May 2013 - Cerita Ibu - Parenting Blogger Indonesia

Friday, 24 May 2013

WAKTU YANG BERKUALITAS UNTUK ANAK





Bagi mom yang bekerja, tidak sedikit waktu yang bisa dihabiskan dengan anak di hari-hari kerja (weekdays), sehingga kesempatan besar untuk menggantikan waktu mom yang hilang adalah saat akhir pekan. Inilah kesempatan untuk mempererat hubungan antara mom dan anak di akhir pekan. Lakukan suatu kegiatan berkualitas, walaupun sebentar tapi berkesan bagi anak-anak mom seperti :

1. Fokuskan perhatian dan emosi mom saat bersama anak
Sudah banyak waktu yang terbagi untuk pekerjaan kantor. Saat mom dengan mereka, bebaskan waktu mom dari segala aktivitas yang terkait dengan dunia luar. Buatlah anak-anak mom menilai, waktu ini khusus untuk mom dan dia. Selain pikiran, yang juga bisa dirasakan oleh anak adalah emosi, manfaatkan waktu yang ada untuk mencurahkan perhatian dan kasih sayang secukupnya, sehingga anak-anak dapat merasakan kedekatan emosi dengan mom.

2. Sarapan pagi bersama

Tidak ada salahnya bila mom menerapkan weekend adalah waktunya menyantap masakan ala chef mom. Menu masakan yang di buat sesuai dengan permintaan anak. Setelah mom selesai memasakan makanan khusus keluarga, sajikan dan ajaklah seluruh keluarga untuk sarapan pagi bersama. Maka saat sarapan pagi di weekend dapat menjadi media pertemuan untuk berkomunikasi. 

3. Libatkan anak dalam kegiatan dirumah

Melibatkan anak dalam kegiatan di rumah, termasuk memasak ataupun membereskan rumah dapat mempererat hubungan antara orang tua dan anak. Berilah tugas yang sesuai dengan usia anak, jika anak masih terlalu kecil mom tetap dapat melibatkannya pada kegiatan yang sifatnya sederhana dan ringan. Misal di kegiatan memasak ajaklah mereka untuk menyiapkan sendok garpu, libatkan mereka untuk mengocok telur, atau di kegiatan membereskan rumah mereka bisa ditugaskan untuk merapikan bantal/guling dikamar mom, mencuci mobil  bersama dengan ayah.
 
4. Berceritalah 
Bercerita merupakan cara yang baik untuk mengembangkan logika dan imajinasi anak mom, juga cara jitu untuk meningkatkan kualitas dan mempererat hubungan antara orangtua dengan anak. Sebelum tidur, sempatkan waktu sebentar untuk berbagi cerita mengenai hari yang telah di lalui anak-anak serta sekilas tentang hari mom atau mom bacakan buku kesayangan mereka. Ketika mereka bercerita, jadilah pendengar yang baik dengan merespon ceritanya dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang bisa membantu mom untuk “mengenal” cara berpikir dia.

5. Jalan-jalan

Jalan-jalan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mempererat hubungan orangtua dengan anak. Disamping itu, dengan berjalan-jalan, mom dapat mengajak anak untuk terbuka dan lebih mengenal kepribadian anak. Hal ini disebabkan pada saat jalan-jalan, anak-anak dapat dengan spontan mengungkapkan apa yang mereka rasakan. Saat berjalan-jalan dengan mereka mom bisa sisipkan ilmu pengetahuan dari apa yang ada disekeliling. 

6. Menelepon/mengirim pesan singkat/video Chat 

Terkadang, meskipun hari libur mom tetap harus menyelesaikan tugas kantor. Jika kondisinya demikian, mom perlu menghubungi anak di sela-sela kesibukan pekerjaan. Sampaikan permintaan maaf karena belum dapat menemani mereka pada akhir pekan kali ini dan berikan gambaran mengenai tugas kantor mom.
Mom dapat menelepon, mengirim pesan pendek plus foto situasi mom lewat gadget Dad atau ajak dia video chat sehingga mereka bisa lihat bagaimana keadaan disekeliling kantor mom. Saat berinteraksi dengan mereka, siratkan bahwa mom tidak lupa dengan mereka dan betapa berartinya mereka di dalam hidup mom. 




