October 2012 - Cerita Ibu - Parenting Blogger Indonesia

Thursday, 25 October 2012

Supaya Anak Menjadi ANtusias dalam belajar
 Ibu pasti akan senang apabila buah hati memiliki kemampuan belajar yang baik. Pada dasarnya setiap anak memiliki potensi dan kemampuan belajar yang sangat luar biasa. Tetapi sebagian Ibu ada yang masih sering bertanya, anak saya susah sekali ya belajar, apa yang harus saya lakukan?,,sama banget lho bu pertanyaan nya dengan pertanyaan saya,kadang anak saya Marwah suka males2an kalau disuruh belajar,Hmmm sebenarnya mungkin wajar ya, secara anak saya Marwah masih usia 4 tahun,namun saya selalu ingin yg terbaik sih,,hihihih jadi kadang suka paksa Marwah utk belajar.


Meskipun secara alami anak selalu ingin tahu dan itu berarti potensi besar untuk belajar, mereka memang masih belum bisa “dipaksa” untuk duduk manis dan belajar secara serius.Pernah lho Marwah secara sangat manis tiba-tiba bawa buku dan berkata "Bu,,aku mau belajar menggambar dan menullis dong bu,",waduh perasaan saya sangat senang lho Bu,dengan tiba2 si cantik mau belajar dan duduk manis didepan journalnya sambil tersenyum bahagia,ternyata anak juga punya inisiatif sendiri ya Bu. Karena itu, yang perlu dilakukan orang tua adalah menciptakan suasana yang ceria dan gembira sehingga si anak merasa nyaman dalam belajar, tentunya sambil bermain. Supaya anak tidak merasa bosan, sebaiknya Ibu punya banyak cara untuk merangsang anak agar selalu tertarik untuk belajar.


Tapi bagaimana dong kalau anak tetap tidak mau belajar? Hmmm setelah saya membaca berbagai artikel,membaca beberapa perilaku anak disekitar saya,,saya dapatkan beberapa tips,mudah2an bermanfaat ya Bu,,,cekkidot:


1. Kalau ia sudah mulai bersekolah (playgroup/TK), saat pulang sekolah sapa dengan sapaan manis, seperti “Hai sayang, bagaimana di sekolah hari ini, apakah menyenangkan?”. Otomatis otak anak akan mencari hal-hal yang menyenangkan di sekolah dan secara tidak langsung akan memberitahu sang anak bahwa sekolah adalah tempat yang menyenangkan.


2. Saat anak tidur (hypnosleep), coba Ibu bisikkan di telinganya, “Makin hari, belajar makin menyenangkan ya,“ “Seperti bermain, belajar juga sangat menyenangkan,“ atau kata-kata sugesti positif lainnya dengan penuh kasih sayang.Saya udah nyoba nyata-nyata yang ini lho Bu,Takjub banget hasilnya,,hihihihi tar coba lagi aaah buat meng Hypno biar dia ga kebanyakan minum susu,,Heheheh


3. Jelaskan secara perlahan-lahan manfaat dari pelajaran yang sedang dipelajari (sesuai dengan minat anak tersebut). Misalnya, “Kalau sudah bisa membaca, nanti saat liburan sekolah Ibu akan belikan banyak buku cerita bergambar yang bisa kamu baca sendiri”. Jangan lupa selalu memberi pujian ketika anak sudah bisa menguasai hal-hal atau pelajaran baru.


4. Jika Ibu memakai jasa guru les, mintalah supaya les pelajarannya sering-sering mengatakan bahwa anak kita adalah anak yang hebat dan luar biasa. Pujian yang tulus dan memompa semangatnya jauh lebih penting daripada mengajarkan teknik membaca atau menghitung. Mintalah bantuan orang-orang sekitar termasuk guru meningkatkan harga diri anak kita.


5. Membaca cerita bersama adalah cara sangat efektif untuk mengajarkan anak membaca serta membuat anak mencintai buku. Sayangnya sebagian orang tua sudah tidak sempat lagi membacakan cerita atau dongeng sebelum tidur. Alangkah baiknya jika Ibu masih melestarikan kebiasaan ini.


Ibu bisa mencoba cara ini, bacakan dongeng dengan posisi memangku anak. Tujuannya, agar anak dapat turut melihat cerita yang sedang Ibu bacakan, serta dapat mengkaitkan membaca buku dengan rasa cinta dari orangtua, sehingga anak akan menilai buku sebagai hal yang menyenangkan. Untuk awal, jangan berdongeng atau bercerita terlalu lama, karena anak cepat bosan. Dan gunakan ekspresi wajah dan suara yang menarik agar ia semakin tertarik menyimak cerita.


6. Ada permainan menarik yang bisa Ibu gunakan. Cobalah menulis surat rahasia dari Ibu kepada anak. Ibu bisa berkata “Sayang, Ibu telah meletakan surat rahasia buat kamu. Cuma kamu dan Ibu yang tahu isinya. Ibu letakan di bawah bantal tidurmu, bacalah setelah makan ya”. Isinya bisa berupa kata-kata yang bisa menyemangati anak dalam kegiatan belajar di sekolahnya. Dengan begitu anak akan tahu bahwa Ibunya sangat menyayangi dan memperhatikan dia. Dan tulisan itu, membuat dia suka membaca.



okee makasih yaa Bu Sayang udah sempetin buka dan baca blog saya,,semoga bermanfaat yaaaa


kisses,
_Ibunya Marwah_

Monday, 22 October 2012

I'm proud of you dear Marwah Khumira
Senang banget,,banget banget deh,,hihihihi untuk yang ke sekian kalinya anakku menang lagi,,kali ini dapat sebagai juara favorite lho,,,bahagia rasanya kalau anak punya prestasi sendiri,seperti aku ingin memeluk anakku selamanya.... big hugg dari ibu buat ade...peyuuuk........
Marwah emang seneeeeng banget dah di foto,,apalagi ibunya yang paling demen,,hihihi jadi kita sama-sama seneng memoto dan di foto,,akuuuur banget dah,,,heheheh....


pokoknyaaa selameeet untuk yang kesekian kalinya yaaa sayaaang,,,ibu banggaaaaa bangets sama adeee

