnya. 


Semangati anak untuk terus mencoba. Jelaskan bahwa kegagalan bukanlah kesalahan terbesar. Anak yang tabah dan pantang menyerah akan memahami bahwa sebuah keberhasilan akan diperoleh melalui usaha yang keras dan menganggap kegagalan sebagai sebuah tantangan. Katakan padanya, “Tidak apa-apa kamu tidak menang kali ini. Besok kita coba lagi.  Siapa tahu kamu bisa menang!” 

Biarkan anak berusaha  sendiri, jangan selalu dibantu. Beri anak kesempatan untuk mengerahkan kemampuannya untuk memupuk rasa percaya diri dan mengasah kemandiriannya. Beri contoh di awal cara menyusun balok agar tidak mudah tumbang. Setelah itu Anda dapat mengawasinya dan  memberinya semangat agar berhasil melakukannya sendiri.

Hargai usahanya, meski gagal. Jangan menuntut kesempurnaan anak tetapi perhatikan proses dan kemajuan anak.  Anak yang selalu ‘diteropong’ kesalahannya takkan pernah berani melakukan sesuatu. Hindari komentar negatif, “Kan, sudah diajari berkali-kali. Kok masih belum bisa?” Sebaliknya katakan, “Wah, gambarmu sudah semakin bagus. Lain kali ikut lomba lagi yuk, siapa tahu kamu menang.” 

Tidak menghina hasil karyanya, karena setiap anak ingin tahu bahwa usaha   yang dilakukannya bermanfaat dan menimbulkan reaksi positif dari orang-orang di sekitarnya. Apapun hasil karya anak, dia membuatnya dengan tulus dan usaha maksimal. Gambar wajah Bunda dan Ayah meski tak mirip sama sekali, katakan saja, “Terima kasih, Bunda dan Ayah tampak cantik dan ganteng.”

Ajak anak untuk mengenali dan menerima keterbatasan sekaligus kelebihan dirinya.Misalnya, ia ingin naik sepeda roda dua yang besar dan tinggi seperti punya sang kakak. Biarkan ia mencoba sambil terus didampingi dan katakan bahwa nanti ada saatnya ia bisa mengendarai sepeda macam itu, tapi tidak saat ini. Beri pengertian dan alasan yang masuk akal untuk anak. Katakan bahwa tinggi badannya belum cukup untuk menjangkau pedal sepeda dan sepeda yang berukuran besar juga berat sehingga badannya yang kecil sulit mengimbanginya.

Beri contoh melakukannya bila ia menyerah ketika mencoba sesuatu. Ajari anak mengatasi rasa kecewanya dengan membiasakan anak mencari alternatif kegiatan atau pemecahan masalah yang dihadapi. Misalnya, ia tak  berhasil menggambar tokoh Angry Bird favoritnya,  ajarkan ia hingga berhasil. Tunjukkan cara menjiplak gambar yang dia inginkan, tapi selanjutnya ajarkan menggambar tanpa menjiplak. Kalau anak mengeluh nggak bisa, dukunglah anak dengan “Kamu bukan tidak bisa, tetapi belum mencoba. Ayo kita coba lagi bersama,” agar rasa percaya dirinya muncul kembali. (me)
Share:
Read More

Mau Sehat?Yuk pakai terus Otak Kita....

Dalam bekerja sehari-hari, ada sebagian orang yang lebih banyak menggunakan otak ketimbang ototnya. Orang-orang semacam itu tak punya pilihan, untuk selalu menjaga kesehatan organ tubuh vital satu-satunya itu. Syukur-syukur bukan cuma menjaga, tapi juga mengoptimalkannya.

"Kalau dia itu nasinya tolong yang banyak, Bu. Dia 'kan kuli pasar," ujar Yanto kepada ibu penjual nasi, sambil menunjuk Joko. Celetukan di sebuah warung nasi itu langsung menyegarkan suasana yang sangat panas. Joko, seorang designer creative sebuah media cetak, pun cuma bisa senyum-senyum saja. Sudah biasa baginya diejek seperti itu.

Diejek? Ya, tentu saja. Jelas-jelas ia bukan kuli pasar. Untunglah ia tidak marah, sebab memang sudah jadi kebiasaannya, makan siang dengan porsi berlebih.