SUMBER : IBU DAN ANAK  dan diambil dari berbagai sumber 

Thursday, 23 May 2013

USIA IDEAL ANAK MASUK TK





Sebelum Anda memutuskan berapa usia ideal Anak masuk sekolah TK. Anda harus memperhatikan berbagai kesiapannya walaupun pada dasarnya orang menyebutkan umur antara 4-5 tahun adalah usia yang pas. Pada dasarnya, sekolah mereka yang pertama adalah rumah. Tetapi perlu diingat bahwa anak tidak seharusnya dipaksa untuk belajar tentang sesuatu apalagi jika ia masih balita. Usia balita adalah identik dengan bermain, jadi untuk mengajar balita Anda mengenai sesuatu, Anda perlu mengintegrasikannya melalui permainan. Misalnya Anda ingin mengajar anak Anda tentang warna, Anda bisa menggunakan ring donat warna warni yang banyak tersedia di toko, atau mainan shape shorter untuk mengajar mereka warna sekaligus bentuk-bentuk geometri. Diperlukan kesabaran serta kreativitas orang tua terutama bundanya untuk membuat anak tertarik mempelajari sesuatu dan mandiri. Itu saya praktekkan pada anak saya yang tahun ini akan berusia 5 tahun dibulan Juni . Ketika usia 3 tahun teman-teman saya pada aktif menyekolahkan anaknya disekolah mahal yang notabene katanya akan membentuk karakter anak menjadi hebat, saya koq berfikir anak usia 3 tahun harus memasuki masa sekolah yang secara tidak langsung mereka sudah diporsir pemikirannya untuk kelangsungan kegiatan sekolah. Hmmm mungkin pemikiran saya ini kolot ya dimata bunda bunda yang mengaku memiliki pola fikir yang modern dan canggih. Namun saya berniat menyekolahkan marwah masuk TK itu pada usia 5 tahun , karena dari usia nol sampe skr marwah tetap bisa belajar dirumah koq.. hehe ,, 
Jika Anda merasa anak Anda sudah siap masuk TK, Anda dapat mulai membiasakan suasana dan lingkungan sekolah melalui permainan sekolah-sekolahan menggunakan boneka-bonekanya, belajar berbagi atau main bergantian dengan saudara kandung atau teman-teman di rumah serta mengajar mereka taat pada guru dengan play role tadi.
Berikut beberapa kesiapan yang harus ditunjukkan oleh anak Anda yang menunjukkan bahwa dia siap masuk TK:

  • Kesiapan Emosional
    Ini merupakan salah satu faktor penting terutama karena nantinya anak akan melakukan segala sesuatunya sendiri, tidak dibantu oleh bundanya lagi. Mengajar anak mandiri sejak dini memang perlu, tetapi kita juga harus tahu batas-batasnya. Jika dia menunjukkan sikap mandiri, siap bertemu orang luar dan bahkan siap berteman ini berarti tanda positif. Alhamdulillah memasuki usia 5 tahun ini emosional Marwah termasuk bisa terkontrol yah,dia mampu menempatkan saat-saat dia bisa meluapkan emosinya dan saat dimana dia tidak bisa meluapkan emosinya .
  • Kesiapan Fisik
    Selain kesiapan emosi kesiapan fisik juga sangat penting yaitu motorik halus dan kasarnya Motorik motorik halus misalnya melipat, menggunting, mencoret-coret, memilih pernak-pernik dan lain-lain. Sedangkan kasar seperti memanjat, melempar bola, naik turun tangga dan lain sebagainya. Tahapan kesiapan ini pun alhamdulillah Marwah udah bisa,,jadi deh masuk TK tahun ini dek..:)
  • Kesiapan Kognitif
    Dalam hal ini meliputi kemampuan anak untuk mengikuti perintah dari guru, menyampaikan perasaan, kemauan dan pendapatnya walau belum sempurna. Marwah termasuk anak yang kritis dengan gaya belajar visualisasi, Marwah mampu menyampaikan kemauan dan perasaannya serta pendapatnya secara verbal maupun non verbal.
Selain ketiga kesiapan di atas, kesiapan sosial dimana anak dapat beradaptasi dengan lingkungan baru, bergaul dengan teman-teman juga perlu diperhatikan. Jika Anda melihat semua kesiapan tersebut pada anak Anda yang berumur 4 tahun maka ia siap masuk TK. Namun pada saat usia 4 tahun Marwah saya masukan ke PAUD dekat rumah. Perhatikan bahwa masing-masing anak mempunyai tumbuh kembang yang berbeda. Jadi, berapa berapa usia ideal anak masuk sekolah Tk? Bunda pasti sudah bisa menjawabnya yaah ... 




