Monday, 30 September 2013

BEKAL NENG MARWAH ( SMASHED POTATOES )

Semenjak neng Marwah sekolah di TK B, setiap hari harus saya fikirkan apa yang akan menjadi bekal kesekolahnya. Kadnag bingung juga siih apa yang harus dibawa , kadang juga Neng Marwah suka ga mau bekal homemade dan lebih memilih snack. Buat saya gapapa sih sesekali membekali dengan snack,karena mungkin anak juga bosen kalau terus dibekali homemade. namun hari ini saya bekali dia dengan mashed potatoes dan irisan apel merah plus susu UHT cokelat.

Sayangnya banget tadi pagi ga sempet aku foto dulu penampakan bekalnya, karena tadi pagi kesiangan,, hihihi jadi mana sempet foto - foto :D ,,, tapi bakalan aku sharing yaa resepnya mashed potatoes ala IBU nya NENG MARWAH :)


Bahan :
2 buah kentang dieng yang ga terlalu besar dan ga terlalu kecil ( boleh pake kentang apa juga)
Susu UHT rasa plain
Keju cheddar
Mentega

Cara membuat :
rebus kentang sampai empuk
setelah empuk angkat dan kupas terus ditumbuk halus jangan terlalu benyek,kebetulan Marwah kurang suka kalau terlalu benyek.
susu uht +mentega dipanaskan sampai meletup2
campur kentang + rebusan susu UHT dan parutan keju cheddar

Setelah itu jadi deeeh mashed potatoes simple ala IBu nya Marwah :D simple namun enaak bangeeeet lhoooo

foto hanya gambaran saja yaa,, bukan foto hasil saya ,,, nanti kalau bikin lagi aku foto deh janji :D


Bekal hari senin 30 september 2013
Share:
Read More

Tuesday, 24 September 2013

Ketika Marwah menanyakan tentang ALLOH SWT

Marwah sekarang sudah berusia 5 tahun 3 bulan 3 hari .. Semakin hari pertanyaan - pertanyaan yang selalu dia berikan sangatlah banyak, setiap hari saya selaku ibu yang menjadi madrasah pertama untuk Marwah harus bisa dong memberikan jawaban yang tepat dan tentunya harus real dan sesuai dengan agama. Banyak sekali sebenarnya pertanyaan yang sering Marwah ajukan terhadap saya atau ayahnya . Namun saya sempat kaget dulu waktu Marwah berusia 4 tahun , dia pernah bertanya . " Bu, Alloh itu siapa?"...
Pada saat itu saya sangat berhati - hati sekali untuk menjawabnya karena saya tidak mau salah mendefinisikan tentang Alloh SWT yang menjadi pemilik alam semesta ini, yang tentunya saya harus memberikan penjelasan yang masuk nalar anak usia 4 tahun, agar dia bisa mengerti dan memahami apa yang saya jelaskan.


Saya menjawab kalau ALLOH SWT  itu adalah pemilik semua yang ada didunia, pencipta Marwah,ibu ayah dan semua manusia yang ada dimuka bumi, tumbuh2an,hewan dan semua yang bernyawa didunia ini diciptakan oleh Alloh Swt. Marwah mengerti dan dia menyimpulkan " Kalau gitu aku mau sayang sama Alloh ah bu.".. Hmm alhamdulillah ini adalah pernyataan yang indah yang saya dengar. Lalu Marwah berkata lagi " Kalau nanti aku lapar aku minta sama Alloh aja ya bu, kan Alloh pemilik semuanya.". Bissmillahirohmanirrohim pada saat itu saya jelaskan " Alloh memang pemilik alam semesta beserta isinya, bukan berarti kalau mau makan langsung dikasi sm Alloh tapi Neng Marwah harus berikhtiar mencari usaha untuk makanan itu, dan memang makanannya dari Alloh ".


“Marwah mulai sekarang harus belajar cinta sama Alloh, lebih daripada cinta sama Ayah-Ibu, ya?!”
“Kenapa, Bu?”
“Karena suatu hari Ayah sama Ibu bisa meninggal dunia, sedangkan Alloh tidak pernah mati. Nah, kalau suatu hari Ayah atau Ibu meninggal, kamu tidak boleh merasa kesepian karena Alloh selalu ada untuk kamu.”
“Nanti, Alloh juga akan mendatangkan orang-orang baik yang sayang sama Marwah seperti sayangnya Ayah sama Ibu. Misalnya, Mamah (nenek),bapak (kakek),paman,bibi, saudara atau para tetangga yang baik hati, juga teman-temanmu.”
“Dan mulai sekarang rajin-rajin belajar Iqra supaya nanti bisa mengaji Quran. Mengaji Quran artinya kita berbicara sama Tuhan. “

Sedikit demi sedikit Marwah mulai faham dan mengerti akan ALLOH SWT yang menjadi Tuhannya dan Tuhan semua umat muslim didunia ....