Bagi Joko, baik kuli pasar - yang konotasinya cuma bekerja mengandalkan fisik - atau tukang kreatif seperti dia, tetap harus makan dalam jumlah yang cukup. Kalau asupan kurang, seorang kuli pasar tidak akan punya tenaga untuk mengangkut beban. Sementara Joko, otaknya yang tidak mau diajak kompromi.

Obrolan tadi memang mewakili pandangan banyak orang selama ini tentang dua jenis pekerjaan. Kerja otot dan kerja otak. Keduanya berbeda, bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Coba renungkan, Anda termasuk yang mana?

Wendy, penulis blog yang sedang jauh dari rumah, menulis di halaman situs blognya, "Dari segi gengsi, kerja pake otak kedengarannya memang lebih keren karena (biasanya) identik dengan pakaian rapi, kubikel dengan komputer, parfum, AC, dan dasi. Sedangkan kerja otot identik dengan keringat, ban berjalan, mesin-mesin, dan rutinitas." Apa benar?

Agak sedikit berbeda, Nugroho, MM, ACS, CL, tokoh pendidikan muda yang visioner dan enerjetik mencoba membedah kerja otot versus kerja otak ini. Menurutnya, kerja otot dan kerja otak, berujung pada si Sukses dan si Gagal, si Bahagia dan si Menderita. Wah!

Penjelasannya begini. Bila seseorang menjalani hidupnya dengan lebih dominan mengandalkan ototnya, akan mendapatkan hasil yang berbeda dari orang yang lebih dominan dalam mengandalkan otaknya. Orang yang mengandalkan otot adalah tipe orang yang bekerja sendiri (one man show) sementara orang yang bekerja dengan otaknya akan bekerja dengan melibatkan orang lain seraya membangun kerjasasama tim. Istilahnya, (team work building).

Orang yang mengandalkan otot cenderung tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Sementara orang "berotak" lebih fleksibel dalam pengaturan waktu. Sebabnya, orang yang bekerja sendiri tidak berani atau bahkan mungkin tidak tahu bagaimana mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Sementara yang bekerja dalam tim cenderung saling membantu dalam menjalankan tugas.

Namun tulisan ini tidak akan berlarut-larut dalam polemik perbedaan kerja otot dan kerja otak. Mari mengupas bagaimana jika kita termasuk orang yang mengandalkan kerja otak. Apa yang mesti kita persiapkan agar otak senantiasa siap diajak bekerja. Kalau perlu sampai lembur.

Mirip komputer

Otak, sampai sekarang masih menyimpan banyak misteri. Sigmun Freud, si pakar psikoanalisa itu, berteori, otak manusia adalah segala-galanya. Sedangkan dalam buku Use Your Head, Tony Buzan menyebutkan, otak ibarat raksasa tidur. Sebabnya, banyak hal yang belum diungkap secara keilmuan.
Sejauh ini sering kita mendengar, otak terbagi menjadi dua bagian penting, yakni otak kanan dan otak kiri. "Otak kiri untuk hal-hal yang rasional, nyata, berpikir linier. Sedangkan otak kanan kaitannya dengan imajinasi, musik, kesenian, merasa bahagia, konstruksional," tutur dr. Samino, Sp.S. (K), spesialis saraf dari RS Islam Cempaka Putih.

Kenyataannya, selama ini kebanyakan hanya otak kiri yang diberdayakan. Tapi sejak munculnya istilah kecerdasan emosi, otak kanan pun mulai banyak dibahas. Trik dan metode mengoptimalkan otak kanan mulai bermunculan.

Kedua "otak-otak" itu memang harus dimanfaatkan secara seimbang. Pasalnya, memori yang dibangun otak kiri akan menjadi memori jangka panjang yang disimpan otak kanan. Jadi, antara otak kiri dan kanan, punya semacam jembatan penghubung.

Jika dianalogikan, otak mirip komputer. Mungkin inilah sebabnya, di Tiongkok, komputer diistilahkan sebagai jun nye, yang arti langsungnya "otak listrik" atau otak yang bekerja pakai listrik. Seluruh aktivitas tubuh merupakan refleksi dari program-program yang ada di dalam otak.

Chip-nya otak adalah neuron atau sel saraf. Neuron adalah sel yang mempunyai juluran-juluran yang menghantar rangsangan. Juluran yang menghantar rangsang ke badan sel yang mengandung inti di dalamnya disebut dendrit. Sedangkan juluran yang menghantar rangsang keluar dari badan sel disebut akson.