Friday, 19 October 2012

Cara Menjadikan anak Cerdas
Salah satu pertanyaan yang paling sering ditanyakan orang tua adalah; bagaimana cara terbaik untuk menjadikan balita mereka cerdassehingga nantinya bisa memiliki masa depan yang cerah? “Saya biasanya menjawab simple, yaitu mengajak mereka untuk sama-sama menstimulasiotak anak dengan cara yang menyenangkan. Karena dengan menstimulasi, kita juga bisa sekaligus mengolah otak anak dengan cara yang tepat,
Menurut World Health Organization (WHO), seorang anak, khususnya balita, harus mendapat stimulasi positif dari lingkungannya. Dengan stimulasi yang baik, balita akan mampu mengolah otak mereka sehingga kemampuan kognitif, sosial, dan perilakunya dapat berkembang dengan baik.
Cara Menjadikan anak Cerdas
Lebih jauh lagi, Ibu Lely Tobing yang juga berprofesi sebagai instruktur Brain Gym melihat hubungan pernyataan WHO dengan penelitian yang dilakukan Educational Kinesiology Foundation, dimana menyatakan ada tiga dimensi pada otak anak yang memerlukan stimulasi positif.  Pertama, ada Dimensi Lateral yang menentukan keserasian otak kanan dan kiri. Kemudian ada Dimensi Fokus sebagai penentu koordinasi saraf tubuh belakang, batang otak & bagian depan otak. Serta, Dimensi Pemusatan untuk koordinasi keseimbangan, sistem limbik, otak tengah, dan otak besar.
“Sebenarnya, tujuan utama stimulasi positif adalah merangsang otak si Kecil untuk lebih banyak berproses. Dengan diberikan stimulus, bagian-bagian otak si Kecil akan didorong untuk saling berkoneksi dan mengolah informasi yang diterima. Nah, dari sinilah sinergi pada dimensi otak si Kecil terjadi Bu. Semakin banyak si Kecil diberi stimulus, semakin sering pula dimensi pada otaknya akan saling bekerja sama.  Pada akhirnya, sinergi yang baik pun akan berpengaruh positif terhadap aspek konsentrasi, stamina, rasa percaya diri, stress, kontrolemosi, serta kemampuannya berfikir mengolah informasi baru” lanjut Lely Tobing.
Mungkin Ibu penasaran ingin tahu cara menstimulasi otak si Kecil dengan mudah dan efektif. Ternyata Bu, caranya adalah semudah mengajaknya aktifbergerak dan bermain. Mulai dari sekedar berjalan-jalan di taman, berolahraga, atau bahkan hanya dengan bermain dirumah! Sekarang ini, sudah tersedia berbagai permainan edukatif berbentuk board games (papan bermain) dengan alat peraga seperti puzzle, dan papan penyusun pola yang dapat merangsang otak si Kecil untuk bekerja.
“Seperti yang saya jelaskan diawal, menstimulasi dan mengolah otak anak haruslah dengan cara menyenangkan. Karena pada saat usia 1-6 tahun bermain adalah kegiatan yang menyenangkan bagi seorang anak, ajaklah mereka bermain agar bisa menstimulasi dan mengolah otak mereka dengan baik,” tutup Lely Tobing yakin. Nah Ibu, sudah ketemu kan salah satu cara untuk bisa menjadikan anak cerdas? Agar stimulasi otaknya berjalan optimal, jangan lupa untuk berikan asupan nutrisi yang tepat!
Jadi tunggu apa lagi, Bu? Yuk ajak si Kecil bermain agar otaknya dapat terstimulasi dengan baik

Thursday, 18 October 2012

Cara menghadapi anak kurang ajar



Setiap orangtua tentu tidak mengharapkan anaknya mempunyai perilaku yang buruk di rumah atau di luar rumah. Tapi terkadang karena beberapa atau tanpa sebab, si kecil melakukan kenakalan atau berperilaku buruk. Di sinilah peran penting orangtua diperlukan.

Sebagai orangtua, Anda harus mendisiplinkan atau mengarahkan anak Anda ke hal yang baik. Didik mereka menjadi pribadi yang baik dan berguna. Untuk itu, kenali perilaku buruk anak yang paling umum dan bagaimana cara mengatasinya.

Berikut ada beberapa perilaku buruk anak dan cara mengatasinya. Simak baik-baik yah!

1. Ngambek atau marah-marah.
Terkadang saat ada masalah, anak-anak cenderung akan ngambek atau marah-marah. Ini adalah cara anak-anak mengungkapkan perasaannya terhadap orang lain.

Cara mengatasi: Jika anak Anda ngambek, sebaiknya Anda tidak berdiam saja. Cobalah untuk mengajaknya bicara, menghiburnya dan cari tahu apa yang menjadi penyebabnya. Begitu juga jika anak Anda marah-marah, sebaiknya ajak dia bicara baik-baik. Jika sudah keterlaluan, tidak ada salahnya Anda memberinya hukuman supaya ada efek jera. Tapi pilihlah hukuman yang ringan saja. Misalnya jika dia marah dan melempar semua mainannya, Anda bisa menghukumnya untuk membereskan mainan yang dilemparnya.

2. Memukul.
Perilaku ini biasanya dilakukan anak pada teman atau adiknya saat mereka bertengkar. Ini adalah hal yang wajar, tapi jika dibiarkan begitu saja ini bisa menjadi kebiasaan buruk baginya. Segeralah untuk melakukan pencegahan.

Cara mengatasi: ajarkan kepada anak-anak Anda bahwa memukul atau melakukan tindakan kasar lainnya merupakan sikap buruk yang dapat mencelakai orang lain. Anda juga jangan pernah memukul mereka karena ini bisa menjadi contoh yang buruk. Komunikasi masih bisa digunakan, jadi jangan gunakan kekerasan.

3. Menggunakan kata-kata kasar.
Ini adalah hal yang wajar dan sering terjadi pada anak-anak. Biasanya ini disebabkan oleh faktor lingkungan dan tontonannya di televisi. Anak akan mudah meniru, karena masa anak-anak adalah masa meniru.