TIPS MELATIH DAYA INGAT ANAK

Setiap orang tua tentunya ingin memiliki anaknya pintar atau memiliki daya ingat yang kuat. Dengan memiliki daya ingat yang kuat tentunya orang tua mengharapkan anaknya akan mudah menyerap pelajaran di sekolah namun selanjutnya tidak mudah lupa kembali. Dengan demikian ketika si anak mengahadapi ujian atau test, anak yang memiliki daya ingat yang kuat tidak akan kesulitan dalam menjawab soal-soal yang ditanyakan karena tentunya jawaban-jawaban yang ada telah tertancap di pikirannya. Namun tidaklah mudah memiliki anak yanng memiliki daya ingat yang kuat. Dibutuhkan banyak hal untuk mewujudkannya. Dimulai dari faktor genetis, faktor nutrisi dan yang terakhir alah faktor cara belajar atau latihan. Berikut kami akan membahas bagaimana cara melatih anak agar memiliki daya ingat yang kuat.


Usia Batita

  1. Biasakan untuk mengajarkan anak untuk membangun berkomunikasi dengan baik. Anda bisa memulainya dengan hal kecil seperti menanyakan berbagai kegiatan yang telah ia lakukan sesimpel apapun. Ia akan terpancing untuk mengingat hal yang telah ia lakukan. Misalnya, bermain dengan siapa saja, apa permainannya, atau di mana ia menaruh mainannya.
  2. Arahkan ia untuk berlatih organisasi dirinya. Bisa dimulai dengan hal sederhana, seperti menaruh barang-barang miliknya dalam kategori tertentu dan tempat tertentu. Hal ini supaya ia mudah untuk mencari dan menaruh kembali barangnya. Dengan ini, ia akan terbiasa untuk berpikir cara mengolah info yang diperoleh untuk ingatan jangka panjang kelak.
  3. Menggunakan flash card akan mempermudah ia untuk mengenal benda-benda atau istilah baru. Caranya, perlihatkan kartu tersebut beberapa kali lalu tanyakan padanya nama-nama yang ada dalam kartu tersebut. Misalnya, nama sayuran, nama profesi, dan lain-lain.
  4. Ajak anak untuk bermain melempar gelang. Caranya, ketika anak melempar gelang, minta ia untuk sambil berhitung. Tidak perlu banyak-banyak, cukup lima atau sepuluh hitungan.
  5. Bermain pasel akan sangat mengasyikkan. Gunakan pasel yang tidak rumit, misal 3-5 potong atau keping. Beri waktu ia untuk mengamati bentuknya, baru melepas pasel tersebut dari dalam bingkainya. Ajak ia untuk menyusun sesuai dengan bentuk semula.
  6. Latih batita untuk mengingat-ingat cerita yang sudah disampaikan. Contohnya, nama-nama tokoh dalam cerita tersebut atau kisah apa saja yang terjadi dalam cerita tersebut. Kegiatan ini dapat mengasah daya ingatnya.

Usia Prasekolah

  1. Berikan pertanyaan-pertanyaan setelah ia selesai berkegiatan. Misal, apa saja yang diajarkan pak guru di sekolah, berapa jumlah teman-temannya yang absen hari itu. Berikan pertanyaan terbuka agar anak tidak bingung menjawabnya.
  2. Anda bisa mencari info-info tambahan pada buku, majalah atau referensi lain terkait cara efektif untuk meningkatkan daya ingat anak. Contohnya, mencocokkan gambar dengan pasangan yang sesuai, menebak dua gambar yang serupa tapi tidak sama.
  3. Ajak anak untuk bersama-sama menyusun jadwal kegiatan setiap hari. Hal ini bertujuan untuk meningkatan kemampuan memoriya. Karena ia akan terbiasa untuk mengigat kegiatan yang sudah ia susun dalam jadwal tersebut.
  4. Menyanyi juga merupakan cara yang efektif untuk menambah daya ingatnya. Hal ini disebabkan karena ketika bernyanyi, ia juga akan belajar mengingat lirik dan nadanya.


