Post Top Ad

Saturday, 30 March 2013

Saturday, March 30, 2013

KETIKA MARWAH BELAJAR BAHASA INGGRIS


Bahasa inggris merupakan bahasa yang cukup penting di jaman sekarang ini deh menurut aku. Walaupun masih kecil namun pengenalan bahasa inggris menurut saya penting sih,karena skr hampir semua sekolah ada pellajaran bahasa inggris deh, cek aja di TK juga udah mulai ada,maka dari itu saya pengen menerapkan pengenalan dasar untuk anakku niih,,,tapi sangat menakjubkan sekali,anakku Marwah usia 4 Y 8 M dia sudah mulai terbiasa mendengar dan bahkan bicara dengan bahasa inggris,padahal di rumah kami tidak pernah memberikan pelajaran bahasa inggris padanya,dan aku berfikir mungkin ini fase selfstudy Marwah melalui DVD princess yang aku berikan padanya.

Saya membaca beberapa artikel tentang bagaimana cara tepat memberikan pengajaran dan pemahaman pada anak dan membuat anak enjoy dan menikmati,karena kalau dia senang dan enjoy otomatis kita kasi dia materi pasti akan cepat diserapnya :) 
Cobain deh tips and triknya,,cek it out mommy ,, lets learn fun with our kids:


1. Listening ( Mendengar)
Selain mendengar kita berbicara anak juga bisa belajar mendengar dengan cara dibacakan buku cerita dalam bahasa Inggris (silahkan lihat daftar perpustakaan digital yang ada disisi sebelah kanan blog ini), mendengar nyanyian sederhana seperti Nursery Rhyme ataupun dengan menonton TV dan VCD berbahasa Inggris. Tapi untuk awal pilih yang kata-katanya sedikit dan sederhana.

2. Speaking ( Berbicara )
Setelah anak sering mendengar dalam bahasa Inggris, anak bisa di didorong untuk berbicara dalam kalimat-kalimat sederhana. Saya awalnya punya kesulitan untuk mengajak anak mau berbicara dalam bahasa inggris. Sampai akhirnya saya menemukan Genki English website belajar bahasa Inggris as Second Language untuk anak-anak. Situs ini berisi berbagai percakapan sederhana yang diubah dengan menjadi lagu dengan ilustrasi yang lucu dan menarik. Sehingga anak menjadi familiar dan mau mencoba berbicara.

Sekarang saya menerapkan waktu 30 menit sehari sebagai waktu keluarga untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Layaknya anak usia tahun baru memulai bicara, Marwahjuga memulai berbicara dalam bahasa inggris hanya dengan satu kata misalkan Doll (Boneka) ketika ingin mainan bonekanya, Sekarang dia sudah bisa berbicara dalam kalimat pendek seperti i want doll.

3. Reading ( Membaca)
Ada 2 metode umum mengajarkan anak belajar membaca dalam bahasa Inggris yaitu Whole Language Approach dan Phonic.

Whole Language Approach adalah suatu metode belajar membaca dengan menjadikan bahasa sebagai satu kesatuan tidak terpisah-pisah. Belajar membacanya juga sesuai dengan konteksnya. Metode ini lebih menekankan pada arti suatu kata. Contohnya ketika melihat kata cat (kucing) anak langsung diberitahu bahwa itu bacanya "ket" dan itu artinya kucing. Biasanya anak belajar membaca dengan sistem mengingat (memorize) kata yang sudah pernah disebutkan. Kelebihan metode ini adalah anak lebih cepat bisa membaca tapi akan kesulitan ketika harus menuliskan kata yang dimaksud terutama kata-kata yang cukup panjang.

Phonic adalah suatu metode belajar membaca melalui bunyi huruf dengan cara mengejanya satu persatu misalkan saja cat (kucing) berarti dibaca Keh-e-teh menjadi "ket". Setiap kata diurai menjadi huruf-huruf. Karena belajar melalui mengeja maka anak memerlukan waktu lebih lama untuk bisa membaca. Tapi kelebihannya anak lebih mudah ketika harus menuliskan kata yang dia dengar. Apabila anda ingin mengajarkan membaca dengan metode Phonic anda bisa berkunjung ke sini.

