July 2013 - Cerita Ibu - Parenting Blogger Indonesia

Wednesday, 31 July 2013

MENINGKATKAN KEPINTARAN ANAK
Setiap anak memiliki kemampuan berkomunikasi. Namun, tingkat pencapaian penguasaannya berbeda-beda pada setiap anak. Meski demikian, latihan dan rangsangan yang dilakukan terus menerus dapat mengembangkan keterampilan berbahasa. Misalnya, pada anak tuna rungu. Sejauh organ bicara anak berfungsi baik, jika dilatih terus menerus ia dapat berbicara meski dengan cara atau bunyinya sendiri.

Untuk mengoptimalkan keterampilan berbahasa anak, berbagai aktivitas bersama si kecil ini cukup membantu:

Membacakan cerita

Membacakan cerita atau dongeng umumnya disukai anak-anak. Anda bisa melakukannya sejak anak masih bayi sekalipun. Bacakan cerita dengan ekspresif dan intonasi suara jelas. Untuk batita, sebaiknya bercerita menggunakan buku cerita bergambar.

Sehingga, sambil bercerita Anda bisa menunjukkan nama bendanya atau gambamya. Buat balita dan anak, kegiatan bercerita bisa tidak menggunakan buku. Dengan demikian, sekaligus mengasah imajinasi anak.

Merangkai Cerita

Anak-anak gemar ‘membaca’ gambar. Adakalanya ia ‘sok’ bisa membaca. Dibacanya kalimat dalam buku sambil ia menunjuk tulisan. Tetapi, sebenarnya ia menerjemahkan gambar yang dilihatnya dengan tulisan dalam buku. Artinya bacaan itu dikarangnya sendiri. Nah ada bisa membantu anak merangkai gambar menjadi cerita. Misalnya, gambar gajah dan anak-anaknya, mintalah anak merangkainya menjadi cerita sederhana.

Bermain Peran

Anak-anak umumnya suka bermain peran. Permainan ini juga merangsang kemampuan bicara anak, sebab, dalam adegan yang dimainkan anak terdapat dialog. Doronglah anak bermain peran dengan kakak atau temannya. Sediakan sarananya, misal alat-alat dokter jika anak ingin menjadi dokter. Buku dan pensil untuk berperan sebagai guru dan murid. Atau boneka dan alat-alat masaknya jika ia ingin berperan sebagai orangtua dan anaknya. Doronglah berdialog dengan baik.

Berdiskusi

Meski anak masih batita sekalipun Anda bisa mengajaknya berdiskusi. Banyak hal di sekitar kita yang menjadi bahan diskusi. Misalnya, jika melihat semut. Anda bisa bertanya, “semut itu punya rumah enggak ya? Kira-kira rumahnya di mana ya? Kenapa ya dia suka yang manis-manis, dan sebagainya.”

Acara diskusi ini juga membuat anak mudah mengungkapkan perasaannya, dan bercerita apa yang dia rasakan atau alami.

Bermain Huruf dan Angka

Saat anak sudah mengenal huruf dan angka, Anda dapat mengajak anak melakukan permainan ini. Caranya mudah, ambillah sebuah buku, misalnya buku ceritanya, dan mintalah anak mencari huruf tertentu atau angka tertentu, minta ia sebutkan setelah itu lingkari dengan pena. Atau, gunakan kartu-kartu gambar. Mintalah anak menyebutkan huruf awai kata “Bebek, semut, tomat, dan sebagainya.”

Bermain Tebak Kata


Permainan ini sangat menarik anak-anak. Misalnya, mintalah anak menyebut nama benda apa saja yang huruf awainya “M,” atau “S”, dan sebagainya. Atau, Anda dapat bermain tebak kata dengan menunjukkan cirri-ciri benda yang diinginkan. Misalnya, “wamanya coklat kehitaman, kulitnya bersisik, buah apa namanya?” Lakukan secara bergiliran dengan anak.
KAPAN SAYA BOLEH MARAHI ANAK???
Mendidik anak hingga menjadi pribadi yang baik tidak semudah membalikan telapak tangan. ada kalanya orang tua kesal melihat tingkah sang anak, lalu bagaimana sebaiknya orang tuan breaksi atas kekesalan itu?
 
Saya pernah kesal sama Marwah yang ketika itu berusia 4 tahun, dia menjatuhkan laptop saya, perasaan emosi berkecamuk,semua file yang ada di laptop musnah sudah karena hardisknya rusak, mau marah gimana, Marwah belum ngerti,bingung saya,,. Saya tidak mau memiliki kriteria ibu pemarah dihadapan anak saya,walau kadang saya suka marah karena perasaan kesal yang menjadi-jadi. Biasanya kalau saya capek dan mendapati Marwah sedang tidak dalam porsinya , itu yang membuat saya marah besar,mungkin karena kondisi capek yang membuat emosi saya melonjak.