Tuesday, 21 May 2013

PENANAMAN NILAI AKHLAK DAN MORAL PADA ANAK DI ZAMAN KINI

Betapa mirisnya wajah Indonesia yang hampir tiap hari disajikan televisi melalui siaran berita, seperti kasus pemerkosaan, tawuran, dan tindakan-tindakan kriminal yang seringkali menyebabkan jatuhnya korban, baik itu korban luka-luka hingga berujung kematian. Yang membuat lebih miris dari semua itu adalah usia para pelaku yang masih berstatus pelajar. Bahkan banyak di antara mereka masih duduk di bangku Sekolah Dasar. Terbesit banyak pertanyaan dalam benak kita, “Ada apa dengan anak bangsa ini?” Marilah kita sebagai orang tua dan guru yang hakikatnya sama-sama berperan sebagai pendidik untuk merenungkan sejenak masalah ini hingga akhirnya tumbuh kepedulian tuk merubah wajah anak negeri.
Setiap anak yang tumbuh dan berkembang, sebelum ia mengalami proses pendidikan di sekolah, sejatinya berasal dari rumah tempat ia menjalani hari-harinya bersama keluarga. Karena itu orangtualah yang memegang peran yang sangat penting dalam hal pendidikan anak, walaupun ada beberapa kondisi yang menyebabkan anak tidak bisa mendapatkan pendidikan dari orang tuanya, seperti anak yatim piatu semenjak lahir, anak yang dibuang oleh orang tuanya dll. Tetapi dalam kondisi normal, orang tua merupakan pendidik anak yang pertama dan utama. Bahkan dalam Al-Qur’an serta Sunnah banyak sekali ditegaskan tentang pentingnya mendidik anak bagi para orang tua. Anak yang terdidik dengan baik oleh orang tuanya akan tumbuh menjadi anak yang pandai menjaga dirinya dari pengaruh buruk lingkungan, karena ia telah dibekali oleh ilmu tentang hidup dan kehidupan yang di dalamnya terdapat ilmu yang paling bermanfaat yaitu ilmu agama.
Banyak sekali sekolah-sekolah yang memfasilitasi kita untuk menjadi seperti apa yang kita cita-citakan walaupun tidak selalu terwujudkan, ingin menjadi dokter ada sekolahnya, ingin menjadi guru juga ada sekolahnya begitupun dengan Profesi lain. Tetapi adakah sekolah untuk menjadi orang tua? Padahal setinggi apapun karier kita dalam profesi tertentu, sejatinya kita akan tetap menjalani fitrah yang sama yaitu menjadi orang tua, walaupun tidak semua orang ditakdirkan Allah SWT untuk dapat memiliki anak, maka bersyukurlah bagi kita yang diamanahi Allah SWT anak-anak yang menjadi penyejuk mata dan harapan di masa yang akan datang.
Setiap orang tua harus senantiasa belajar tentang ilmu mendidik anak karena tidak ada Sekolah khusus untuk menjadi orang tua. Tetapi banyak sekali yang dapat memfasilitasi hal itu jika kita bersungguh-sungguh ingin belajar menjadi orang tua yang baik, terutama di zaman ini dimana perkembangan ilmu dan teknologi begitu cepat dan mampu menembus ruang dan waktu. Orang tua yang memiliki bekal ilmu dalam mendidik anak akan sadar tentang pentingnya pendidikan anak sejak usia dini bahkan sejak anak masih berada di dalam rahim ibu, bahkan menurut penelitian, kondisi ibu saat hamil sangat mempengaruhi akhlak anak, bila ibu mampu menjaga diri dari makanan-makanan yang tidak halal dan juga perilaku-perilaku yang tidak terpuji Insya Allah anak yang lahir akan menjadi anak yang sholeh. Karena tidak ada bayi yang terlahir kecuali suci, namun ia mencontoh dari orang tua, tontonan televisi/media, guru dan lingkungan pergaulannya.
Peran Ayah
Selain faktor kondisi ibu, ada hal lain yang tak kalah pentingnya dalam pendidikan anak sejak dini yaitu peran ayah yang merupakan patner ibu dalam membentuk generasi yang tangguh dalam menghadapi tantangan zaman. Sejak anak masih berada dalam kandungan, peran suami dalam memberi dukungan serta kasih sayang pada istrinya dapat mempengaruhi kondisi kehamilan, bayi yang berada dalam kandungan ibu pun harus diajak berinteraksi oleh ayah dan ibunya sebagai tahap awal dalam mendidik anak. Selain itu memperdengarkan ayat-ayat Al-Qur’an juga terbukti dapat meningkatkan kecerdasan anak terutama kecerdasan emosi dan spiritual.
Dalam program Make Indonesia Strong from Home, seorang pemerhati anak yang biasa di panggil Ayah Edy, mengajak kita untuk membentuk masyarakat yang beradab dengan dimulai dari rumah kita masing-masing, dengan cara mendidik diri kita untuk menjadi orang tua yang dapat mendidik anak-anak kita secara benar, menjalankan kewajiban-kewajiban kita sebagai orang tua dan memberikan apa yang menjadi hak anak-anak kita. Ternyata banyak sekali faktor yang menyebabkan terjadinya masalah-masalah anak diantaranya kondisi rumah yang tidak harmonis dimana orang tua mereka tidak dapat menjadi tempat yang nyaman bagi mereka untuk mereka berbagi rasa. Bahkan tidak jarang dari mereka yang mendapat kekerasan dari orangtuanya baik itu secara fisik maupun secara psikis dan lebih memprihatinkan lagi diantara mereka pun mendapatkan kekerasan seksual dari orangtuanya.