Cintailah ALLOH SWT dengan sepenuh hati karena ALLOH mencintai kita 
Share:
Read More

Monday, 23 September 2013

Cara jitu rayu marwah gemar membaca

Buku adalah jendela kehidupan. Dengan membaca buku, kita dapat membuka cakrawala pengetahuan dan tentunya akan membuat pikiran kita lebih terbuka. Demikian juga dampak membaca untuk si kecil, Bu! Namun akan ada beberapa kesulitan yang tidak sesuai dengan keinginan kita. Kebetulan saya pribadi suka membaca dan menghabiskan uang untk membeli buku2 namun saya takut hobi membaca saya tidak turun kepada Marwah,,Puter otak jungkir balik nih nyari cara buat nerapin aktifitas membaca ini terhadap Marwah. Dari Usia 2 tahun aku rajin beliin buku bacaan buat dia,walau tau banget kl buku itu hanya akan jadi bahan gigitan dia :D , namun aku selaalu membelilkan dia buku minimal sebulan 1 atau 2 buku. Walaupun ada beberapa buku yang berakhir di keranjang sampah :D hihihi...


Dari beberapa sumber , buku dan artikel yang saya baca ,, akhirnya saya menetapkan beberapa tips supaya Marwah suka membaca.... lets check it mom...

Ajak Dia ‘Bertualang’!
Ayo “colek” rasa ingin tahu si kecil dengan mengajak dia bertualang lewat buku-buku bacaannya. Bilang padanya bahwa kamu mau mengajak si kecil melakukan sebuah petualangan setiap harinya dengan membaca buku-buku yang berbeda. Pilih topik yang sesuai dengan hobi si kecil. Misalnya yang saya terapkan terhadap marwah biasanya membacakan buku petualangan princess . Karena Marwah suka bernyanyi, aku menceritakan kisah penyanyi seperti “Hannah Montana”. Galilah kesukaan si kecil dan buatlah kegiatan membacanya menyenangkan!

Berikan Dia Hadiah
 Setiap orang suka hadiah,,apalagi seorang anak. Setiap ada sesuatu yang layak untuk diberikan hadiah, Aku selalu memberikan Marwah hadiah sebuah buku. Karena dengan cara ini saya rasa dia mau tidak mau akan suka dengan buku. :D 

Buatlah Sebuah Tempat Unik Baginya
Agar si kecil lebih antusias untuk membaca, cobalah buat semacam sudut kecil atau tempat khusus baginya untuk membaca. Buatlah spot tersebut senyaman mungkin dan menyenangkan untuk si kecil membaca. Biasanya kami membaca buku dipojok kamar dengan hiasaan princess didinding,,, 

Piknik Selanjutnya:Perpustakaan!
Berhubung perpustakaan merupakan tempat yang kurang asik mungkin buat anak yang baru dikenalkan dengan buku, maka saya berinisiatif mengajak marwah ke toko buku yang banyak menjual buku2 anak. Disana saya membebaskan buku apa yang bisa Marwah beli,Marwah bebas memilih dan membeli buku sesuai keinginan dia. Asalkan masih dalam batasan wajar, yaa ga ampe kuras isi dompet juga :D

Bacakan Dengan Suara!
Buatlah kebiasaan membaca sambil mengeluarkan suara agar anakmu lebih antusias membaca. Kamu bisa membacakan sebuah buku padanya dan coba keluarkan suara yang berbeda-beda bagi setiap karakter.kadang saya bersuara sesuai dengan karakter yang ada pada buku cerita. Sehingga Marwah antusias sekali mendengarkan saya bercerita. Dan memahami makna yang terkandung dalam buku. 

Gunakan Teknologi
Nah ini adalah jurus terakhir yang saya keluarkan ketika Marwah lagi berdemo untuk tidak mau menyentuh buku. Akhirnya saya kenalkan dengan ebook yang saya donlod di tab nya. Terkadang saya donlod audio book, jadi Marwah bisa mendengarkan cerita langsung deh di tab tanpa harus kita yang membacakan. Hanya saja teetap harus dalam pengawasan yaaa....


Nah sekian  dulu yaa cara rayu anaknya supaya mau membaca dan gemar membaca...