Dampak Kemarahan pada Anak
Marah merupakan sesuatu yang alamiah agi setiap manusia. Begitu juga dengan rangtua, ia bisa marah karena jengkel atau sebel dengan perbuatan anak. Namun sagat disayangkan, jika kemarahan orangtua lentik dengan pukulan fisik, kekerasan veral (umpatan, makian, dan cacian), dan meimbulkan luka psikis bagi anak.

Membentak anak sepertinya sudah menjadi kebiasaan sebagian orangtua. Saat melihat anak melakukan kesalahan, atau ketidakpatuhan, orangtua memang sering dibuat jengkel dan marah. Secara pribadi membentak anak adalah cara jitu membuat anak diam dan mau mengikuti aturan main kita,namun membentak memiliki efek negatif terhadap anak.

Secara refleks, karena emosi, orangtua sering bermaksud menasihati, tapi diucapkan engan nada tinggi. Kebiasaan ini juga lebih iring dilakukan oleh orangtua yang tempramental. Pertanyaannya, efektifkah menasihati anak dengan bentakan? Tentu tidak,



sebab kalau anak terlalu sering dibentak, ia bisa tumbuh menjadi pribadi yang minder, tertutup, bahkan pemberontak, la pun bisa menjadi temperamental dan meniru kebiasaan orangtuanya, suka membentak. Karena anak dalah cerminan orangtua. Maka dari itu saya selalu hati - hati dalam bertindak menyikapi Marwah. Namun namanya juga manusia kadang saya khilaf dan terkadang suka membentak Marwah walaupun memang jarang,namun sangat merasa berdosa sekali.
Di sisi lain, bentakan, teriakan, cacian  dapat dikategorikan sebagai tindak kerasan secara verbal dan emosional. Efeknya, bisa menjadi berat dan berbahaya jika terjadi berkali-kali atau dalam waktu yang berkepanjangan.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan dalam Jurnal Current Biotogy memaparkan penggunaan scan khusus otak untuk mengeksplor dampak dari kekerasan fisik terhadap perkembangan emosional anak. Para peneliti menemukan, remaja yang pernah mengalami kekerasan atau pelecehan memiliki lebih sedikit area grey matter jaringan yang berisikan sel-sel otak di beberapa bagian otak dibandingkan dengan remaja yang tidak pernah mengalami kekerasan atau pelecehan.

Jika ini terjadi, bisa menyebabkan remaja tersebut sulit untuk berpikir jernih dan tangkas. Hillary Blumberg, profesor psikiatri dari Yale School of Medicine, New Haven, menambahkan, hasil scan menunjukkan bahwa kekerasan pada anak perempuan menyebabkan terjadinya perbedaan di area otakyang berhubungan dengan pengolahan emosional. Hal ini membuatanak perempuan lebih rentan mengalami gangguan mood, seperti depresi.

Sementara pada anak laki-laki yang mengalami kekerasan, akan terjadi perubahan di area kendali impuls, yang bisa membuat mereka lebih rentan terhadap kecanduan narkoba dan alkohol.

Menurut Emmy Soekresno, S.Pd, orangtua boleh menunjukkan emosi marah pada anak. Bagaimanapun, anak perlu tahu jika mereka berbuat salah, namun dengan cara yang bijak. "Orangtua tidak boleh terlalu keras, misalnya membentak kasar, apalagi memukul," kata Emmy, yang ditemui dalam sebuah seminar di kawasan Kampung Melayu. Kalau anak berbuat salah, sebaiknya orangtua menarik napas panjang atau pergi ke ruangan lain untuk menetralkan emosi dan kemarahan. Setelah tenang, barulah kembali kepada anak.

"Tunjukkan sikap marah Anda dengan bijak. Karena anak balita akan menanam dalam bentuk apapun. Termasuk sikap kemarahan orangtua terhadapnya, yang bisa berpengaruh pada pertumbuhan jiwanya di masa mendatang,"ungkapnya.

Ada Konsekuensi, Ada pula Hadiah
"Untuk menjadi seorang ibu yang sabar dan bijak butuh proses. Jika anak berbuat salah, orangtua wajib menegur agar perbuatan salah tidak diulangi. "Dengan menegur anak, hal ini mengajarinya bagaimana menghadapi persoalan," ujar pakar pendidik Emmy Soekresno. "Hal ini akan membantunya menjadi pribadi yang tangguh dan mandiri. Jadi tidak harus dibentak atau dipukul,"tambahnya.