Hal-hal itulah yang membuat karakter mereka menjadi cenderung senang berbuat kekerasan, karena merekapun dibesarkan dengan kekerasan, jadi ada semacam pelampiasan di mana mungkin mereka tidak dapat melampiaskannya kepada orang tua yang telah memperlakukan mereka dengan kekerasan maka mereka melampiaskannya kepada orang lain. Padahal Rasulullah adalah manusia yang bersikap lemah lembut terutama pada anak-anak.
Kekerasan yang di terima anak dari orang tuanya di rumah dapat menjatuhkan harga diri anak sehingga membuat mereka mencari penghargaan dari lingkungan di luar rumah terutama dari teman-teman. Mereka menjadi pribadi yang rapuh dan labil, mudah terpengaruh dan melakukan apapun agar mendapatkan pengakuan akan eksistensi mereka. Merokok agar dibilang hebat, bergabung dengan sebuah komunitas agar dibilang gaul, berpenampilan aneh agar di bilang trendy, hingga terjerumus dalam narkoba yang dianggap dapat membuat segala masalah mereka menjadi hilang, dan pergaulan bebas untuk mencari kasih sayang yang tidak mereka dapatkan di rumah kemudian akhirnya berzina untuk mendapatkan kenikmatan sesaat. Naudzubillah.
Lingkungan yang buruk membentuk anak menjadi seorang yang berkarakter buruk, menyelesaikan masalah dengan kekerasan, dan dengan kekerasan mereka menganggap masalah akan selesai padahal kekerasan yang dilakukan akan menimbulkan kekerasan yang lain. Sebagai contoh adalah kasus tawuran yang sekarang ini marak terjadi, kebanyakan pemicunya adalah kekerasan yang dilakukan baik itu berupa bullying yang diterima oleh seseorang baik itu berupa ejekan, hinaan, maupun kekerasan fisik yang berujung timbulnya rasa solidaritas dari komunitas orang itu untuk melakukan pembalasan terhadap apa yang dilakukan pada teman mereka kemudian terjadilah penyerangan yang selalu berkelanjutan. Andai mereka tahu bahwa kekerasan tidak pernah dapat menyelasaikan masalah bahkan hanya membuat masalah yang baru.
Peran Guru
Begitupun dengan pentingnya peran guru dimana anak-anak itu bersekolah, begitu kagetnya kita saat melihat di televisi ada oknum guru yang melakukan kekerasan pada anak didiknya ditambah sistem pendidikan yang terlalu fokus pada nilai ujian ketimbang penanaman nilai akhlak. Guru yang seharusnya menjadi orang yang di gugu dan ditiru terkadang belum memahami betapa mulia tugas yang di embannya yaitu sebagai pendidik generasi.
Selama ini banyak dari para guru hanya menjalankan tugasnya sebagai pengajar bukan sebagai pendidik. Bagi mereka yang terpenting target kurikulum sudah mereka sampaikan pada anak didik tanpa memberi ruh pada setiap apa yang mereka sampaikan. Karena itu negeri ini merindukan hadirnya guru-guru seperti bu Muslimah dalam Film Laskar Pelangi, Ustadz Salman dalam Negeri Lima Menara dan guru-guru lain yang ternyata ada dalam kehidupan nyata dan mampu menginspirasi anak-anak didik mereka tuk menjadi sukses.
Tampaknya pemerintah pun perlu belajar dari negeri-negeri lain seperti Jepang yang begitu menghargai profesi guru sehingga diharapkan dengan penghargaan yang layak, guru-guru negeri ini dapat termotivasi tuk lebih maksimal lagi dalam meningkatkan kualitas diri mereka sebagai pendidik dan tak lagi sibuk berdemo untuk meminta kenaikan gaji karena kesejahteraan hidup mereka yang kurang, sementara itu anak-anak murid mereka menjadi terbengkalai hak-haknya untuk mendapatkan pendidikan.
UAN Bikin Stres
Wajah anak-anak negeri inipun dipenuhi dengan beban-beban psikis tak hanya mereka dapatkan dari rumah tetapi dari sekolah yang menerapkan sistem Ujian Akhir Nasional (UAN) yang membuat mereka stres, jika dibandingkan dengan negara Finlandia yang merupakan negara dengan sistem pendidikan terbaik No 1 sedunia. Maka Indonesia harus belajar bagaimana negara Finlandia menerapkan ujian nasional berupa ujian moral bukan ilmu pengetahuan umum seperti di negara kita. Untuk Ilmu Pengetahuan Umum, pemerintah mereka menyerahkannya kepada sekolah masing-masing karena dianggap sekolahlah yang paling mengetahui sejauh mana materi yang telah disampaikan oleh para guru dan sejauh mana kemampuan anak didik mereka.