Cara mengatasi: ketika si kecil menggunakan kata-kata kasar di hadapan Anda, lebih baik langsung memberitahunya kalau kata tersebut tidak boleh digunakan. Ajari dan beri contoh yang baik untuk anak Anda. Jangan sekali-kali Anda menggunakan kata kasar dihadapan mereka, karena bisa saja mereka menirunya.

4. Berbohong.
Anak Anda berpura-pura bermain sepanjang waktu padahal yang mereka kerjakan tidak sekedar bermain, tapi mungkin melakukan sesuatu yang Anda larang. Kebohongan kecil ini akan berlanjut menjadi kebohongan besar suatu saat nanti jika Anda diamkan.

Cara mengatasi: ajari si buah hati selalu berakata jujur. Katakan padanya, berbohong itu bukan hal yang baik. Katakan padanya berbohong itu sama saja berbuat jahat. Terus ajari anak Anda bahwa berbohong bukan hal yang baik.

5. Mencuri.
Mungkin anak Anda tidak bermaksud mencuri tapi meminjam tanpa izin. Hal ini sering terjadi pada anak saat mereka bermain dengan teman mereka. Mereka mengaku hanya pinjam tapi, yang punya mainan tidak tahu. Jika hal ini dibiarkan bisa saja anak Anda akan menjadi pencuri.

Cara mengatasinya: perhatikan perkembangan si kecil secara signifikan. Jika Anda mengetahui anak mengambil barang yang bukan miliknya, coba nasehati dan minta dia untuk mengembalikannya.

Perilaku anak semasa kecil akan berpengaruh terhadap perilakunya saat dewasa nanti. Jika Anda ingin mempunyai anak yang baik, didik anak Anda dengan baik sejak kecil.
Hadapi Balita Aktif dan Tak Mau Diam
Menghadapi balita aktif dan tak mau diam waaaah dilema sekali ya Bu,,sama seperti anak saya Marwah Khumaira yang sangat aktif dan ga mau diam,,namun alhamdulillah saya dapet nih artikel hebat yang mengulas semua keluh kesah kita Bu....cekidot


Menurut Dr. Marilyn Heins, MD, dokter anak dan penulis buku “Parent Tips” dari Amerika Serikat, perilaku aktif anak-anak 2-3 tahun yang tak mau diam ini, normal. Rentang perhatian anak usia ini pendek. Namun bila ia menjadi terlalu aktif, bisa jadi karena pola asuh orangtua yang berlebihan memberikan perhatian dan stimulasi.

Di lain pihak, ibu dan ayah jarang membiarkan balita mengerjakan sesuatu dan memecahkan masalah sendiri. Menurut Heins, orangtua jenis ini termasuk tipe overparenting. Apa yang perlu orangtua lakukan?
Lakukan kegiatan yang seru setiap hari bersamanya dan pikirkan kegiatan kreatif. Jangan-jangan balita tidak mau diam karena ia bosan dengan kegiatan yang itu-itu saja. Ajak anak berlari di halaman, menari, mengikuti tingkah tokoh Tiger di televisi yang senang melompat-lompat.
Izinkan balita membantu pekerjaan rumah tangga. Tidak apa-apa bila ia merebut sapu si Mbak, menyapu lantai atau sibuk mengelap meja bisa membuatnya tenang.
Perhatikan mainan yang dapat membuat anak duduk tenang dan fokus. Apakah ia senang memakaikan baju boneka, menyisir rambut boneka dan sebagainya.
Melihat balita tampak sangat aktif, Anda bisa mengatakan, “Sayang…, coba diam sebentar Nak.”
Jika anak memang tak mau diam, biarkan saja. Yang penting awasi dia agar tidak menyentuh barang-barang berbahaya, misal barang pecah belah, stop kontak dan lain lain.
Waktu Main, Waktu Istirahat. Kenalkan balita kegiatan menyalurkan energi dan waktu untuk beristirahat. Jenuh bermain di dalam rumah, lakukan kegiatan outdoor: bersepeda, main ayunan, perosotan dan sepak bola. Saat bermain tetap memperhatikan aturan keamanan.
Temukan kegiatan yang anak sukai dan bisa membuatnya lelah.
Balita suka memanjat kursi, biarkan ia naik-turun kursi dengan pengawasan Anda dan pastikan kursinya kuat dinaiki anak.
Ajak anak berenang, ke playground atau main bola sekali seminggu.
Menyediakan sarana bermain outdoor seperti kolam renang plastik, kotak berisi pasir, mainan yang bisa ditumpuk seperti balok-balok bola dan sebagainya.
Jika anak suka anak anjing, beri dia anjing yang energik seperti Golden.
Mengenali Ragam sifat Anak
Kata orang, setiap anak membawa sifat masing-masing. Kata-kata ini sepertinya tak terlalu salah. Banyak memang sifat-sifat anak yang sebaiknya diketahui para orang tua. Dengan

Ada banyak sifat-sifat anak. Selain keras kepala, ada banyak lagi sifat anak yang perlu diketahui para orang tua.

1. EGOIS
Sifat egois atau keras kepala seperti Echa di atas seringkali memang membuat orang tua kehilangan kesabaran. Umumnya, anak yang egois mau menang sendiri, tidak mau mendengarkan orang lain dan harus dituruti semua keinginannya. Bila tidak, segala jurus ancaman pun akan ia lontarkan, dari mogok makan, tak mau belajar sampai berguling-guling di lantai.
Yang harus dilakukan:
Jangan panik bila menghadapi anak yang egois. Tak perlu marah, hadapi dengan lembut dan sabar. Banyak cara bisa dilakukan untuk menghadapi anak bertemperamen keras. Yang terpenting adalah memberikan pengertian dan pengarahan. Ingat, umumnya anak-anak belum dapat membedakan mana yang baik dan buruk. Yang ada dalam pikiran mereka adalah mengerjakan atau melakukan sesuatu hanya untuk kesenangannya. Jadi, tugas Anda sebagai orang tua adalah memberikan pengarahan dan pengertian pada si anak.