Untuk memudahkan anak belajar membaca sebaiknya pilih buku-buku yang sesuai dengan tingkatannya. Misalkan anak yang baru mulai membaca pilih buku-buku yang hanya terdiri dari satu kata misalkan halaman pertama ada gambar buah apel dan dibawahnya ada tulisan This is Apple. Setelah itu bisa dicoba dengan kata yang lain misalkan I like banana. Anda bisa membuat sendiri buku-buku seperti itu atau mendapatkannya melalui Reading A to Z.

3. Writing ( Membaca )
Ini adalah tahapan yang paling sulit dalam belajar bahasa Inggris karena ada banyak aturan yang harus dipatuhi. Biasanya orang Indonesia pasti akan kesulitan untuk berbicara dalam bahasa Inggris. Sebenarnya bukan karena tidak bisa melainkan karena takut salah. Padahal kalaupun kita salah mengucapkan susunan beberapa kalimat ataupun salah tata bahasanya lawan bicara kita pasti akan mengerti. Tapi lain halnya dengan menulis, ketika kita melakukan banyak sekali kesalahan tata bahasa dan cara pengejaan bisa jadi orang yang membaca tulisan kita tidak mengerti apa yang kita tuliskan.

Karena ini relatif sulit, maka menurut hemat saya menulis menjadi tahapan terakhir. Jangan terburu-buru mengajarkan grammar atau menulis jika anak belum menguasai 3 tahap sebelumnya. Untuk mengajarkan Grammar sebaiknya dilakukan secara implisit melalui buku yang berisi kalimat-kalimat yang berpola sama. Misalkan saja apabila halaman pertama berisi kalimat past tense maka halaman-halaman berikutnya juga berpola past tense. Sehingga setelah beberapa kali pengulangan anak bisa mendapatkan gambaran kapan kalimat bentuk past tense itu digunakan.

Jika anak diajarkan grammar secara eksplisit yaitu melalui dengan penjelasan panjang lebar mengenai past tense lengkap dengan rumus yang harus dihapal maka anak akan kebingungan dan akhirnya malah merasa takut untuk menulis. Seperti juga ketika berbicara anak sebaiknya memulai dengan menulis satu kata, kemudian satu kalimat pendek, lalu satu kalimat panjang, terus satu paragraph dan seterusnya. Mungkin nanti tanpa anda sadari tiba-tiba anak sudah bisa menulis satu buku dalam bahasa Inggris.

Nah silahkan mencoba mommy,,pasti saya yakin semua mommy dimanapun menginginkan anak yang hebat kan, nah salah satu kehebatan anak termasuk pandai berbahasa inggris,,aku bangga sekali sama Marwah deh dia bisa bahasa inggris yaah walau cuman sepatah dua patah kata tapi membuat aku bangga,,love you my lil princess


#anakkuadalahhartapalingberharga#

Saturday, 23 March 2013

Saturday, March 23, 2013

Usia berapa seharusnya anak Anda mulai membaca?


Membaca adalah salah satu keterampilan hidup yang sering kita gunakan untuk mengukur kemajuan pendidikan anak-anak kita. Anda mungkin mendengar pertanyaan "Apakah dia sudah bisa membaca?" sama seringnya dengan pertanyaan "Apakah dia sudah bisa jalan?" ketika bayi Anda mulai bertambah besar. Beberapa pendidik percaya bahwa ada usia khusus di mana anak-anak harus mulai membaca. Tetapi, ada juga yang merasa anak-anak memiliki waktu yang berbeda untuk belajar keterampilan yang berbeda pula, termasuk membaca.
Dalam sistem sekolah umum di Amerika Serikat dan Inggris, anak-anak seringkali didorong untuk mulai membaca sebelum mereka masuk sekolah formal. Beberapa anak siap untuk mulai membaca pada usia ini, dan sangat menyukainya. Di sisi lain, ada juga anak-anak yang belum siap membaca pada usia ini, terutama untuk anak laki-laki.
Hal terbaik yang dapat dilakukan adalah untuk menanamkan rasa cinta membaca dengan membaca untuk anak Anda dan juga bersama dengan anak Anda. Bukan dengan memaksa anak Anda untuk membaca. Anak-anak yang memiliki keterampilan secara natural, akan meminta untuk belajar lebih banyak, sementara anak-anak yang belum siap tetap akan mendapat keuntungan dari buku yang dibaca bersama-sama, yang nantinya akan membuat proses membaca lebih mudah ketika saatnya tiba. Tapi, pada usia berapa seharusnya anak sudah dapat membaca sendiri? Ini tergantung pada sekolah si anak. Fase membaca yang paling penting adalah antara usia 5-9 tahun. Jawaban atas pertanyaan usia berapa yang 'normal' untuk membaca tergantung pada sekolah dan perilaku mereka terhadap membaca. Cara yang terbaik adalah untuk selalu berhubungan dengan guru karena mereka dapat memberitahu Anda bagaimana anak Anda di sekolah dan apakah anak Anda perlu tambahan tugas rumah.
Bagi anak-anak bilingual (berbicara dua bahasa), Anda mungkin merasa proses berbicara, membaca, dan menulis secara lancar akan lebih lama dibandingkan dengan anak-anak monolingual (berbicara satu bahasa). Hal ini sangat normal karena anak-anak bilingual memiliki lebih banyak informasi untuk diproses, dan ini sama sekali bukan tanda kalau mereka belajar lebih lambat atau lebih buruk. Malahan sebaliknya. Walaupun anak-anak bilingual belajar lebih lama, ketika mereka menguasai keterampilan ini, mereka akan mendapatkan hasil lebih baik dibandingkan dengan anak-anak monolingual. Selain itu, keterampilan kognitif dan komunikasi juga akan meningkat secara keseluruhan. Jadi, jangan khawatir untuk memperkenalkan bahasa baru, hal ini hanya akan memberikan keuntungan pada anak-anak.