Tetapi sistem pendidikan yang diterapkan oleh pemerintah Finlandia sangat berpengaruh pada karakter warga negaranya, di Finlandia jika mereka tidak sengaja menyenggol orang ketika sedang berjalan maka mereka akan langsung meminta maaf bandingkan dengan di negara kita banyak kasus perkelahian yang terjadi hanya karena tidak sengaja menyenggol seseorang. Untuk urusan tindak kriminal pun di Finlandia memiliki presentase yang terendah, bahkan katanya walaupun kita memparkir kendaraan kita tanpa menguncinya, kita tetap merasa aman. Subhanallah, bukankah wajah negeri seperti itu yang seharusnya menjadi wajah Indonesia dimana mayoritas warganya beragama Islam?
Mari perhatikan anak-anak yang harus mengikuti sistem pendidikan negara ini, menjelang UAN mereka tampak stress, berbagai ritual mereka ikuti mulai dari teriak massal yang diyakini dapat membuang stress dan menciptakan rasa lega, bahkan diantara mereka mengikuti ritual yang bernuansa klenik. Tidak selesai di situ, pada saat UAN tiba beberapa sekolah tertangkap tangan sedang memberikan contekan demi meluluskan anak didiknya. Bagaimanakah anak-anak negeri ini dapat menjadi wajah penuh kebaikan jika hidup dalam lingkungan yang keras dan penuh ketidak jujuran, orang tua dan guru yang mestinya menjadi teladan kebaikan tetapi malah mengajarkan hal yang sebaliknya.
Masih lekat dalam ingatan kita tawuran yang terjadi antara pelajar SMK Kartika Zeni dan SMA Yayasan Karya 66 . Akibat tawuran itu satu orang pelajar tewas. Beberapa tersangka tawuran berhasil diamankan oleh pihak berwajib, saat Menteri Pendidikan M.Nuh bertanya kepada salah seorang pelaku pembunuhan tentang bagaimana perasaannya, dengan santainya ia menjawab “ saya puas telah membunuhnya.” Satu hal lagi yang perlu kita ketahui, bahwa pelaku tawuran yang membunuh rekannya sesama pelajar di Bulungan merupakan siswa yang semasa SMP selalu mendapatkan peringkat pertama di sekolahnya. Ternyata kepintaran siswa/I kita tidak lantas menjadikan mereka pribadi yang berakhlakul karimah.
Semua masalah yang terjadi pada anak-anak negeri ini bagaikan mata rantai yang saling berkaitan satu sama lain. Karenanya sebagai orang tua, guru dan juga pemerintah harus saling mendukung dalam hal pendidikan anak. Peran orang tua adalah menjadi pendidik anak yang utama, dan harus diingat bahwa mendidik anak bukan hanya tugas seorang ibu, tetapi kehadiran seorang ayah dalam hal mendidik anak juga tidak kalah pentingnya. Bukankah di dalam Al-Qur’an begitu banyak ayat-ayat yang mengabadikan kisah para ayah yang mendidik anaknya untuk senantiasa beribadah kepada Allah SWT diantaranya kisah Lukman dengan anaknya serta Nabi Ibrahim as dengan Nabi Ismail as anaknya.
Sementara yang terjadi pada saat ini banyak anak-anak kita kehilangan figur seorang ayah, bagi mereka ayah adalah sosok yang harus ditakuti, karena ayah menempatkan diri hanya sebagai pemberi nafkah dan orang yang memiliki kekuasaan atas istri dan anak-anaknya bukan sebagai teladan yang dapat dijadikan sahabat untuk berbagi sehingga tercipta suasana penuh keakraban yang membuat anak merasa aman dan nyaman. Ibu dan ayah hendaknya selalu meluangkan waktu membuka komunikasi dengan anak, mendengarkan pendapat serta perasaan anak, berdiskusi dengan anak tentang perilaku baik dan buruk serta konsekuensinya, dan semua itu harus dikemas dalam nilai-nilai agama yang berorientasi pada akhirat.
Sebagai orang tuapun hendaknya menjadikan rumah sebagai tempat dimana anak merasa nyaman sehingga kemanapun anak pergi, ia dapat merasakan kerinduan untuk kembali ke rumah karena di rumah ia mendapatkan apa yang ia butuhkan, dan rumah yang ternyaman adalah rumah yang senantiasa menghadirkan Allah SWT di dalamnya, rumah yang menjadi Baiti Jannati, surga sebelum surga yang sebenarnya. Jika orang tua selalu menghadirkan Allah SWT dalam diri anak, maka anak akan selalu merasakan pengawasan Allah SWT dalam setiap tindak tanduknya.
Oleh sebab itu sebagai orang tua marilah kita sama-sama memperbaiki pola asuh kita, anak adalah amanah Allah SWT yang akan kita pertanggung jawabkan di hadapanNya kelak. Begitupun peran guru yang menjadi pengganti orangtua di sekolah, guru pun memiliki peran penting dalam membentuk akhlak anak didiknya dan pemerintah harus memberikan perhatian yang besar dalam memperbaiki sistem pendidikan yang lebih ramah anak dan lebih menitik beratkan kepada Nilai Akhlak dan Moral.***Wallahu a’lam.