Mengenali Ragam sifat Anak

2. PERAJUK
Ciri anak perajuk adalah suka ngambek dan cenderung cengeng. Hampir sama dengan anak egois, hanya saja anak perajuk belum tentu keras kepala. Biasanya, anak akan ngambek bila orang tua kurang memberikan perhatian padanya. Misalnya, “Ma, rambut Ella bagus enggak dikuncir seperti ini?” Karena sang mama tidak memberikan komentar dan hanya menggangguk, anak pun ngambek.
Yang harus dilakukan:
Sama seperti menghadapi anak egois, menghadapi anak yang hobi ngambek juga butuh kesabaran. Jika tidak, emosi Anda sebagai orang tua bisa terpancing. Mungkin bagi kita, menggangguk saja sudah cukup, namun bagi anak lain lagi. Ia perlu action dari Anda. Anda bisa mengatakan misalnya, “Oh, bagus sekali. Coba Mama lihat kuncirnya. Hmm… ternyata anak Mama sudah pintar menguncir rambut sendiri!” Perhatian dan komentar Anda akan membuat anak senang.
Bila anak gampang merajuk, cobalah untuk membujuknya. Jangan dengan kekerasan, karena hal itu justru akan berdampak tak baik bagi perkembangan jiwanya.
3. PEMALAS
Sifat anak yang pemalas biasanya tidak mau mengerjakan pekerjaan atau tugas yang diberikan padanya. Misalnya, merapikan tempat tidur, buku pelajaran atau mainannya. Ia mengandalkan orang lain untuk mengerjakannya.
Yang harus dilakukan:
Beri anak pengertian dan contoh. Misalnya, setelah bangun tidur, tempat tidur harus dirapikan. Ajak ia untuk turut serta melakukan kegiatan tersebut. Walaupun mungkin di rumah ada pembantu, berikan pengertian pada anak bahwa tidak selamanya ada “si mbak” yang bisa membantunya.
Latih anak-anak untuk memiliki tanggungjawab sejak dini. Bukan pekerjaan berat, cukup yang ringan saja. Seperti merapikan tempat tidur, mainan ataupun rak buku pelajaran.
4. NAKAL
Anak yang nakal atau bandel wajar dimiliki oleh anak-anak. Biasanya mereka cenderung aktif, usil dan tak takut bahaya. Selain itu, anak umumnya juga punya banyak akal. Contoh perilaku mereka antara lain hobi berkelahi, mengejar layang-layang, memanjat pohon tinggi, jahil pada temannya, dan sebagainya.
Yang harus dilakukan:
Tak perlu memarahi atau melarangnya bermain. Coba pantau kegiatannya sehari-hari. Sejauh yang dilakukannya tidak membahayakan dirinya dan orang lain, kenapa harus dilarang? Biarkan mereka melakukannya karena hal itu akan menjawab rasa penasarannya.
Lain hal jika yang dilakukan anak membahayakan dirinya dan orang lain. Tak ada salahnya menegur dan memberi pengertian pada anak. Yang terpenting dalam menghadapi anak nakal adalah jangan bosan menasihati dan membimbingnya. Arahkan anak agar menjadi anak yang baik dan sopan.
5. PENDENDAM
Ciri anak pendendam adalah “hobi: menyimpan rasa sakit hati dan berusaha membalasnya di kemudian hari. “Awas, besok kubalas kamu!” begitu biasanya mereka mengancam “lawan” mereka. Biasanya, anak baru merasa puas bila sudah dapat membalas rasa sakit hatinya.
Yang harus dilakukan:
Yang utama, jangan biarkan sifat pendendam bersarang dalam diri anak-anak. Pasalnya, sifat ini bisa merusak mental mereka. Anak akan berpikir bahwa apa yang dilakukannya benar. Berikan pengertian pada anak bahwa “sifat mendendam” itu tidak baik. Selain dilarang agama, nantinya juga akan membuat mereka dijauhi oleh teman-teman mereka. Tanamkan pada diri anak bahwa tidak selamanya kejahatan harus dibalas dengan kejahatan.
6. PEMBERONTAK
Hampir mirip dengan anak yang keras kepala. Umumnya anak yang memiliki sifat pemberontak susah diatur, kemauannya besar dan merasa dirinya selalu benar. Dan yang lebih sering terjadi, mereka tidak peduli dengan omongan orang lain.
Pendekatan diri adalah jalan terbaik menghadapi anak pemberontak atau suka membangkang. Sebagai orang tua, Anda harus pandai meredam emosi. Bila tidak, Anda sendirilah yang nantinya kewalahan. Berbicaralah dari hati ke hati. Tanyakan apa yang menjadi keinginannya. Bila hal yang diinginkannya tidak memberikan manfaat dan cenderung menghancurkan, dengan tegas katakan, “Tidak!”
“Mama melarang kamu pergi karena tak ada pergi ke sana.” Kemukakan juga apa alasan Anda melarang dirinya. Yang harus diingat, jangan bersikap kasar atau terlampau keras pada anak. Bersikap lembut dan penuh kasih sayang akan sangat membantu. Karena dengan begitu, anak merasa Anda menegur atau melarang dirinya bukan karena benci, melainkan karena rasa sayang Anda padanya.
7. PEMALU
Menutup diri, tak banyak bicara, itulah sebagian ciri-ciri dari anak pemalu. Seorang anak pemalu jarang sekali memulai pembicaraan sebelum diajak berbicara oleh orang lain. Pribadinya sangat tertutup, sehingga sulit menebak isi hatinya. Selain itu, anak pemalu juga terkesan kuper alias kurang pergaulan. Mereka juga akhirnya jarang bergaul dan berkomunikasi dengan lingkungan sekitarnya.
Yang harus dilakukan:
Cara tepat menghadapi anak pemalu adalah melatih dirinya agar berani tampil dan berbicara di depan umum. Misalkan dengan mengikutsertakan dalam kegiatan sekolah, seperti tari, karate ataupun vokal grup. Engan begitu, mereka akan terbiasa berhadapan dengan orang banyak. Hal ini akan membantu anak untuk berinteraksi dan mengemukakan pendapatnya. Ini juga akan membuat ruang lingkup pergaulannya menjadi luas. Dengan demikian, diharapkan anak tak lagi menjadi pribadi yang tertutup.
8. PERIANG
Lincah, ramah dan senang bergaul merupakan ciri-ciri anak yang periang. Umumnya, anak periang memiliki banyak teman, karena kepribadian mereka yang hangat. Mereka memang senang bersahabat. Jarang sekali murung dan selalu bergembira.
Yang harus dilakukan:
Meski sifat periang lebih banyak memberikan nilai positif dalam kehidupan sehari-hari, Anda perlu mengingatkan anak agar dapat menempatkan diri kapan harus gembira dan kapan turut merasakan duka orang lain. Beritahu, bila ada temannya yang sedang bersedih, sebaiknya ia jangan bergembira. Jadi, pintar-pintarlah menempatkan diri.