Orangtua perlu bijak mengelola rasa marah dan menunjukkan marah dengan cara yang tepat. Lalu bagaimana marah yang benar dan tepat? "Yang menonjolkan aspek tanggung jawab anak, melalui pemberian konsekuensi dari setiap perilakunya. Konsekuensi itu tidak selalu menyenangkan, bisa saja tidak menyenangkan, misalnya, kalau mengotori rumah, konsekuensinya membersihkan. Kalau

"Tunjukkan sikap marah Anda dengan bijak. Anak balita akan menanam dalam bentuk apapun. Termasuk sikap kemarahan orangtua terhadapnya, yang bisa berpengaruh pada pertumbuhan jiwanya di masa mendatang."

tidur malam, konsekuensinya terlambat bangun," ungkap pemilik sekolah Jerapah Kecil Smart Star ini.
Orangtua yang bisa mengelola emosinya dengan baik akan berdampak positif bagi perkembangan pribadi anak. Anak dapat mengembangkan rasa percaya diri melalui rasa aman yang tercipta. Anak juga mampu mengembangkan kematangan emosinya, tanggung jawab, kemandirian, dan anak pun sehat secara mental karena berada di lingkungan yang penuh rasa aman, tenteram, dan kehidupan yang diwarnai kegembiraan.

Sebaiknya, konsekuensi yang akan diterima anak sudah dibicarakan bersama anak. Anak jadi tahu apa yang akan diperoleh jika berperilaku tidak baik, anak pun akan merasa lebih dihormati dan dihargai keberadaannya. Konsekuensi tidak dibuat sepihak, sebab kalau hal ini dilakukan, anak akan merasa makin diperlakukan tidak adil.

Selain itu, menurut Emmy, konsekuensi disarankan tidak menyakiti anak, baik fisik maupun psikis. Agar lebih mengena, konsekuensi yang diberikan merupakan hal yang tidak disenangi anak. Jika anak tidur larut malam karena keasyikan main atau nonton teve, konsekuensinya (misalkan) besok tidak akan diajak liburan.

Selain konsekuensi, jangan lupa pula memberi hadiah (reward)jika anak berperilaku baik. Hadiah bisa berupa uang, bisa juga berupa pujian. Dengan begitu, anak akan merasa diperhatikan. Memberi hadiah atau upah saat melakukan sesuatu tidak perlu terlalu besar. Hal yang paling penting bukan uang atau hadiahnya, melainkan semangatnya. Artinya, jika anak ingin mendapatkan sesuatu, ia harus bekerja dan melakukan sesuatu yang produktif, tidak sekadar meminta. Jadikan anak sebagai sahabat hingga ia merasa nyaman berada di dekat orangtuanya.

Wednesday, July 31, 2013

SIFAT KHAS ANAK BALITA

by
SIFAT KHAS ANAK BALITA
Ada alasan mengapa anak balita atau batita  mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu.Perilaku inipun dialami oleh Marwah yang saat ini berusia 5 tahun, sikap egois dan agresif dia mulai terasa semenjak umur 3tahun. Awalnya saya sangat khawatir sekali, Kekhawatiran itu terjawab sudah dengan rajin searching dan baca-baca artikel referensi,sehingga disini saya dapat simpulkan bahwa ada 5 khas sifat anak yang sangat perlu kita ketahui dan perlu kita mengerti. Bukan hanya diketahui saja tapi juga harus dimengerti dan difahami yaa..

Ada alasan mengapa anak batita atau balita  mulai menunjukkan sifat egois, agresif, bossy, tapi juga suka menyendiri, dan bahkan pemalu. Semuanya wajar asalkan tidak menetap dan sampai menghambat pengembangan dirinya.
Untuk itulah sifat-sifat khas tersebut tetap perlu diintervensi agar dapat menempati porsinya yang pas dan memberi kesempatan kepada sifat lain yang lebih baik untuk berkembang sebagai karakter anak. Nah, bagaimana mengintervensi ke-5 sifat tersebut?

1. EGOSENTRIS

Sifat yang umumnya muncul pada usia 15 bulanan (atau saat anak sudah sadar akan dirinya/self awareness) ini disebabkan oleh ketidakmampuan si kecil dalam melihat suatu hal dari sudut pandang orang lain. Jadi semua masalah akan diteropong dari kaca mata dirinya. Lantaran sifat ini juga, anak batita selalu “here and now.”

Bila ingin sesuatu harus didapat saat itu juga alias tidak mau menunggu. Misal, saat ia minta es krim pada malam hari ya dia enggak mau tahu harus mendapatkannya saat itu juga. Contoh lain, si kecil merebut mainan temannya. Meski temannya menangis, ia tidak peduli karena ia “berprinsip” “saya suka, saya mau, maka saya harus dapatkan”

Bila dilihat dari perkembangan kognitif, sifat egois akan menghilang saat usia anak 6 tahun. Karena semakin besar anak, lingkungan sosial akan menuntut anak untuk sadar akan lingkungan, selain sadar diri. Nah, pada saat usianya menginjak 3 tahun, sebenarnya anak sudah mulai sadar akan tuntutan sosial tersebut namun perlu stimulasi dari orangtua.