 Dikutip dari berbagai sumber dan beberapa artikel 

5 Hal Penyebab Tantrum


Tantrum atau marah dan cenderung mengamuk pada anak merupakan kondisi yang sering dihadapi orangtua. Apa saja yang dapat menjadi faktor penyebabnya?

1.Pola bahasa anak
Anak berusia di bawah lima tahun kerap kesulitan dalam menyampaikan bahasa verbal. Kadang kita tidak mengerti apa yang mereka inginkan, akibatnya penggunaan emosi mereka tak dapat dihindari. Perhatikan pola bahasa tubuh Si Kecil, dan bersikaplah tenang dalam memenuhi kebutuhannya.

2.Apakah tidurnya nyenyak?
Saat anak tidak memiliki kualitas tidur malam yang baik, mereka akan cenderung rewel dan mudah marah di siang hari. Bila gangguan tidur anak terlalu sering, konsultasikan ke dokter terpercaya.

3.Cek pola makan anak
Perut Si Kecil yang lapar lapar juga merupakan salah satu hal yang membuat mereka tidak merasa tenang. Pastikan diet gula harian Si Kecil seimbang agar tidak terjadi obesitas. Variasikan menu anak, dan penuhi kecukupan nutrisi anak.

4.Penuhi waktu main di luar
Anak-anak merupakan individu yang cepat merasa bosan pada satu hal. Bermain di luar rumah akan membuat mereka merasa gembira dan segar.

5.Istirahat sejenak
Waspada rutinitas anak yang terlalu tinggi. Kini, banyak kegiatan yang bisa Si Kecil lakukan melalui program kursus yang berguna bagi masa depannya. Namun, bila ia merasa bosan dengan kegiatan kursusnya, berikan waktu untuk Si Kecil untuk beristirahat.

Friday, 3 May 2013

APA SIH TEMPER TANTRUM ITU ? DAN BAGAIMANA MENGATASINYA? DAN APA YA PENYEBABNYA ?