Wednesday, 17 October 2012

MENJADI ANAK TANGGUH
Anak yang tangguh melihat kegagalan sebagai sebuah tantangan. Bantu anak agar ia menjadi individu yang optimis dan tak gampang menyerah melalui stimulasi-stimulasi berikut ini.

Bersikaplah optimis dalam keseharian Anda. Orangtua adalah role model anak, dia akan mengamati dan meniru perilaku Anda. Jika Anda belum bisa menerima kondisi saat ini, usahakan untuk tidak berkeluh kesah di hadapan anak. Keluhan Anda atas gagalan atau rencana yang belum tercapai akan menular pada anak. 

Ikut sertakan anak dalam kompetisi atau lomba.
 Persaingan salah satu pola perilaku masa kanak-kanak awal. Ketika Anda melihat balita suka berlomba minum susu dengan kakaknya atau saling membandingkan tinggi badan dengan para sepupu, itu tanda perkembangan psikologis balita sehat. Tugas Anda mengarahkan agar persaingan berlangsung sehat, tanpa campur tangan orang dewasa sehingga mendorong anak meningkatkan keterampilan dan daya juangnya. 


Semangati anak untuk terus mencoba. Jelaskan bahwa kegagalan bukanlah kesalahan terbesar. Anak yang tabah dan pantang menyerah akan memahami bahwa sebuah keberhasilan akan diperoleh melalui usaha yang keras dan menganggap kegagalan sebagai sebuah tantangan. Katakan padanya, “Tidak apa-apa kamu tidak menang kali ini. Besok kita coba lagi.  Siapa tahu kamu bisa menang!” 

Biarkan anak berusaha  sendiri, jangan selalu dibantu. Beri anak kesempatan untuk mengerahkan kemampuannya untuk memupuk rasa percaya diri dan mengasah kemandiriannya. Beri contoh di awal cara menyusun balok agar tidak mudah tumbang. Setelah itu Anda dapat mengawasinya dan  memberinya semangat agar berhasil melakukannya sendiri.

Hargai usahanya, meski gagal. Jangan menuntut kesempurnaan anak tetapi perhatikan proses dan kemajuan anak.  Anak yang selalu ‘diteropong’ kesalahannya takkan pernah berani melakukan sesuatu. Hindari komentar negatif, “Kan, sudah diajari berkali-kali. Kok masih belum bisa?” Sebaliknya katakan, “Wah, gambarmu sudah semakin bagus. Lain kali ikut lomba lagi yuk, siapa tahu kamu menang.” 

Tidak menghina hasil karyanya, karena setiap anak ingin tahu bahwa usaha   yang dilakukannya bermanfaat dan menimbulkan reaksi positif dari orang-orang di sekitarnya. Apapun hasil karya anak, dia membuatnya dengan tulus dan usaha maksimal. Gambar wajah Bunda dan Ayah meski tak mirip sama sekali, katakan saja, “Terima kasih, Bunda dan Ayah tampak cantik dan ganteng.”

Ajak anak untuk mengenali dan menerima keterbatasan sekaligus kelebihan dirinya.Misalnya, ia ingin naik sepeda roda dua yang besar dan tinggi seperti punya sang kakak. Biarkan ia mencoba sambil terus didampingi dan katakan bahwa nanti ada saatnya ia bisa mengendarai sepeda macam itu, tapi tidak saat ini. Beri pengertian dan alasan yang masuk akal untuk anak. Katakan bahwa tinggi badannya belum cukup untuk menjangkau pedal sepeda dan sepeda yang berukuran besar juga berat sehingga badannya yang kecil sulit mengimbanginya.

Beri contoh melakukannya bila ia menyerah ketika mencoba sesuatu. Ajari anak mengatasi rasa kecewanya dengan membiasakan anak mencari alternatif kegiatan atau pemecahan masalah yang dihadapi. Misalnya, ia tak  berhasil menggambar tokoh Angry Bird favoritnya,  ajarkan ia hingga berhasil. Tunjukkan cara menjiplak gambar yang dia inginkan, tapi selanjutnya ajarkan menggambar tanpa menjiplak. Kalau anak mengeluh nggak bisa, dukunglah anak dengan “Kamu bukan tidak bisa, tetapi belum mencoba. Ayo kita coba lagi bersama,” agar rasa percaya dirinya muncul kembali. (me)
Mau Sehat?Yuk pakai terus Otak Kita....
Dalam bekerja sehari-hari, ada sebagian orang yang lebih banyak menggunakan otak ketimbang ototnya. Orang-orang semacam itu tak punya pilihan, untuk selalu menjaga kesehatan organ tubuh vital satu-satunya itu. Syukur-syukur bukan cuma menjaga, tapi juga mengoptimalkannya.

"Kalau dia itu nasinya tolong yang banyak, Bu. Dia 'kan kuli pasar," ujar Yanto kepada ibu penjual nasi, sambil menunjuk Joko. Celetukan di sebuah warung nasi itu langsung menyegarkan suasana yang sangat panas. Joko, seorang designer creative sebuah media cetak, pun cuma bisa senyum-senyum saja. Sudah biasa baginya diejek seperti itu.

Diejek? Ya, tentu saja. Jelas-jelas ia bukan kuli pasar. Untunglah ia tidak marah, sebab memang sudah jadi kebiasaannya, makan siang dengan porsi berlebih.

Bagi Joko, baik kuli pasar - yang konotasinya cuma bekerja mengandalkan fisik - atau tukang kreatif seperti dia, tetap harus makan dalam jumlah yang cukup. Kalau asupan kurang, seorang kuli pasar tidak akan punya tenaga untuk mengangkut beban. Sementara Joko, otaknya yang tidak mau diajak kompromi.