Sel-sel saraf yang berhubungan satu sama lain membentuk suatu jaring perkawatan. Hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain disebut sinapsis. Makin rimbun hubungan antarsel saraf, makin tinggi kecerdasannya. Jadi, tingkat kecerdasan tidak berkaitan dengan besar atau berat otak, yang sekitar 1,5 kg itu.

Makin banyak dan baik asupan program yang terjadi pada proses belajar, makin banyak percabangan juluran sel saraf yang terjadi. Ini berarti daya mengingat meningkat. Jadi, ingatan terwujud sebagai cabang-cabang juluran sel sarah dengan sinapsis-sinapsisnya.

Tapi masalahnya, jumlah sel saraf tidak dapat bertambah. Malah bisa menyusut seiring tambah usia. Kematian sel otak bahkan sudah dimulai semenjak kelahiran.

Karena sel-sel otak tidak diperbarui sejak kita lahir, jumlah totalnya akan mulai berkurang. Percabangannya memang dapat terbentuk terus hingga usia lanjut. Hanya saja, sama seperti alat yang jika jarang digunakan bakal timbul masalah, begitu pula otak. Kalau jarang digunakan, otak akan melisut. Percabangan juluran sel saraf juga rusak dan menggersang.

"Jadi, jika mau bugar otaknya, pakai terus!" saran Samino, menyimpulkan segala kerumitan tentang persarafan di dalam kepala ini.

Use it or loose it

Agar dapat sepenuhnya menggunakan potensi otak, kita harus belajar memandangnya sebagai bagian dari tubuh kita. Sama seperti otot dan sendi yang menjadi kaku bila tidak digunakan, otak pun akan kehilangan kemampuannya bila tidak dimanfaatkan. Seperti halnya peregangan dan olahraga untuk memelihara kondisi fisik, kita juga perlu meregangkan dan melatih otak untuk memelihara dan mengembangkan "kondisi otak" kita.

Ada banyak cara untuk merawat otak. "Yang penting memperhatikan gaya hidup saja. Gaya hidup ini meliputi pola makan, pola latihan fisik, dan pola tidur," tegas Samino.

Memperhatikan pola makan, termasuk di dalamnya menjauhi kebiasaan merokok dan makan makanan yang mengarah terjadinya sklerosis pembuluh darah. Pola pikir juga penting diperhatikan, sebab ketika otak bekerja ia menghasilkan zat-zat sampah yang akan mengganggu metabolismenya. "Jadi perlu di-recovery. Kalau tidak otak akan kelelahan," tambah Samino.

Untuk menjaga agar otak tidak lelah, maka tubuh perlu tidur rata-rata enam jam sehari. Namun, meski tubuh tidur, otak sebenarnya tidak sepenuhnya istirahat. "Ia tetap bekerja meski dalam kondisi basal, yakni kerja minimal untuk memberikan pengaturan bagi sistem tubuh," kata Samino.

Mengenai lamanya tidur, Samino menegaskan, "Tidak tergantung umur. Tidur yang bagus ya segitu. Memang, pada orang tua tidurnya kurang. Ada yang cuma empat jam atau bahkan dua jam. Tapi itu 'kan karena ada masalah. Sel-sel otaknya banyak yang mati, jadi mengganggu pola tidurnya. Umur yang bertambah memang membuat tubuh akan melisut. Akan terjadi kemunduran baik secara fisik maupun faal. Rambut memutih, tulang mengeropos, dan begitu juga otaknya."

Karena otak berhubungan dengan setiap bagian lain tubuh, olahraga fisik juga menjadi bagian tidak terpisahkan dalam memelihara otak agar selalu dalam kondisi puncak. Aktivitas intelektual macam berdebat dan memainkan permainan strategi seperti catur dan "Go" merupakan olahraga otak yang sangat baik.
Belajar juga salah satu cara untuk memelihara - bahkan dapat meningkatkan kemampuan otak. Jangan puas dengan karir yang dicapai hari ini. Jika memungkinkan, Samino menyarankan agar terus ditingkatkan. Prinsipnya no time for loose sebab sel-sel otak itu hanya mengenal hukum use it or loose it.

Optimalkan bersama ALISSA

Untuk mengoptimalkan otak, dalam bukunya Manajemen Kecerdasan, Taufiq Pasiak - dosen Anatomi Sistem Saraf Pusat Universitas Sam Ratulangi, Manado - menjabarkan enam cara yang untuk memudahkan disingkat menjadi ALISSA (Amankan, Latihan fisik, Informasi dan gizi, Santai, Sosialisasi, Aku mencintai).