Egosentris yang dibiarkan terus---dalam arti anak selalu mendapatkan apa yang diinginkannya tanpa mempertimbangkan adanya aturan-aturan sosial---bisa menetap sampai si kecil beranjak dewasa dan anak akan dicap buruk oleh lingkungan.

Cara menyiasati

Memang masih agak sulit batita diberi pengertian. Meski ada beberapa anak yang sudah bisa. Namun bagaimanapun di usia batita ini orangtua sudah harus menerapkan aturan-aturan disertai pengertian kepada anak bahwa tidak semua keinginan anak harus terpenuhi. Pada contoh kasus es krim di atas, berilah anak pengertian. Misalnya, ”Hari sudah malam, Dek. Mataharinya juga sudah tidur dan tokonya tutup. Saat mataharinya bangun pagi nanti, baru kita bisa beli es krim.” Jadi, yang penting adalah aturan harus diberikan secara konsisten.

2. BOSSY ATAU SUKA PERINTAH

Bossy sebenarnya masih berhubungan dengan sifat egosentris. Sifat ini merupakan kelanjutan dari usia bayi di mana anak sebelumnya selalu diladeni. Saat memasuki usia batita dimana anak sudah tidak lagi bergantung sepenuhnya dengan orang dewasa---dalam arti ia sudah bisa jalan, bicara, dan melakukan apa pun yang diinginkannya---anak merasa memiliki otonomi. Sikap otonom ini sering dibarengi dengan sikap menyuruh orang lain demi mendapatkan apa yang diinginkan. Seperti, “Mbak, ambilin susu” atau “Bukain sepatu.” Kondisi ini bisa “diperparah” bila ada model orang dewasa di sekitar anak yang selalu bersikap bossy, atau memang anak tidak dibiasakan mandiri.

Yang jelas, sifat bossy tidak akan menghilang dengan sendirinya. Karena anak merasa keenakkan. Ngapain capek-capek melakukan sesuatu kalau hanya dengan menyuruh saja, ia mendapatkan apa yang diinginkan? Perilaku suka perintah di usia batita jadi bisa dianggap lucu. Tapi begitu anak sudah lebih besar lagi, percaya deh kalau sifat itu akan menjengkelkan banyak orang sehingga ia akan dijauhi teman-temannya.

Cara menyiasati

- Ajarkan kemandirian (dari hal-hal sederhana) secara bertahap seperti cuci tangan sebelum makan, makan sendiri, buka sepatu dan lain sebagainya.

- Jangan menampilkan sikap bossy pada siapa pun (termasuk pada PRT) karena si kecil akan mudah “terinsiprasi” untuk bertingkah laku yang sama.

- Bila anak sudah kadung bossy dan terbiasa main suruh, coba bangun kemandiriannya dan dorong ia untuk mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Misal, “Dek coba yuk buka sepatunya sendiri. Mama temani.”

3. AGRESIF

Sifat ini sebetulnya sudah tampak sejak usia bayi (terutama pada bayi dengan temperamen sulit). Namun akan semakin kerap kemunculannya di usia batita. Si kecil merasa keinginannya tidak dipahami oleh orang dewasa (berkaitan dengan komunikasi anak batita yang masih terbatas). Agresivitas juga dapat muncul karena kebiasaan. Misal, anak belajar dari pengalamannya jika ia berteriakteriak atau melempar barang maka orang akan memenuhi apa pun yang ia inginkan. Atau kalau ia memukul temannya, maka si teman akan memberikan mainan yang diinginkan kepadanya.

Sifat agresif yang tidak diantisipasi bisa menjadi habituasi dan berlanjut hingga usia dewasa nanti. Di saat usia anak tentunya ia akan dijauhi teman-teman, dicap nakal, sehingga pada akhirnya anak sendiri akan menerima bahwa dirinya “trouble maker” hingga ia besar nanti.

Cara menyiasati

* Saat anak tantrum, peluk atau pegang tangan/badannya. Biarkan ia marah. Setelah kemarahannya reda orangtua bisa tanyakan penyebabnya sesuai dugaan atau perkiraan orangtua. Misal, “Adik pasti sedang marah sekali ya karena ibu tidak beli es krim buat kamu sekarang? Ibu tahu, adik ingin es krim. Tapi hari sudah malam, mataharinya sudah tidur dan tokonya sudah tutup. Kalau mataharinya sudah bangun dan tokonya buka, kita nanti beli sama-sama, ya?” Dalam keadaan emosional, anak batita akan bingung mengatakan apa penyebab rasa kesalnya. Lebih baik, kita yang mendefinisikan perasaannya. Cara ini membuat anak merasa dipahami perasaannya.

* Jangan menanggapi agresivitas anak dengan cara yang agresif pula. Contoh, saat ia memukul temannya, jangan kita malah mencubit anak untuk menghentikan aksinya itu. Benar sih anak tidak akan meneruskan pukulannya, namun anak justru memperoleh gambaran bahwa sikap kasar itu diperbolehkan.