Obrolan tadi memang mewakili pandangan banyak orang selama ini tentang dua jenis pekerjaan. Kerja otot dan kerja otak. Keduanya berbeda, bahkan bisa dibilang bertolak belakang. Coba renungkan, Anda termasuk yang mana?

Wendy, penulis blog yang sedang jauh dari rumah, menulis di halaman situs blognya, "Dari segi gengsi, kerja pake otak kedengarannya memang lebih keren karena (biasanya) identik dengan pakaian rapi, kubikel dengan komputer, parfum, AC, dan dasi. Sedangkan kerja otot identik dengan keringat, ban berjalan, mesin-mesin, dan rutinitas." Apa benar?

Agak sedikit berbeda, Nugroho, MM, ACS, CL, tokoh pendidikan muda yang visioner dan enerjetik mencoba membedah kerja otot versus kerja otak ini. Menurutnya, kerja otot dan kerja otak, berujung pada si Sukses dan si Gagal, si Bahagia dan si Menderita. Wah!

Penjelasannya begini. Bila seseorang menjalani hidupnya dengan lebih dominan mengandalkan ototnya, akan mendapatkan hasil yang berbeda dari orang yang lebih dominan dalam mengandalkan otaknya. Orang yang mengandalkan otot adalah tipe orang yang bekerja sendiri (one man show) sementara orang yang bekerja dengan otaknya akan bekerja dengan melibatkan orang lain seraya membangun kerjasasama tim. Istilahnya, (team work building).

Orang yang mengandalkan otot cenderung tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Sementara orang "berotak" lebih fleksibel dalam pengaturan waktu. Sebabnya, orang yang bekerja sendiri tidak berani atau bahkan mungkin tidak tahu bagaimana mendelegasikan pekerjaan kepada orang lain. Sementara yang bekerja dalam tim cenderung saling membantu dalam menjalankan tugas.

Namun tulisan ini tidak akan berlarut-larut dalam polemik perbedaan kerja otot dan kerja otak. Mari mengupas bagaimana jika kita termasuk orang yang mengandalkan kerja otak. Apa yang mesti kita persiapkan agar otak senantiasa siap diajak bekerja. Kalau perlu sampai lembur.

Mirip komputer

Otak, sampai sekarang masih menyimpan banyak misteri. Sigmun Freud, si pakar psikoanalisa itu, berteori, otak manusia adalah segala-galanya. Sedangkan dalam buku Use Your Head, Tony Buzan menyebutkan, otak ibarat raksasa tidur. Sebabnya, banyak hal yang belum diungkap secara keilmuan.
Sejauh ini sering kita mendengar, otak terbagi menjadi dua bagian penting, yakni otak kanan dan otak kiri. "Otak kiri untuk hal-hal yang rasional, nyata, berpikir linier. Sedangkan otak kanan kaitannya dengan imajinasi, musik, kesenian, merasa bahagia, konstruksional," tutur dr. Samino, Sp.S. (K), spesialis saraf dari RS Islam Cempaka Putih.

Kenyataannya, selama ini kebanyakan hanya otak kiri yang diberdayakan. Tapi sejak munculnya istilah kecerdasan emosi, otak kanan pun mulai banyak dibahas. Trik dan metode mengoptimalkan otak kanan mulai bermunculan.

Kedua "otak-otak" itu memang harus dimanfaatkan secara seimbang. Pasalnya, memori yang dibangun otak kiri akan menjadi memori jangka panjang yang disimpan otak kanan. Jadi, antara otak kiri dan kanan, punya semacam jembatan penghubung.

Jika dianalogikan, otak mirip komputer. Mungkin inilah sebabnya, di Tiongkok, komputer diistilahkan sebagai jun nye, yang arti langsungnya "otak listrik" atau otak yang bekerja pakai listrik. Seluruh aktivitas tubuh merupakan refleksi dari program-program yang ada di dalam otak.

Chip-nya otak adalah neuron atau sel saraf. Neuron adalah sel yang mempunyai juluran-juluran yang menghantar rangsangan. Juluran yang menghantar rangsang ke badan sel yang mengandung inti di dalamnya disebut dendrit. Sedangkan juluran yang menghantar rangsang keluar dari badan sel disebut akson.

Sel-sel saraf yang berhubungan satu sama lain membentuk suatu jaring perkawatan. Hubungan antara satu sel saraf dengan sel saraf lain disebut sinapsis. Makin rimbun hubungan antarsel saraf, makin tinggi kecerdasannya. Jadi, tingkat kecerdasan tidak berkaitan dengan besar atau berat otak, yang sekitar 1,5 kg itu.

Makin banyak dan baik asupan program yang terjadi pada proses belajar, makin banyak percabangan juluran sel saraf yang terjadi. Ini berarti daya mengingat meningkat. Jadi, ingatan terwujud sebagai cabang-cabang juluran sel sarah dengan sinapsis-sinapsisnya.

Tapi masalahnya, jumlah sel saraf tidak dapat bertambah. Malah bisa menyusut seiring tambah usia. Kematian sel otak bahkan sudah dimulai semenjak kelahiran.

Karena sel-sel otak tidak diperbarui sejak kita lahir, jumlah totalnya akan mulai berkurang. Percabangannya memang dapat terbentuk terus hingga usia lanjut. Hanya saja, sama seperti alat yang jika jarang digunakan bakal timbul masalah, begitu pula otak. Kalau jarang digunakan, otak akan melisut. Percabangan juluran sel saraf juga rusak dan menggersang.

"Jadi, jika mau bugar otaknya, pakai terus!" saran Samino, menyimpulkan segala kerumitan tentang persarafan di dalam kepala ini.

Use it or loose it

Agar dapat sepenuhnya menggunakan potensi otak, kita harus belajar memandangnya sebagai bagian dari tubuh kita. Sama seperti otot dan sendi yang menjadi kaku bila tidak digunakan, otak pun akan kehilangan kemampuannya bila tidak dimanfaatkan. Seperti halnya peregangan dan olahraga untuk memelihara kondisi fisik, kita juga perlu meregangkan dan melatih otak untuk memelihara dan mengembangkan "kondisi otak" kita.

Ada banyak cara untuk merawat otak. "Yang penting memperhatikan gaya hidup saja. Gaya hidup ini meliputi pola makan, pola latihan fisik, dan pola tidur," tegas Samino.