Apa maksud itu semua, mari kita kupas lebih dalam.

Amankan, maksudnya selalu melindungi otak. Meski dijaga berlapis-lapis struktur - termasuk adanya cairan yang berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) - otak sangat rentan terhadap penyakit dan trauma fisik. Waspadai penyakit ringan - macam flu - yang dapat berpotensi merusak otak kalau tidak diantisipasi dengan baik. Trauma lahir juga dapat merusak otak dan menghambat perkembangan, termasuk perawatan bayi yang tidak semestinya.

Latihan fisik penting, tapi bukan satu-satunya cara membuat otak menjadi kuat sebagaimana didengungkan oleh mereka yang tidak melatih otak. Latihan fisik hanya melatih sedikit daerah sensorik otak dan semua daerah motorik.

Latihan fisik paling baik jika melibatkan dua bagian tubuh, kiri dan kanan, secara seimbang, terutama jika jari-jemari dilibatkan secara intens. Dari semua bagian motorik tubuh, jari-jemari dan lidah memiliki daerah pengaturan yang paling besar di otak.

Segala informasi, terutama yang baru dan unik, serta makanan bergizi punya peran penting pada pembentukan dan pengayaan sinaptik pada sel-sel saraf. Zat gizi seperti omega-3 dan omega-6 dapat menguatkan fungsi sel saraf sebagai penguat (booster) bagi dirinya sendiri. Yang jauh lebih penting, memberikan ASI kepada bayi, sebab kandungan DHA-nya lebih baik dan lebih banyak dibanding susu formula.

Otak memang tak kenal istirahat. Namun konsolidasi memori antar-sel saraf akan optimal saat otot-otot tubuh istirahat tidur. Saat itulah otak sedang santai. Ada banyak cara untuk menyantaikan otak, seperti mendengar musik, menulis puisi, mencermati lukisan naturalisme, atau yang lebih teknis: meditasi. Otak yang santai dapat menjadi alat untuk self therapy.

Sosialisasi membuat semua organ perifer otak, seperti indera-indera, selalu terangsang. Bagian sentral, terutama kulit otak dan sistem limbik, dapat bekerja secara baik. Dengan mengobrol, rasa dan rasio dapat terangsang. Sosialisasi akan melatih kekuatan emosi (EQ), kemantapan spiritual (SQ), dan kecerdasan rasio (IQ).

Mencintai sangat baik bagi otak. Bawaan manusia antara lain need of affection, kebutuhan akan kasih, sayang, dan cinta, dalam kehidupan sehari-harinya. Cinta yang paling baik adalah memberi daripada menerima. Banyak penelitian otak yang membuktikan bahwa pengeluaran hormon stres dapat dihambat dengan perasaan yang penuh cinta dan kasih sayang. Tiga sifat yang sangat ampuh merusak otak adalah iri, serakah, dan sombong.

Nah, yuk kita optimalkan kinerja otak kita supaya tetap sehat :)
Share:
Read More

Tuesday, 16 October 2012

BICARA EFEKTIF DENGAN ANAK

Kenali karakteristik serta kematangan berpikirnya.

Kalau Anda sudah tahu sifat-sifat si kecil dan bisa mengira-ngira kecepatannya menangkap informasi, Anda akan lebih mudah melakukan pendekatan yang pas untuknya. Ya, tiap anak pasti butuh pendekatan yang berbeda tergantung pada pembawaannya. Namun demikian, ada patokan dasar tentang resep berkomunikasi efektif dengan si kecil. Nah, mari kita simak patokan-patokan tersebut seperti disampaikan Linawaty Mustopoh Psi., dari Experd Consulting, berikut ini:

* Singkat dan sederhana

Akui saja, kita terkadang bingung bila mendengar pembicaraan yang panjang lebar atau ngalor-ngidul, bukan? Nah, apalagi anak-anak. Lantaran itu, gunakan bahasa yang sederhana dan singkat. Saat kita memberikan suatu intruksi, katakan “Yuk, cuci tangan sebelum makan!” Lebih baik lagi bila orangtua mencontohkan bagaimana cara melakukan hal tersebut.