* Beri penjelasan. Memang bukan pekerjaan mudah menjelaskan pada anak batita. Karena hanya sekali diberi tahu tidak akan membuatnya patuh dan melupakan sifat agresifnya. Jangan putus asa, lama-kelamaan jika selalu dijelaskan, anak akan belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu tidak harus dengan sikap agresif.

4. PEMALU

Si kecil kerap bersembunyi di balik kaki ibu/bapak atau terusmenerus memegangi baju kita saat bertemu orang lain? Atau kala ditanya, anak memilih diam dan menundukkan kepala? Kalau memang ya, bisa jadi memang ia pemalu. Namun bisa juga karena ia takut pada orang asing atau tidak terbiasa bertemu dengan orang banyak.

Umumnya, sifat pemalu anak yang karena pembawaan pribadi (diturunkan dari orangtua yang juga pemalu dan tidak suka bersosialisasi) akan terbawa sampai dewasa. Meski tak ada dampak buruk pada anak, namun bisa membuat anak kehilangan peluang dalam dalam berbagai hal, dibandingkan dengan anak yang aktif dan berani. Sifat pemalu juga membuat anak sulit mengembangkan diri dan beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Cara menyiasati

Untuk menghadapi anak pemalu sebaiknya orangtua sering membawanya untuk bersosialisasi. Latih sejak dini dengan memasukkan anak pada lingkungan sosial dimana banyak anak bermain seperti di taman bermain. Awalnya mungkin anak merasa takut, jadi temani sementara waktu.

Setelah beberapa lama biasanya anak bisa ditinggal dan berbaur bersama anak-anak lainnya. Bisa juga anak diajak ke tempat-tempat pertemuan atau ketika orangtua bertemu dengan kenalan di jalan, anak bisa diminta untuk mengenalkan dirinya atau menyapanya. Misal, “Sayang, kenalin nih. Ini tante Diba. Ayo salam. Beri tahu siapa nama Adek.”

5. PENYENDIRI

Sifat penyendiri pada usia batita---selain dikarenakan perkembangan kognitif anak dalam melihat sesuatu masih dari sudut pandangnya sendiri---perkembangan sosialnya pun masih belum berkembang baik. Anak baru mulai sadar akan adanya tuntutan dari lingkungan sosial di usia 3 tahun ke atas. Lantaran itulah, saat bermain, anak tampak soliter (lebih suka bermain sendiri) meski ada teman di sampingnya. Sifat penyendiri akan menghilang setelah usia batita. Apalagi jika anak sudah berelasi dengan teman-temannya. Namun pada beberapa anak memang sifat penyendiri ini bisa menjadi kebiasaan yang terbawa pula sampai nantinya.

Soal dampak, sebenarnya sifat penyendiri tak jadi masalah. Bahkan hingga usia dewasa pun sebetulnya sifat ini terkadang diperlukan. Karena adakalanya manusia perlu sebagian waktu untuk menyendiri dan sebagian waktunya lagi bersosialisasi. Hanya kalau sifat penyendiri si batita sudah keterlaluan, misal, dia lebih memilih menyendiri sampai 24 jam terus-menerus, ya tidak boleh dibiarkan. Sebab anak tetap perlu beradaptasi dan bersosialisasi dengan lingkungan sosial yang ada.

Cara menyiasati

Sama seperti halnya anak yang pemalu, orangtua perlu mengajak anak dalam kegiatan bersama dan bersosialisasi. Mulailah dari lingkungan orang dekat, seperti taman bermain dekat rumah yang banyak dikunjungi anak-anak tetangga, dan acara keluarga agar anak mengenal sepupu dari keluarga ayah dan ibunya. Setiap saat, ajaklah anak berkomunikasi dan jangan lupa sediakan waktu untuk mendengarkan dan menanggapi setiap ujarannya. Semakin ia percaya bahwa kita bersedia menjadi pendengarnya yang sabar, anak akan semakin berani bicara dan lebih bersikap terbuka.

Semoga Bermanfaat
 
 
 
BILA BALITA RAJIN MEMBANTAH
Perubahan perilaku dari penurut menjadi pembantah pada balita 3-4 tahun, itu normal. Senang membantah orang yang lebih superior  - orangtua, pengasuh, nenek, kakak -  menurut pakar psikologi perkembangan Erik Erikson, terjadi karena anak tengah mengalami dua tahapan perkembangan. Pertama, tahap otonomi versus rasa malu dan ragu, kedua tahap inisiatif versus rasa bersalah.  
Pada tahap otonomi versus rasa malu dan ragu, anak mencoba bersikap mandiri dalam tugas tumbuh kembangnya, termasuk melatih motorik kasar dan halus. Perasaan malu dan ragu timbul bila ia merasa tidak diberi kebebasan, lantaran orangtua banyak membatasi.