Pengertian temper tantrum adalah perilaku marah pada anak-anak prasekolah. Mereka mengekspresikan kemarahan mereka dengan berbaring di lantai, menendang, berteriak, dan kadang-kadang menahan napas mereka. Tantrum yang alami, terjadi pada anak-anak yang belum mampu menggunakan kata-kata untuk mengekspresikan rasa frustrasi mereka, karena tidak terpenuhinya keinginan mereka.
Dikutip Colorado State University Extension, R.J. Fetsch and B. Jacobson mengatakan bahwa tantrum biasanya terjadi pada usia 2 sampai 3 tahun ketika anak-anak membentuk kesadaran diri. Balita belum cukup memahami kata “aku” dan “keinginan dirinya” tetapi sangat mudah untuk tahu bagaimana memuaskan apa yang diinginkan. Tantrum adalah hasil dari energi tinggi dan kemampuan yang tidak mencukupi dalam mengungkapkan keinginan atau kebutuhan “dalam bentuk kata-kata”.


Tantrum biasanya terjadi pada usia 2 dan 3 tahun, akan mulai menurun pada usia 4 tahun. Mereka biasanya mengalami ini dalam waktu satu tahun. 23 sampai 83 persen dari anak usia 2 hingga 4 tahun pernah mengalami temper tantrum.
Kebanyakan anak-anak membuat ulah di tempat tertentu dan juga dengan orang tertentu. Mereka biasanya akan melakukan hal ini ketika mereka tahu ada larangan “tidak” untuk sesuatu yang dia ingin lakukan. Ketika anggota keluarga yang lain menanggapi tantrum dengan sikap kasar dan bahkan sampai memukul, maka masalah akan meningkat. Mengamuk biasanya akan berhenti bila anak mendapat apa yang diinginkan. Tingkat kemarahan anak tergantung bagaimana besarnya energi anak dan juga kesabaran orang tua.
Ada banyak sebab temper tantrum. Beberapa penyebab adalah indikator masalah keluarga: disiplin yang tidak konsisten, mengkritik terlalu banyak, orang tua yang terlalu protektif atau lalai, anak-anak tidak memiliki cukup cinta dan perhatian dari orangtua mereka, masalah dengan pernikahan, gangguan bermain, baik untuk masalah emosional orang tua, pertemuan orang asing, persaingan dengan saudara atau saudari, memiliki masalah dengan bicara, dan penyakit atau sakit. Penyebab umum lainnya termasuk karena rasa lapar atau lelah.
Anak yang sedang marah sering mengalami masalah lain seperti mengisap jempol, membenturkan kepala, membasahi tempat tidur dan sulit tidur. Jika perilaku ini terjadi, atau jika anak Anda marah lebih dari 15 menit atau terjadi lebih dari tiga kali sehari, carilah bantuan dari seorang tenaga ahli seperti psikolog anak.
Orang tua dapat belajar bagaimana memelihara dan menegakkan disiplin secara efektif. Terlalu permisif dengan disiplin yang longgar membuat segala sesuatu harus dipenuhi. Sebaliknya, terlalu otoriter tidak baik dalam pengasuhan anak, coba sekali-kali gunakan gaya pengasuhan dengan lebih mendengarkan suara anak. Gaya pengasuhan otoriter adalah gaya pengasuhan yang belum mengakui hak-hak anak. Intinya adalah keseimbangan dalam pengasuhan, kapan orangtua perlu bertindak disiplin dan kapan perlu mendengarkan keinginan dan hak anak.
Dikutip dari Children’s Hospital of Philadelphia, berikut ini adalah petunjuk yang paling tepat dan bermanfaat tentang cara mengatasi temper tantrum:
  • Tetap tenang.
  • Terus lakukan kegiatan anda. Abaikan anak sampai dia lebih tenang dan tunjukkan aturan yang sudah disepakati bersama.
  • Jangan memukul anak Anda. Lebih baik mendekapnya dalam pelukan sampai ia tenang.
  • Cobalah untuk menemukan alasan kemarahan anak Anda.
  • Jangan menyerah pada kemarahan anak. Ketika orang tua menyerah, anak-anak belajar untuk menggunakan perilaku yang sama ketika mereka menginginkan sesuatu.
  • Jangan membujuk anak Anda dengan imbalan yang lain untuk menghentikan kemarahannya. Anak akan belajar untuk mendapatkan imbalan.
  • Arahkan perhatian anak pada sesuatu yang lain.
  • Singkirkan benda-benda yang berpotensi berbahaya dari anak Anda.
  • Berikan pujian dan penghargaan perilaku bila tantrum telah selesai.
  • Tetap jaga komunikasi terbuka dengan anak Anda.
Semoga membantu, demikian penjelasan mengenai pengertian, sebab dan cara mengatasi temper tantrum. 

Dikutip dari berbagai sumber dan artikel ...