Bagi anak yang belajar bahasa asing, urutan prosesnya akan sama untuk bahasa apa pun. Setelah meletakkan dasar yang solid untuk keterampilan berbicara dan mendengar, mereka dapat melanjutkan untuk mengenali bahasa tertulis. Sama dengan bahasa pertama mereka, latihan one-to-one, meningkatkan rasa tertarik, dan menyediakan banyak dorongan adalah cara tercepat dan lebih menyenangkan dalam belajar.

Tips untuk membantu anak Anda dalam proses membaca:

Tips untuk membantu anak Anda dalam proses membaca:
  • Mulai membaca sejak usia dini, buat membaca bagian dari rutinitas sehari-hari.
  • Tanamkan rasa cinta terhadap bahasa – puisi, cerita, sajak, termasuk lelucon.
  • Dorong keterampilan verbal yang solid, bicara dengan mereka, buat mereka berceloteh, bernyanyi, bersajak, bercerita, semua keterampilan ini akan membantu proses membaca.
  • Dorong mereka untuk selalu menyelesaikan tugas sekolah – selesaikan tugas membaca yang diberikan guru setiap hari.
  • Beri contoh dengan melakukannya sendiri, biarkan anak-anak melihat Anda membaca buku dan majalah.
  • Terlibatlah. Anak-anak yang membaca beberapa kali seminggu akan menjadi lebih unggul dibanding anak seusianya ketika mereka remaja.
  • Berikan bantuan membaca one-on-one karena ini merupakan jalur tercepat untuk menjadi pembaca kompeten.
  • Berikan banyak pujian dan buat proses membaca menyenangkan.
  • Bergabung menjadi anggota perpustakaan bersama-sama.
  • Cari buku yang menarik perhatian anak Anda, baik itu tentang ballerina, sulap, ataupun binatang yang dapat berbicara!
Sama dengan berbagai hal yang berkatian dengan anak Anda, memiliki keyakinan atas kemampuan anak akan membantu mereka untuk memiliki rasa percaya diri, yang tentunya akan memiliki dampak positif dalam berbagai hal. Keterampilan membaca sangat berguna dalam kehidupan kita. Membaca meningkatkan kecerdasan, memperluas pengalaman, memperkenalkan orang pada ide-ide yang belum pernah mereka dengar sebelumnya, dsb. Membaca merupakan dasar dalam pendidikan selanjutnya, selain itu membaca sangatlah menyenangkan.