Sedangkan  tahap inisiatif versus rasa bersalah adalah tahap ketika anak mulai berinisiatif mencari pengalaman baru dan  beraktivitas melalui kemampuan indera-indera. Tahap ini  membuatnya tidak mau  banyak dilarang.

Selain itu, menurut Eric, di usia 3-4 tahun anak  juga sedang menumbuhkan konsep diri -membentuk sikap- hasil penggabungan kedua tahapan di atas.  Jika anak membantah, namun hanya sesekali, itu masih wajar sebab menunjukkan adanya perkembangan kemandirian atau keinginan mengatur diri. Tetapi bila terlalu sering atau bahkan selalu, musti disiasati dengan kompromistis agar perbedaan pendapat bisa dijembatani dengan baik, dan hubungan tidak rusak gara-gara berbantahan.
  • Respon dengan humor. Jangan terpancing untuk marah, apalagi bila anak bersikeras melakukan sesuatu yang tidak berbahaya. Katakan saja, ”Oh, kamu main air supaya tanganmu bersih, ya? Tapi tanganmu bisa kedinginan dan pilek kalau dicuci berkali-kali.”
  • Tetap ingatkan kewajiban. Untuk hal-hal yang bersifat wajib, tidak ada toleransi untuk berkelit dan bebas. Ingatkan terus anak. Misalnya,  tugas membereskan mainan atau menggosok gigi, katakan dengan tegas namun tidak berteriak.
  • Gunakan psikologi terbalik. Ketika ia tidak mau membereskan mainan,  coba katakan, ”Ya, sudah, nggak apa-apa kalau kamu tidak mau membereskan mainan. Mainanmu akan ibu sumbangkan kepada anak yang rajin merapikan mainan." Dengan psikologi terbalik, anak berpikir Anda tidak peduli terhadap reaksinya. Itu akan memancingnya untuk berbuat sebaliknya.
  • Mengajak, bukan memerintah. Misal, ”Yuk, parkir sepedamu di gudang,"  lebih baik untuk ego anak daripada “Sana, simpan sepedanya di gudang!". Jangan lupa, nada suara Anda penting -tidak perlu berteriak atau membentak.
  • Terangkan dengan spesifik. Tugas yang lebih spesifik akan lebih mudah dilakukan oleh anak. Misalnya, ketika Anda ingin dia merapikan mainan, katakan, “Yuk, taruh mobil-mobilanmu di kotaknya,” bukannya perintah umum, "Rapikan mainanmu.”
  • Ajarkan anak kata-kata untuk mengekspresikan perasaan. Terkadang anak mebantah Anda sekedar untuk menunjukkan perasaan tidak senang, protes, atau marah. Cek dengan bertanya, ”Kamu marah? Apa yang membuatmu marah?" Dengarkan, sambil membantunya memilih kata-kata.
  • Jangan larang, tapi beri usul. Angie T.Cranor, Ph.D, asisten professor di universitas North Carolina, Greensboro, AS, mengatakan, daripada melarang anak melakukan sesuatu, lebih baik usulkan alternatifnya. Kalimat “Jangan lompat-lompatan di tempat tidur" dapat memancing argumentasi. Lebih baik usul, “Kita lompat-lompatan di trampolin barumu, yuk?
  • Mengalihkan perhatian. Alya senang menyemplungkan kue atau nasi ke mug ayah yang masih berisi kopi. Puluhan  kali bundanya mengatakan "jangan", tidak mempan menghentikan tindakan impulsifnya. Akhirnya, bundanya mengalihkan perhatian Alya dengan melakukan aktivitas mirip, seperti memberi makan ikan di akurium atau bermain isi-tuang  air ke gelas plastik saat Alya mandi.  Sukses!
  • Cari kata selain “jangan”, untuk mencegah aktifitas berbahaya. Misalnya, ketika anak main gunting, katakan dengan ekspresif: “Gunting itu tajam. Kalau tanganmu tergunting, ooooh, bisa berdarah dan sakiiiit sekali."  
  • Beri tahu cara yang lebih aman. Contoh, “Kamu tidak boleh menyeberang jalan sendiri, tapi boleh jika bersama bunda.” Tekankan bahwa anak boleh melakukan sesuatu dengan cara yang lebih aman. Ini memberinya pilihan, tidak sekedar melarang.
  • Jangan terlalu membatasi. Sikap over protective orangtua membuat anak memberontak lewat penolakan-yang Anda artikan sebagai membantah.
Wednesday, July 31, 2013

Bekal Sekolah Marwah

by
Bekal Sekolah Marwah
Marwah first school pas kemarin sih tanggal 10 juli 2013. Maksudnya first school di sekolah barunya,sekarang Marwah sudah kelas TK B lhooo.. Senang banget rasanya melihat anak yang lincah dan semangat pergi sekolah. Dihari pertama dan sampai sekarang marwah selalu bawa bekal sendiri. Aku ga biasain dia jajan di sekolah deh,karena apa ? Aku kan bukan stay mommy yang selalu ada melihat dia setiap saat,apa yang dia makan di sekolah aku ga tau kandungan gizi dan kebersihannya. So aku selalu menyempatkan untuk membawakan bekal Marwah sekolah,entah itu hanya biskuit atau roti,yang penting Marwah makan makanan yang dibawa dari rumah walaupun kadang bukan homemade.