@tyanlicious
Share:
Read More

Thursday, 12 September 2013

JANGAN SEBUT ANAK NAKAL

“Anak saya ini nakal sekali”, kata seorang ibu.
“Kamu itu memang anak nakal”, kata seorang bapak.
Kalimat itu sering kita dengarkan dalam kehidupan sehari-hari. Sangat sering kita mendengar orang tua menyebut anaknya dengan istilah nakal, padahal kadang maksudnya sekadar mengingatkan anak agar tidak nakal. Namun apabila anak konsisten mendapatkan sebutan nakal, akan berpengaruh pada dirinya.
Predikat-predikat buruk memang cenderung memiliki dampak yang buruk pula. Nakal adalah predikat yang tak diinginkan oleh orang tua, bahkan oleh si anak sendiri. Namun, seringkali lingkungan telah memberikan predikat itu kepada si anak: kamu anak nakal, kamu anak kurang ajar, kamu anak susah diatur, dan sebagainya. Akibatnya, si anak merasa divonis.
Hindari Sebutan Nakal
Jika tuduhan nakal itu diberikan berulang-ulang oleh banyak orang, akan menjadikan anak yakin bahwa ia memang nakal. Bagaimanapun nakalnya si anak, pada mulanya tuduhan itu tidak menyenangkan bagi dirinya. Apalagi, jika sudah sampai menjadi bahan tertawaan, cemoohan, dan ejekan, akan sangat menggores relung hatinya yang paling dalam. Hatinya luka. Ia akan berusaha melawan tuduhan itu, namun justru dengan tindak kenakalannya yang lebih lanjut.
Hendaknya orang tua menyadari bahwa mengingatkan kesalahan anak tidak identik dengan memberikan predikat “nakal” kepadanya. Nakal itu —di telinga siapa pun yang masih waras— senantiasa berkesan negatif. Siapa tahu, anak menjadi nakal justru lantaran diberi predikat “nakal” oleh orang tua atau lingkungannya!
Mengingatkan kesalahan anak hendaknya dengan bijak dan kasih sayang. Bagaimanapun, mereka masih kecil. Sangat mungkin melaku­kan kesalahan karena ketidaktahuan, atau karena sebab-sebab yang lain. Namun, apa pun bentuk kenakalan anak, biasanya ada penyebab yang bisa dilacak sebagai sebuah bahan evaluasi diri bagi para pendidik dan orang tua.
Banyak kisah tentang anak-anak kecil yang cacat atau meninggal di tangan orang tuanya sendiri. Cara-cara kekerasan yang dipakai untuk menanggulangi kenakalan anak seringkali tidak tepat. Watak anak sebenarnya lemah dan bahkan lembut. Mereka tak suka pada kekerasan. Jika disuruh memilih antara punya bapak yang galak atau yang penyabar lagi penyayang, tentu mereka akan memilih tipe kedua. Artinya, hendaknya orang tua berpikiran “tua” dalam mendidik anak-anaknya, agar tidak salah dalam mengambil langkah.
Sekali lagi, jangan cepat memberi predikat negatif. Hal itu akan membawa dampak psikologis yang traumatik bagi anak. Belum tentu anak yang sulit diatur itu nakal, bisa jadi justru itulah tanda-tanda kecerdasan dan kelebihannya dibandingkan anak lain. Hanya saja, orang tua biasanya tidak sabar dengan kondisi ini.
Ungkapan bijak Dorothy Law Nolte dalam syair Children Learn What They Live berikut bisa dijadikan sebagai bahan perenungan,
Bila anak sering dikritik, ia belajar mengumpat
Bila anak sering dikasari, ia belajar berkelahi
Bila anak sering diejek, ia belajar menjadi pemalu
Bila anak sering dipermalukan, ia belajar merasa bersalah
Bila anak sering dimaklumi, ia belajar menjadi sabar
Bila anak sering disemangati, ia belajar menghargai
Bila anak mendapatkan haknya, ia belajar bertindak adil
Bila anak merasa aman, ia belajar percaya
Bila anak mendapat pengakuan, ia belajar menyukai dirinya
Bila anak diterima dan diakrabi, ia akan menemukan cinta.
Cara Pandang Positif
Hendaknya orang tua selalu memiliki cara pandang positif terhadap anak. Jika anak sulit diatur, maka ia berpikir bahwa anaknya kelebihan energi potensial yang belum tersalurkan. Maka orang tua berusaha untuk memberikan saluran bagi energi potensial anaknya yang melimpah ruah itu, dengan berbagai kegiatan yang positif. Selama ini anaknya belum mendapatkan alternatif kegiatan yang memadai untuk menyalurkan berbagai potensinya.
Dengan cara pandang positif seperti itu, orang tua tidak akan emosional dalam menghadapi ketidaktertiban anak. Orang tua akan cenderung introspeksi dalam dirinya, bukan sekadar menyalahkan anak dan memberikan klaim negatif seperti kata nakal. Orang tua akan lebih lembut dalam berinteraksi dengan anak-anak, dan berusaha untuk mencari jalan keluar terbaik. Bukan dengan kemarahan, bukan dengan kata-kata kasar, bukan dengan pemberian predikat nakal.
“Kamu anak baik dan shalih. Tolong lebih mendengar pesan ibu ya Nak”, ungkapan ini sangat indah dan positif.
“Bapak bangga punya anak kamu. Banyak potensi kamu miliki. Jangan ulangi lagi perbuatanmu ini ya Nak”, ungkap seorang bapak ketika ketahuan anaknya bolos sekolah.
Semoga kita mampu menjadi orang tua yang bijak dalam membimbing, mendidik dan mengarahkan tumbuh kembang anak-anak kita. Hentikan sebutan nakal untuk mendidik anak-anak.



SUMBER : http://www.dakwatuna.com

Share:
Read More