Wednesday, 20 March 2013

Wednesday, March 20, 2013

MENGAJARKAN ANAK MEMBACA ALQUR'AN


“Inilah ayat-ayat Al-Quran yang mengandung hikmah”
“Sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang berbuat kebaikan”
(Q.S Luqman: 2 – 3)
Anak-anak adalah amanah, titipan dari Allah SWT, Sang Pemilik anak-anak kita. Setiap kita pasti menginginkan kebaikan dan kebahagiaan atas anak-anak kita . Sedangkan kebaikan dan kebahagiaan yang bisa diperoleh anak-anak kita hanya ada satu sumbernya yaitu Dzat yang memiliki anak-anak kita, yang paling mengetahui dan paling sayang kepada mereka. Maka jalan yang bisa kita tempuh untuk meraih keinginan itu adalah menghubungkan anak-anak kita dengan Pemiliknya.  Allah SWT telah mengirimkan ratusan bahkan ribuan pesan-pesan cinta untuk kebaikan anak-anak kita yang kesemuanya tertuang dalam Al Quran.
Menjadi kewajiban bagi kita para orang tua untuk menyampaikan pesan-pesan cinta ini dan mengajarkan kepada mereka bagaimana membacanya.


Hak yang pertama dari Al Quran atas kita dan anak-anak kita adalah membacanya (hak-hak Al Quran selanjutnya adalah memahami artinya baik harfiah maupun maknawi, menghafalkannya, mengamalkan dan mengajarkan kepada orang lain). Dengan membacanya maka anak-anak kita insyaAllah akan merasakan bahwa ada sesuatu yang selalu memperhatikan dan menyayanginya. Perasaan kejiwaan ini menjadi bekal yang sangat penting untuk anak-anak kita agar tumbuh menjadi manusia-manusia yang baik dan bahagia.
Mengajarkan (membaca) Al Quran pada anak-anak, khususnya si kecil (usia 3-7 tahun), memiliki tantangan tersendiri. Sesuai karakter si kecil yang unik dan berbeda dengan orang dewasa, diperlukan seni tersendiri untuk mengajarkan mereka.
Berikut beberapa tips yang semoga bisa mempermudah ikhtiar kita mengajarkan (membaca) Al Quran pada si kecil :
1. Luruskan niat, tumbuhkan motivasi
Niat dan motivasi adalah amalan hati yang tak kalah pentingnya dengan berbagai ikhtiar fisik dan pikiran kita. Dengannya kita tergerak dan bersemangat melakukan sesuatu. Niat yang lurus menjadikan segala amalan kita menjadi bernilai ibadah di mata Allah SWT. Motivasi dapat tumbuh dengan banyak-banyak mencari informasi tentang pengaruh Al Quran terhadap anak-anak kita.
Mungkin sudah banyak berita yang pernah kita baca tentang berbagai penelitian yang menunjukkan betapa segala kebaikan yang Allah janjikan dengan membaca Al Quran, satu per satu terungkap dengan nyata.
Beberapa yang pernah penulis baca adalah penelitian dari Malaysia tentang efek Al Quran pada kecerdasan anak dimana terlihat pada bayi yang baru lahir dan diperdengarkan ayat-ayat Al Quran secara kontinyu menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan sel-sel syaraf yang mengagumkan melebihi perkembangan rata-rata pada umumnya. Kemudian penelitian yang lain di Amerika Utara yang memperlihatkan efek bacaan Al Quran pada orang dewasa yang dapat mempengaruhi syaraf-syaraf otak dan organ-organ tubuh lainnya pada manusia.
Serta penelitian seorang psikolog anak di Indonesia pada beberapa siswa SDIT yang secara rutin belajar membaca Al Quran setiap pagi sebelum pelajaran sekolah dimulai. Mereka rata-rata memiliki rentang konsentrasi yang tinggi, melebihi rata-rata anak-anak seusianya, serta tingkat ketahanan yang tinggi (tidak mudah bosan) untuk melakukan suatu pekerjaan secara konsisten (istiqomah).
Di atas itu semua, keimanan dan kedekatan kita dengan Allah SWT sangat berpengaruh pada masalah motivasi ini. Keimanan dan kedekatan ini menjadikan kita sangat yakin dengan janji-janji Allah berupa kebaikan yang sangat banyak, meski tanpa syarat berupa bukti-bukti yang terungkap oleh manusia.
Dari Ibnu Mas’ud RA berkata Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa yang membaca sebuah huruf dari kitabullah – yakni Al Quran – maka ia memperoleh suatu kebaikan, sedang satu kebaikan itu akan dibalas dengan sepuluh kali lipat yang seperti itu. Saya tidak mengatakan bahwa Alif Lam Mim itu satu huruf, tetapi Alif adalah satu huruf, Lam satu huruf, dan Mim juga satu huruf”. (HR. Tirmidzi)