Beberapa bekal makan yang pernah dibekal marwah adalah PIZZA TOMAT MINI...hasil lirik2 artikel lain nih resepnya,tapi so far sangat membantu banget deh... cekidooot deh bahan-bahannya,, gampang koq apalagi buat mom yang kerja..cepat saji namun bergizi dan bersih tentunya. 

Bahan:
4 roti pizza mini siap pakai atau roti tawar dibentuk bulat, kalau lagi ribet buletin ya aku kotakin aja,tergantung waktu juga sih :D.
1 sendok makan margarin
½ butir bawang bombay, iris halus,karena Marwah kurang suka dengan bawang,jd aku kasi dikit banget bawang bombaynya
100 gram sosis sapi, iris tipis
5 sendok makan saus tomat
100 gram keju ,parut kasar,
kadang kalau marwah minta dikasi mayonase yang ditambahin mayonase juga .

Cara membuat:
  1. Olesi tiap roti pizza dengan saus tomat.
  2. Beri keju lalu susun sosis sapi di atasnya. Taburi lagi dengan keju. Panggang hingga matang. Angkat, sajikan hangat. Cara Panggang aku sih simple, cukup disimpen saja di wajan tanpa minyak aja :D,,jadi deh ,,

So far hanya pizza mini inilah yang lahap habis kl dibekali... next cari lagi menu-menu yang akan membuat Marwah nafsu habiskan bekalnya,,....


Monday, 22 July 2013

Marwah Masuk TK
Marwah usianya sudah 5 tahun, artinya sudah harus masuk TK A. Eh kenapa baru sekarang masukkin TK nya? Kan banyak tuh yang sekolahin anaknya dari 4 tahun bahkan 3 tahun aja udah sekolah. Ah biarin saja itukan anak orang lain, ini kan anak saya. Jadi saya memang udah planning bahwa Marwah akan sekolah SD pas diusianya yang sudah matang secara emosional dan akademis juga yakni diusia tujuh tahun, udah yah ga boleh protes dan gak boleh war - war an masalah kayak ginian. Setiap orang tua memiliki cara tersendiri dalam mengasuh anak, semua orang tua pasti akan berbuat yang terbaik untuk anaknya, percayalah. Percaya kan? iyalah. 


Wednesday, 17 July 2013

TIPS UNTUK TAKLUKAN ANAK SUSAH DIATUR
Memiliki anak yang sedang dalam masa pertumbuhan memang memerlukan energi ekstra. Mereka terkadang sulit diberi nasihat dan dilarang bila akan melakukan sesuatu yang salah. Anak-anak yang susah diatur membuat stres ibunya. Namun jangan khawatir, anak-anak bisa berubah menjadi manis kok bila kita mau untuk mengubahnya secara perlahan-lahan. Bila anak Anda susah untuk diberitahu, mungkin Anda belum melakukan hal-hal di bawah ini untuk mengubahnya:
1. Broken record
Selama ini Anda memilih untuk berteriak atau memarahi anak bila mereka mulai rewel karena keinginan mereka tidak dituruti? Atau Anda selalu menuruti permintaan si anak karena tidak ingin mendengar tangisan mereka? Maka Anda perlu menerapkan cara 'broken record'. Selama yang mereka minta bukanlah kebutuhan penting dan tidak harus menuruti, Anda bisa menolaknya. Anda harus kuat hati dan mengendalikan emosi bila mereka mulai marah atau rewel. Dengan begitu mereka akan belajar bahwa mereka tidak selamanya bisa mendapatkan apa yang mereka inginkan dengan cara menangis dan merengek kepada kedua orang tuanya.
2. Tunjukkan tekad kuat
Ketika dihadapkan dengan pertengkaran yang sulit dengan anak, orang tua harus menjaga tekad mereka sebagai orang tua. Ketika kita menyerah, walau tidak mengatakannya, anak-anak bisa mengetahui apakah mereka bisa menang atau tidak. Anda harus tetap konsisten bila sudah berkata tidak dan tidak mudah luluh. Biarkan anak belajar bahwa orang tuanya menyayanginya tidak dengan cara selalu memberikan apa yang mereka minta.
3. Fokus pada perilaku positif
Ada beberapa anak yang rewel dan susah diatur hanya karena mereka mencari perhatian dari kedua orang tuanya. Anda harus memahami kenapa anak Anda bersikap tidak menyenangkan dan susah diatur. Berikan perhatian kepada anak Anda tanpa membuat mereka merasa bahwa mereka bisa meminta apa saja karena sudah mendapat perhatian lebih dari orang tuanya.
Menjadi orang tua memang tidak mudah ladies. Ada saja cobaan dan permasalahan yang terjadi setiap hari. Tidak sekolah untuk menjadi orang tua yang baik namun bila mau belajar maka Anda bisa menjadi orang tua yang terbaik bagi anak Anda dan taklukan segala permasalahan yang ada.