Kemudian, saat berkomunikasi dengan si kecil perhatikan intonasi dan nada suara. Jangan terburu-buru atau dengan nada menghardik. Intonasi tak jelas atau nada terburu-buru, membuat si batita kurang tanggap akan apa yang dibicarakan.

* Jelas

Kemampuan berbahasa, si batita, kan, masih terbatas. Hindari kata-kata yang membingungkan. Misalnya, “Awas, jangan ke sana, nanti jatuh!” Anak, kan, jadi bingung, kenapa dilarang? Terus, maksud kata “ke sana” itu apakah ke ruang tamu, kamar, dapur, teras atau lainnya. Berbeda bila Anda mengatakan, “Sayang, kamarmu baru dipel. Masih licin. Duduk di kursi dulu ya!” Jadi, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya. Jangan sampai menimbulkan banyak pemahaman. Maka berbicaralah sesuai bahasa yang dipahami batita.

* Suara lembut

Namanya juga menghadapi anak, jadi harus disikapi dengan nada atau suara lembut dan menenangkan. Dengan begitu, si kecil seolah-olah tidak sedang dimarahi. Ucapan yang terdengar keras, suara tinggi atau penuh kemarahan, membuat anak me-rasa tak aman, nyaman bahkan takut. Apalagi kalau mengucapkannya dibarengi bahasa tubuh yang tidak menyenangkan, seperti bertolak pinggang. Jadi tunjukkan pula raut wajah yang cerah, kata-kata dan suara yang menyenangkan. Tak lupa pula untuk melakukan kontak fisik, misalnya sambil memeluk atau mengelus-ngelusnya.

* Konkret

Anak usia batita masih dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya, dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret. Dia belum dapat berpikir secara abstrak. Jadi, gunakan bahasa sekonkret mungkin. Misalnya, “Kamu jangan pelit dong sama teman.” Lebih enak kalau dibilang, “Yuk, mainnya sama-sama, tak perlu rebutan mainan.”

* Empati

Tempatkanlah diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak. Salah satunya adalah mau mendengar dan memahami si kecil. Entah itu keinginan atau keluhannya. Tentunya mendengar dalam arti luas, tidak hanya melibatkan indra pendengaran tapi juga perasaan atau mata hati. Jadi sebaiknya jangan menuntut anak untuk mengerti keinginan kita, tapi berusahalah memahami anak terlebih dahulu. Kelak, bersikap empati ini dapat menumbuhkan keterbukaan dan rasa percaya antara orangtua dan anak.

* Perhatikan Situasi dan Kondisi

Pilihlah waktu yang enak dan tepat saat mengajak si kecil berbicara. Jangan ketika anak sedang asyik bermain atau beraktivitas, tiba-tiba kita ingin mengajaknya ngobrol. Beri jeda waktu pada dia untuk me-nyelesaikan kegiatannya itu. Alih-alih mau berbincang, dia malah bisa merasa terganggu.

* Kembangkan dialog

Sebaiknya hindari kata-kata yang bernada satu arah atau bahkan cenderung memaksa, contoh,”Adek harus tidur siang, ya. Jangan membantah!” Sikap “otoriter” seperti itu hendaknya ditinggalkan. Jadi, kembangkan upaya dialogis. Biarkan anak mengutarakan pendapatnya. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi atau menyatakan apa yang ingin disampaikannya. Bisa kita pancing misalnya dengan cara, “Menurut Adek, tidur siang itu baik enggak?”

Dengan mengupayakan cara dialogis, komunikasi yang dijalin diharapkan lebih efektif. Contoh, ketika kita meminta tolong si kecil, daripada memberi perintah, “Nak, buang bungkus permen di tong sampah dong!”, lebih baik ajukan pertanyaan yang membuat anak sampai pada keputusan yang harus dilakukan. “Ayo, ke mana bungkus permen ini mesti dibuang?” Nada bertanya lebih efektif karena anak belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Lontaran pertanyaan seperti ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir si kecil.

* Konsisten

Saat berbicara dengan anak, tunjukkan kesungguhan atau konsistensi. Umpamanya, ketika memutuskan untuk mengatakan “tidak”, terhadap sesuatu hal, maka kita harus konsisten. Misalnya, tak boleh makan cokelat menjelang tidur. Dengan bersikap konsisten, maka tak memungkinkan anak untuk melakukan “tawar-menawar”. Sebaiknya sikap konsisten ini juga ditunjukkan semua orang di rumah termasuk saudara, kerabat atau kakek-neneknya. Anak akan paham aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan begitu, komunikasi yang dijalin bisa efektif.