Memperhatikan pola makan, termasuk di dalamnya menjauhi kebiasaan merokok dan makan makanan yang mengarah terjadinya sklerosis pembuluh darah. Pola pikir juga penting diperhatikan, sebab ketika otak bekerja ia menghasilkan zat-zat sampah yang akan mengganggu metabolismenya. "Jadi perlu di-recovery. Kalau tidak otak akan kelelahan," tambah Samino.

Untuk menjaga agar otak tidak lelah, maka tubuh perlu tidur rata-rata enam jam sehari. Namun, meski tubuh tidur, otak sebenarnya tidak sepenuhnya istirahat. "Ia tetap bekerja meski dalam kondisi basal, yakni kerja minimal untuk memberikan pengaturan bagi sistem tubuh," kata Samino.

Mengenai lamanya tidur, Samino menegaskan, "Tidak tergantung umur. Tidur yang bagus ya segitu. Memang, pada orang tua tidurnya kurang. Ada yang cuma empat jam atau bahkan dua jam. Tapi itu 'kan karena ada masalah. Sel-sel otaknya banyak yang mati, jadi mengganggu pola tidurnya. Umur yang bertambah memang membuat tubuh akan melisut. Akan terjadi kemunduran baik secara fisik maupun faal. Rambut memutih, tulang mengeropos, dan begitu juga otaknya."

Karena otak berhubungan dengan setiap bagian lain tubuh, olahraga fisik juga menjadi bagian tidak terpisahkan dalam memelihara otak agar selalu dalam kondisi puncak. Aktivitas intelektual macam berdebat dan memainkan permainan strategi seperti catur dan "Go" merupakan olahraga otak yang sangat baik.
Belajar juga salah satu cara untuk memelihara - bahkan dapat meningkatkan kemampuan otak. Jangan puas dengan karir yang dicapai hari ini. Jika memungkinkan, Samino menyarankan agar terus ditingkatkan. Prinsipnya no time for loose sebab sel-sel otak itu hanya mengenal hukum use it or loose it.

Optimalkan bersama ALISSA

Untuk mengoptimalkan otak, dalam bukunya Manajemen Kecerdasan, Taufiq Pasiak - dosen Anatomi Sistem Saraf Pusat Universitas Sam Ratulangi, Manado - menjabarkan enam cara yang untuk memudahkan disingkat menjadi ALISSA (Amankan, Latihan fisik, Informasi dan gizi, Santai, Sosialisasi, Aku mencintai).

Apa maksud itu semua, mari kita kupas lebih dalam.

Amankan, maksudnya selalu melindungi otak. Meski dijaga berlapis-lapis struktur - termasuk adanya cairan yang berfungsi sebagai peredam kejut (shock absorber) - otak sangat rentan terhadap penyakit dan trauma fisik. Waspadai penyakit ringan - macam flu - yang dapat berpotensi merusak otak kalau tidak diantisipasi dengan baik. Trauma lahir juga dapat merusak otak dan menghambat perkembangan, termasuk perawatan bayi yang tidak semestinya.

Latihan fisik penting, tapi bukan satu-satunya cara membuat otak menjadi kuat sebagaimana didengungkan oleh mereka yang tidak melatih otak. Latihan fisik hanya melatih sedikit daerah sensorik otak dan semua daerah motorik.

Latihan fisik paling baik jika melibatkan dua bagian tubuh, kiri dan kanan, secara seimbang, terutama jika jari-jemari dilibatkan secara intens. Dari semua bagian motorik tubuh, jari-jemari dan lidah memiliki daerah pengaturan yang paling besar di otak.

Segala informasi, terutama yang baru dan unik, serta makanan bergizi punya peran penting pada pembentukan dan pengayaan sinaptik pada sel-sel saraf. Zat gizi seperti omega-3 dan omega-6 dapat menguatkan fungsi sel saraf sebagai penguat (booster) bagi dirinya sendiri. Yang jauh lebih penting, memberikan ASI kepada bayi, sebab kandungan DHA-nya lebih baik dan lebih banyak dibanding susu formula.

Otak memang tak kenal istirahat. Namun konsolidasi memori antar-sel saraf akan optimal saat otot-otot tubuh istirahat tidur. Saat itulah otak sedang santai. Ada banyak cara untuk menyantaikan otak, seperti mendengar musik, menulis puisi, mencermati lukisan naturalisme, atau yang lebih teknis: meditasi. Otak yang santai dapat menjadi alat untuk self therapy.

Sosialisasi membuat semua organ perifer otak, seperti indera-indera, selalu terangsang. Bagian sentral, terutama kulit otak dan sistem limbik, dapat bekerja secara baik. Dengan mengobrol, rasa dan rasio dapat terangsang. Sosialisasi akan melatih kekuatan emosi (EQ), kemantapan spiritual (SQ), dan kecerdasan rasio (IQ).

Mencintai sangat baik bagi otak. Bawaan manusia antara lain need of affection, kebutuhan akan kasih, sayang, dan cinta, dalam kehidupan sehari-harinya. Cinta yang paling baik adalah memberi daripada menerima. Banyak penelitian otak yang membuktikan bahwa pengeluaran hormon stres dapat dihambat dengan perasaan yang penuh cinta dan kasih sayang. Tiga sifat yang sangat ampuh merusak otak adalah iri, serakah, dan sombong.

Nah, yuk kita optimalkan kinerja otak kita supaya tetap sehat :)

Tuesday, 16 October 2012

Tuesday, October 16, 2012

BICARA EFEKTIF DENGAN ANAK

by
BICARA EFEKTIF DENGAN ANAK
Kenali karakteristik serta kematangan berpikirnya.