2.  Mencari bekal
Pengajaran yang terbaik bagi anak-anak adalah dari orang tuanya. Ini dikarenakan orang tua memiliki ikatan kasih sayang dan waktu yang paling banyak untuk berinteraksi dengan anak-anak, sehingga memungkinkan untuk melakukan proses belajar mengajar membaca Al Quran yang rutin dan variatif. Oleh karena itu kita harus benar-benar mempersiapkan diri dengan mencari ilmu membaca Al Quran yang baik dan benar agar kita bisa menjadi guru yang baik bagi anak-anak kita.
Jangan ajarkan bacaan Al Quran yang salah karena yang benar itu mudah (mengutip perkataan Bpk. Dachlan Salim Zarkasy, penemu metode Qira’ati).
3.  Pilih satu metode utama
Dengan memilih satu metode yang dirasa paling baik dan sesuai untuk anak-anak kita insyaAllah akan mempermudah anak-anak dan juga orang tua untuk lebih fokus dan sistematis dalam belajar membaca
Al Quran. Banyak sekali metode belajar baca Al Quran yang bisa kita pelajari, seperti qira’ati, iqra’, dll.
4.  Cari metode pelengkap
Dengan tetap berpegang pada metode utama, metode-metode pelengkap nantinya akan dibutuhkan untuk membuat variasi belajar agar si kecil tidak bosan dan tetap menikmati proses belajar. Metode pelengkap ini insyaAllah bisa sangat banyak jika kita mau berkreasi menciptakan sendiri dan mengerti apa yang disukai si kecil, seperti bermain kartu, bercerita, menggambar, dll.
5.  Lakukan proses belajar yang menyenangkan
Kita harus memahami terlebih dahulu karakter dan keinginan si kecil dalam belajar. Menurut para ahli anak, hal yang paling menyenangkan dan paling ingin dilakukan oleh seorang anak kecil sebenarnya adalah belajar. Namun proses belajar yang tidak sesuai sering kali membuat si kecil terlihat “tidak ingin” belajar, padahal sebenarnya ia sangat senang belajar. Jadi ketika dalam proses belajar kita mendapati si kecil enggan/malas-malasan/bosan maka yang sebenarnya tidak ia sukai adalah pada aktivitas proses belajarnya, bukan pada keinginan belajarnya. Kita sebaiknya tetap berbaik sangka pada si kecil dan lebih mengutamakan untuk berusaha mencari variasi cara belajar daripada berputus asa karena menyangka si kecil sudah tidak mau belajar lagi.
Beberapa hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga semangat si kecil dalam belajar yaitu:
· Rajin-rajin memotivasi si kecil dengan berbagai cerita tentang Al Quran sehingga si kecil menjadi tertarik dan sangat ingin bisa membaca Al Quran.
· Sebelum belajar kondisikan si kecil dalam keadaan senang, misal jika si kecil hobi makan maka kita hadiahi dulu dengan makanan yang disukainya, atau si kecil yang senang bermain di luar rumah kita ajak dulu bermain-main di luar, dll.
· Batasi waktu belajar, jangan terlalu lama, dan hentikan sebelum si kecil bosan, meskipun si kecil sedang sangat bersemangat untuk belajar/tidak mau berhenti. InsyaAllah ini akan menjaga semangatnya tetap tinggi untuk belajar di lain waktu. Belajar sedikit demi sedikit tetapi rutin insya Allah lebih baik daripada sekali belajar langsung banyak dan setelah itu kapok/bosan.
· Tunjukkan apresiasi/rasa syukur kita pada si kecil yang telah mau belajar.
6. Disiplin
Terlebih dahulu orang tua mendisiplinkan diri sendiri sebelum anak-anak, insyaAllah akan lebih mudah mendisiplinkan mereka selanjutnya.
7. Sabar dan do’a
Sabar dan do’a menjadi pelengkap yang paling baik bagi ikhtiar kita, insya Allah.
Semoga anak-anak kita tumbuh menjadi anak-anak yang baik dan bahagia karena selalu berinteraksi dengan Al Quran, sehingga kita tidak perlu merasa khawatir meskipun mereka jauh dari pengawasan kita. Aamiin…

Wallahu a’lam bishshawab.



Tuesday, 19 March 2013

Tuesday, March 19, 2013

perkembangan anak usia dini ...