SUMBER:
Dari berbagai sumber 

Thursday, 11 July 2013

MEMBUAT ANAK CERDAS DAN PINTAR



Wah lama yaa ga posting di blog,kangen banget deh,hmmm akhir2 ini sibuk juga sih tapi selalu luangkan waktu buat nulis. Marwah sekarang udah sekolah TK B jd kekhawatiran sebagai ibu semakin memuncak nih,cari-cari dan baca-baca referensi agar bisa mendidik Marwah menjadi anak yang baik dan menurut pada orang tua, Karena anak yang solehah adalah impian kita semua sebagai orang tua :).
pada hari yang berbahagia ini saya akan berbagi tips seputar cara membuat anak cerdas dan pintar,  topiknya  yaitu cara mendidik anak anda agar kelak bisa menjadi anak yang berbakti pada orang tuanya, bagaimana pun orang tua adalah dasar awal untuk contoh yang akan ditiru oleh sang anak itu sendiri, jadi setiap orang tua diharuskan wajib mendidik anaknya dalam pembentukan pola pikir yang relatif mencerdaskan dan membentuk sifat yang berbudi pekerti.

Dasar-dasar mendidik anak dalam etika sehari-hari:

1.Tingkah laku anak harus di didik dan dibimbing dalam usia dini karena sikap anak yang akan diserap oleh memory otaknya adalah berdasarkan lingkungan sekitarnya jadi anda sebagai orang tuanya harus bisa membimbing dan mendidik anaknya dengan sebaik mungkin tetapi jangan sampai pendidikan orang tua terhadap anaknya bisa membuat anak stres jadi sebagai orang tua anda harus bisa membaca apa keinginan anak anda, sesuaikan sikap anda terhadap anak anda jangan membebani anak anda dengan pola pemikiran anda biarkan anak anda mengambil keinginannya sendiri tetapi anda juga harus bisa mengawasinya biarkan anak anda berkembang sesuai dengan keinginannya sendiri, dengan hobi dan nalar keinginannya sendiri jadi intinya anda harus bisa memahami keinginan anak anda.
2.Pola-pola pikir anak anda harus bisa anda sesuaikan karena bagaimanapun anak anda adalah tumpuan harapan masa depan anda, buatlah anak anda cerdas dan pintar dalam setiap respek yang positif, buatlah anak anda akan kaya ilmu pengetahuan, sesuaikan anak anda dalam lingkungan bersih dalam artian awasi sejauh mana anak anda bisa berkembang dalam lingkungan yang baik dan benar.

Tahap pemberian contoh dan sikaf dan tingkah laku dari orang tuannya.

1.Sebagai orang tua yang bijak anda harus bisa menyesuaikan sikap anda terhadap terhadap anak anda jangan memberikan contoh contoh sikap yang buruk karena sikaf dan tingkah laku anda akan diserap oleh anak anda juga, bagaimanapun orang tua adalah contoh teladan nomer satu buat masa depan anak anda. Banyak hal dan faktor yang akan diserap oleh anak anda terutama pada lingkungan anda sehari-hari, faktor orang tua, faktor teman bermain, faktor lingkungan sekitarnya semua itu akan mempengaruhi pola fikir anak anda jadi arahkan anak anda pada lingkungan yang tidak memberikan efek negatifnya.
2.Banyak faktor yang disebabkan oleh orang tuanya sendiri misal: perkelahian, perceraian, jadi jangan biarkan hal tersebut terjadi di depan anak anda karena tanpa anda sadari anak anda akan menyeraf semua yang telah terjadi di depannya, jadi bersikaplah sebagai orang tua yang sejati, memberi contoh yang baik buat anak anda, teladan buat anak anda, bimbinglah dan tuntunlah anak anda sebaik mungkin karena bagaimanapun anak anda adalah harapan anda juga kelak dikemudian hari.
            Itulah ulasan singkat saya tentang tips cara membuat anak cerdas dan pintar, mudah-mudahan artikel ini bisa menjadi insfirasi buat anda menjadi lebih baik lagi dari hari sebelumnya , mungkin lain waktu akan saya tambahkan ulasannya dan penjelasannya, atas kunjungannya saya mengucapkan terima kasih.
BANDUNG,11 JULI 2013