Inilah Tantangan Parenting Zaman Now

by - Monday, January 13, 2020

Bismillah,

"Sekarang mah susah yah ngurusin anak teh, serba salah. Dikasaran salah, dibageuran nyalutak!

Curhat teman saya yang anaknya sudah memasuki usia SMA. 

Meskipun neng Marwah masih duduk di bangku SD, namun saya pasti nanti akan merasakan dong neng Marwah yang terus bertumbuh. Tapi memang, anak - anak sekarang tuh saya lihat lebih aktif dan re aktif. Jadi susah juga menggenggam anak, dikasarin jangan, dibaikin anak jadinya manja dan semaunya. Jadi gimana? Kalau kata mamah saya mah, kalau ke anak itu harus tarik ulur, jangan dikekang dan jangan dibiarin terus.


Kalau anak - anak masih kecil sih enak yah, pikirannya hanya masalah anak mau makan apa enggak, anak mau minum susu apa engga. Tapi seiring bertambahnya usia anak, tanggung jawab lebih besar lagi, bukan sekedar mikirin asupan nutrisi anak. Namun masalah pendidikan agama , ahlak, moral dan lainnya adalah tanggung jawab terbesar. Apalagi nih yah, di era digital ini ngurusin anak itu saingannya si setan gepeng alias smartphone. 

Jadi tantangan banget kan bu ibu? 

Era digital ini, kemajuan yang makin oke, jaringan internetnya oke dan juga teknologi informasinya. Plus minus sih yah, tergantung kita mau pakai buat yang positive atau negative. Gak bisa juga kita jauhkan anak dari kemajuan teknologi dan digital ini. 

Sekarang tuh anak - anak balita pun sudah pandai bermain gawai, ya kan? Bahkan orang tuanya kadang kalah pintarnya bermain gawai deh. Artinya anak - anak itu memang pada cerdas kan? Jadi memang ga bisa dipungkiri juga bahwa manfaat dan sisi positive dari teknologi digital itu banyak, tapi jangan salah siis negatif nya buanyak sekali loh. Dan sisi negative dari teknologi digital zaman now inilah yang menjadi tantangan orang tua dalam melaksanakan pola asuh pada anaknya.


Lantas apa saja tuh sisi negatif dari era digital ini dalam pengasuhan / parenting ? 

Prestasi belajar anak yang menurun, karena penggunaan gawai yang berlebihan, jadi batasi penggunaannya. Buat screening supaya anak gak berlebihan menggunakannya. 
 Aktivitas fisik anak jadi terbatas soalnya anak menjadi lebih seneng duduk diam sambil menggunakan gawai. Peer besar banget ini, padahal kan anak - anak tuh sangat butuh gerak fisik buat kecerdasan dan tumbuh kembangnya juga. 
 Keterampilan sosial dan bahasa anak akan terhambat jika anak sejak kecil sudah kenalan sama gawai. 
 Kesehatan mata pada anak zaman now itu jadi perhatian loh, banyak anak - anak yang sudah butuh kacamata bukan karena kutu buku namun karena kutu gawai. 
  Masalah konsentrasi anak pun terganggu soalnya anak akan selalu minta bermain gawai, jika tidak ia akan gelisah. 
  Masalah pornografi, kekerasan dan nilai negative lainnya jika penggunaan gawai

Dan masalah lainnya akibat anak kecanduan atau dikenalkan dengan gadget / gawai sejak dini.

Gimana nih cara mendeteksi atau mengetahui tanda - tanda kecanduan sama gawai / gadget ? 

Emosi anak lebih cepat meledak - ledak jika gawai nya diambil.
 Anak tidak tertarik sama aktivitas fisik, lebih senang nonton youtube atau bermain games pada gawai.
 Prestasi belajar anak menurun.
 Anak menjadi enggan sosialisasi

Itu saja? Tentu tidak, masih banyak tanda - tanda lainnya.

Kenapa sih kecanduan itu mudah terjadi sama anak - anak? 

Ada satu bagian pada otak anak, prefrontal korteks namanya. Ini tuh belum berkembang optimal pada anak. Akan berkembang optimal ketika anak berusia 25 tahun. Fungsi bagian ini tuh menjalankan beberapa fungsi, diantaranya menjalankan fungsi perencanaan, penilaian, pertimbangan konsekuensi, masalah pengambilan keputusan, mengendalikan keinginan dan lainnya.

Nah, gawai / gadget ini lah yang sering memberikan efek rewarding yang membuat cairan dopamin membanjiri prefrontal korteks, jadinya fungsinya pun terganggu.

Jadi masalah kan? Gimana solusinya?

Hidup harus seimbang. Sebagai orang tua, kita harus memiliki sinergi dan keseimbangan peran pengasuhan diantara ibu dan ayah. Udah pada tau kan bahwa orang tua itu adalah role model nyata dan seimbang, makanya biar anak ga main gawai terus ya mulai dari kita sebagai orang tuanya untuk ikut membatasi penggunaan gawai / gadget. Jadi aktivitas bersama keluarga harus bener - bener seimbang.

Jadilah orang tua yang hangat. Jangan ada kekerasan fisik, emosional, verbal dan kekerasan lainnya dalam ruang lingkup keluarga. Tunjukkan kasih sayang secara fisik dan nyata pada anak, pelukan dan ciuman orang tua pada anaknya setiap saat akan menimbulkan kenyaman dan ketenangan pada anak. KOmunikasi dua arah yang positif bersama anak, ini akan membuat anak merasa dihargai, dipahami dan diperlakukan secara adil jadi insya allah anak akan terbentuk menjadi pribadi yang positif.

Bagaimana sih komunikasi positif itu? 

Adalah komunikasi yang meliputi perkataan jujur, volume suara, intonasi dan ekspresi harus bener - bener disesuaikan. Perlakukan anak dengan cara unik dan jangan sesekali membandingkan anak, hindari perintah yang keras, jangan terlalu keras menasihati.


Jadilah orang tua yang serba bisa. Orang tua terutama ibu adalah madrasah utama untuk anaknya, makanya jadilah orang tua yang expert dan selalu mau belajar. Orang tua itu harus pandai memahami kebiasaan anak, sifat anak dan kemampuan anak tuh apa saja, orang tua harus paham. Orang tua harus expert dalam hal agama karena kitalah yang pertama mengajarkan anak memahami agama dan menerapkan dalam kehidupan. Jangan malas untuk belajar terus tentang pola asuh / parenting. Dan harus paham juga jangan gaptek karena sekarang teknologi semakin kencang majunya jadi sebagai orang tua harus mengikuti.



Itulah tantangan yang harus kita hadapi dalam menerapkan pola asuh pada anak. Didiklah anakmu sesuai zamannya, begitu perintah baginda Nabi Muhammad.


With Love,

           Tian lustiana










You May Also Like

1 Comments

  1. mau aku share ke kakak2 ku ah mbak, mereka harus tahu nih. terimakasih udah berbagi tentang parenting disini yah mba ;)

    ReplyDelete

Terimakasih telah berkunjung, berikan komentar yuk. Eh tapi saya mohon jangan masukkan link hidup yah, atau saya delete :)

Blogger Perempuan