Perkembangan Anak Usia Dini
1. Perkembangan Moral
- Mampu merasakan kasih sayang, melalui rangkulan dan pelukan
- Meniru sikap, nilai dan perilaku orang tua
- Menghargai memberi dan menerima
- Mencoba memahami arti orang dan lingkungan disekitarnya
2. Perkembangan Fisik
- Pertumbuhan fisik yang cukup pesat
- Mengalami perkembangan yang sangat pesat dalam prilaku motorik .
- Energik dan aktif
- Membedakan perabaan
- Masih memerlukan waktu tidur yang banyak
- Tertarik pada makanan
3. Perkembangan Bahasa
- Menyatakan maksud dalam kalimat yang terdiri dari 4 sampai 10 kata
- Mengetahui dan meniru suara-suara
- Mengerti terhadap kalimat perintah
- Mengajukan pertanyaan
- Menyebutkan nama-nama benda dan fungsi
- Memecahkan masalah dengan berdialog
4. Perkembangan Kognitif
- Mengelompokkan benda-benda yang sejenis
- Mengemlompokkan bentuk
- Membedakan rasa
- Membedakan bau
- Membedakan warna
- Menyebutkan dan mengenal bilangan (1 –10)
- Rasa inign tahu yang tinggi
- Imajinatif
5. Perkembangan Sosial dan Emosi
- Mengenal aturan
- Orientasi bermain
- Egosentris
- Belajar tentang kerja sama dan berbagi
- Belajar ke kamar mandi sendiri (Toilet training)
- Selalu ingin mencoba sendiri
- Menunjukkan ekspresi emosi
- Responsif terhadap dorongan dan pujian
- Mengembangkan konsep diri
- Belajar menerima tanggung jawab pribadi dan kemandirian
6. Perkembangan Seni
- Mendengarkan musik
- Mengikuti irama
- Bernyanyi
- Mencipatakan irama
- Menggambar
Memahami Kemampuan Anak melalui Inteligensi
Gambaran mengenai spektrum kecerdasan yang lebih luas telah membuka mata para
orang tua dan guru tentang adanya wilayah-wilayah yang secara spontan (fitrah) akan
diminati oleh anak-anak. Setiap anak akan menunjukkan kemampuannya ( yang tinggi )
dan merasa pas dengan apa yang diminatinya sehingga menjadi sangat menguasainya dan
menjadikannya ahli dalam bidang tersebut.
 Berdasarkan konsep dari Howard Gardner (1993) intelegensi diartikan sebagai
kemampuan memecahkan masalah, atau membentuk suatu produk, yang dihargai dalam
satu atau berbagai suasana budaya atau masyarakat. Integensi jamak (multiple
intelegences) meliputi unsur-unsur :
1. Intelegensi matematika-logika : memuat kemempuan seseorang dalam berfikir
secara induktif dan deduktif, berfikir menurut aturan logika, memahami dan
menganalisis pola angka-angka serta memecahkan masalah dengan menggunakan
kemampuan berfikir.
2. Integensi berbahasa : memuat kemampuan seseorang untuk menggunakan bahasa
dari kata-kata, baik secara tertulis maupun lisan dalam bentuk yang berbeda untuk
mengekspresikan gagasannya.
non-verbal yang berada disekelilingnya, termasuk nada dan irama.
4. Inteligensi visual-spasial (ruang) : memuat kemampuan seseorang untuk
memahami secara lebih mendalam hubungan antara obyek dengan ruang.
5. Inteligensi kinestik (badaniah): memuat kemampuan seseorang untuk secara aktif
menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk berkomunikasi dan
memecahkan berbagai masalah.
6. Inteligensi antar-pribadi (inter-personal) : memuat kemampuan seseorang untuk
peka terhadap perasaan orang lain, mudah memahami dan berinteraksi dengan
orang lain sehingga mudah bersosialisasi.
7. Intelegensi intra pribadi : menunjukkan kemampuan seseorang untuk peka
terhadap perasaan dirinya sendiri, cenderung mampu mengenali kekuatan dan
kelemahan diri.
8. Inteligensi naturalis, yaitu kemampuan seseorang untuk peka terhadap
lingkungan alam.
9. Inteligensi spiritual, adalah ekspresi pemikiran yang muncul dari dalam kalbu
seseorang. Dapat mengilhami seseorang dan mendorongnya sebagai sumber
motivasi yang memiliki kekuatan maha dahsyat, misalnya ditunjukkan dalam
penemuan baru yang orisinal, kreatif dan isnpiratif.