* Tegas

Dalam berkomunikasi kita sebaiknya tegas. Tapi bukan berarti dengan marah. Sikap tegas diperlukan bila si kecil “membandel” atau melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah kita peringatkan. Misalnya, saat nonton teve, posisi duduknya selalu terlalu dekat. Padahal, kita sudah minta agar duduknya mundur atau menjauh. Bila dia tak juga mau menurut, maka boleh saja kita menarik tubuhnya agar menjauh dari teve. Beri alasan kenapa nonton teve tak boleh dekat-dekat karena bisa merusak mata.

* Beri pujian

Dalam berkomunikasi, unsur pujian mengandung makna positif buat si kecil. Dia akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya. Tiap si kecil berhasil melakukan sesuatu, kita sebagai orangtua jangan lupa untuk mengucapkan, “Terima kasih.” Berikan juga ciuman atau peluk sayang sebagai tanda kita merasa senang. Dengan merasa dihargai, anak pun belajar menghargai orang lain.
Share:
Read More

MEMPERSIAPKAN GENERASI LIFE READY


Memasuki era globalisasi, persaingan yang akan dihadapi oleh generasi mendatang pun semakin ketat. Anak-anak Anda, bisa jadi menjadi salah satu kunci kesuksesan Indonesia di tahun 2025 nanti. Bagaimana agar anak tumbuh cemerlang?

Sebagai ibu, tentu akan berusaha maksimal untuk dapat menciptakan seorang manusia berkualitas di masa mendatang. Kesuksesan buah hati, menjadi satu target penting yang harus dipersiapkan jauh hari sebelum mereka masuk ke dunia sebenarnya. Salah satu cara adalah mempersiapkan generasi ‘life-ready’.

Generasi ‘life-ready’ adalah generasi atau anak yang siap menghadapi tantangan di masa mendatang, berkompetisi menghadapi peluang yang ada, berprestasi dalam lingkungan sosial dan mengarahkan kehidupannya pada hal-hal positif.

Dra. Ratih Ibrahim, MM., psikolog anak, menjelaskan bahwa tanda atau ciri anak ‘life-ready’, dapat dilihat dari jiwa pemimpin si kecil. Hal ini mulai dari kemampuan berinisiatif untuk mengambil keputusan-keputusan kecil, rasa percaya diri yang selalu senyum serta merasa nyaman dengan dirinya sendiri, kreatif serta sering berimajinasi dan banyak menghasilkan karya lewat coretan tangannya, dan mudah bergaul yang tampak dari keberaniannya bersosialisasi dan berkenalan dengan orang baru.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Pembentukkan karakter anak ditentukan pada masa-masa keemasan di usia 0-12 tahun. Pada masa itulah, kebiasaan perilaku dan pembentukan pribadi dapat ditanamkan. Lingkungan yang sehat dan perilaku yang positif tentu menjadi faktor penting bagi pembentukan karakter ini.
Menjadikan anak sebagai subyek penerapan pendidikan dan pengasuhan yang benar.
Beri pujian. Hindari membandingkan anak dengan orang lain, terutama saudara kandung. Setiap anak adalah individu yang unik.
Hindari kritik. Jadilah tegas namun tidak berseberangan dengan apa yang mereka pikirkan. Anda hanya perlu memberitahu tentang apa yang Anda harapkan pada mereka.
Jadilah konsisten. Kendalikan emosi Anda dan menegakkan aturan yang sama sepanjang waktu.
Menjadi row model yang baik Memberikan perintah tanpa memberikan contoh perilaku yang sesuai juga tidak akan berhasil Anda terapkan.
Tampil kompak di depan anak. Usahakan untuk mendiskusikan terlebih dahulu dan menyepakati satu hal baru kemudian disampaikan kepada anak.
Berikan respon pada kemajuan sarana teknologi dan informasi. Pesatnya kemajuan informasi dari teknologi yang ada saat ini tentu membuat dunia anak semakin terbuka lebar untuk mengetahui banyak hal.
Tidak segan berdiskusi dengan para pakar. Jika orang tua merasa dirinya masih kurang dalam hal memberikan fasilitas kepada anak, kiranya tidak segan untuk berdiskusi langsung dengan para pakar untuk mendapatkan jawaban atau solusi yang lebih pasti.
Share:
Read More