Kalau Anda sudah tahu sifat-sifat si kecil dan bisa mengira-ngira kecepatannya menangkap informasi, Anda akan lebih mudah melakukan pendekatan yang pas untuknya. Ya, tiap anak pasti butuh pendekatan yang berbeda tergantung pada pembawaannya. Namun demikian, ada patokan dasar tentang resep berkomunikasi efektif dengan si kecil. Nah, mari kita simak patokan-patokan tersebut seperti disampaikan Linawaty Mustopoh Psi., dari Experd Consulting, berikut ini:

* Singkat dan sederhana

Akui saja, kita terkadang bingung bila mendengar pembicaraan yang panjang lebar atau ngalor-ngidul, bukan? Nah, apalagi anak-anak. Lantaran itu, gunakan bahasa yang sederhana dan singkat. Saat kita memberikan suatu intruksi, katakan “Yuk, cuci tangan sebelum makan!” Lebih baik lagi bila orangtua mencontohkan bagaimana cara melakukan hal tersebut.

Kemudian, saat berkomunikasi dengan si kecil perhatikan intonasi dan nada suara. Jangan terburu-buru atau dengan nada menghardik. Intonasi tak jelas atau nada terburu-buru, membuat si batita kurang tanggap akan apa yang dibicarakan.

* Jelas

Kemampuan berbahasa, si batita, kan, masih terbatas. Hindari kata-kata yang membingungkan. Misalnya, “Awas, jangan ke sana, nanti jatuh!” Anak, kan, jadi bingung, kenapa dilarang? Terus, maksud kata “ke sana” itu apakah ke ruang tamu, kamar, dapur, teras atau lainnya. Berbeda bila Anda mengatakan, “Sayang, kamarmu baru dipel. Masih licin. Duduk di kursi dulu ya!” Jadi, pesan yang disampaikan harus jelas maknanya. Jangan sampai menimbulkan banyak pemahaman. Maka berbicaralah sesuai bahasa yang dipahami batita.

* Suara lembut

Namanya juga menghadapi anak, jadi harus disikapi dengan nada atau suara lembut dan menenangkan. Dengan begitu, si kecil seolah-olah tidak sedang dimarahi. Ucapan yang terdengar keras, suara tinggi atau penuh kemarahan, membuat anak me-rasa tak aman, nyaman bahkan takut. Apalagi kalau mengucapkannya dibarengi bahasa tubuh yang tidak menyenangkan, seperti bertolak pinggang. Jadi tunjukkan pula raut wajah yang cerah, kata-kata dan suara yang menyenangkan. Tak lupa pula untuk melakukan kontak fisik, misalnya sambil memeluk atau mengelus-ngelusnya.

* Konkret

Anak usia batita masih dalam tahap berpikir praoperasional. Maksudnya, dalam memahami sesuatu anak masih berpikir konkret. Dia belum dapat berpikir secara abstrak. Jadi, gunakan bahasa sekonkret mungkin. Misalnya, “Kamu jangan pelit dong sama teman.” Lebih enak kalau dibilang, “Yuk, mainnya sama-sama, tak perlu rebutan mainan.”

* Empati

Tempatkanlah diri kita pada situasi dan kondisi yang dihadapi anak. Salah satunya adalah mau mendengar dan memahami si kecil. Entah itu keinginan atau keluhannya. Tentunya mendengar dalam arti luas, tidak hanya melibatkan indra pendengaran tapi juga perasaan atau mata hati. Jadi sebaiknya jangan menuntut anak untuk mengerti keinginan kita, tapi berusahalah memahami anak terlebih dahulu. Kelak, bersikap empati ini dapat menumbuhkan keterbukaan dan rasa percaya antara orangtua dan anak.

* Perhatikan Situasi dan Kondisi

Pilihlah waktu yang enak dan tepat saat mengajak si kecil berbicara. Jangan ketika anak sedang asyik bermain atau beraktivitas, tiba-tiba kita ingin mengajaknya ngobrol. Beri jeda waktu pada dia untuk me-nyelesaikan kegiatannya itu. Alih-alih mau berbincang, dia malah bisa merasa terganggu.

* Kembangkan dialog

Sebaiknya hindari kata-kata yang bernada satu arah atau bahkan cenderung memaksa, contoh,”Adek harus tidur siang, ya. Jangan membantah!” Sikap “otoriter” seperti itu hendaknya ditinggalkan. Jadi, kembangkan upaya dialogis. Biarkan anak mengutarakan pendapatnya. Berikan kesempatan pada anak untuk berekspresi atau menyatakan apa yang ingin disampaikannya. Bisa kita pancing misalnya dengan cara, “Menurut Adek, tidur siang itu baik enggak?”

Dengan mengupayakan cara dialogis, komunikasi yang dijalin diharapkan lebih efektif. Contoh, ketika kita meminta tolong si kecil, daripada memberi perintah, “Nak, buang bungkus permen di tong sampah dong!”, lebih baik ajukan pertanyaan yang membuat anak sampai pada keputusan yang harus dilakukan. “Ayo, ke mana bungkus permen ini mesti dibuang?” Nada bertanya lebih efektif karena anak belajar bertanggung jawab terhadap apa yang dilakukannya. Lontaran pertanyaan seperti ini sekaligus mengasah kemampuan berpikir si kecil.

* Konsisten

Saat berbicara dengan anak, tunjukkan kesungguhan atau konsistensi. Umpamanya, ketika memutuskan untuk mengatakan “tidak”, terhadap sesuatu hal, maka kita harus konsisten. Misalnya, tak boleh makan cokelat menjelang tidur. Dengan bersikap konsisten, maka tak memungkinkan anak untuk melakukan “tawar-menawar”. Sebaiknya sikap konsisten ini juga ditunjukkan semua orang di rumah termasuk saudara, kerabat atau kakek-neneknya. Anak akan paham aturan mana yang boleh dan mana yang tidak. Dengan begitu, komunikasi yang dijalin bisa efektif.

* Tegas

Dalam berkomunikasi kita sebaiknya tegas. Tapi bukan berarti dengan marah. Sikap tegas diperlukan bila si kecil “membandel” atau melakukan sesuatu yang sebetulnya sudah kita peringatkan. Misalnya, saat nonton teve, posisi duduknya selalu terlalu dekat. Padahal, kita sudah minta agar duduknya mundur atau menjauh. Bila dia tak juga mau menurut, maka boleh saja kita menarik tubuhnya agar menjauh dari teve. Beri alasan kenapa nonton teve tak boleh dekat-dekat karena bisa merusak mata.

* Beri pujian

Dalam berkomunikasi, unsur pujian mengandung makna positif buat si kecil. Dia akan merasa dihargai atas apa yang dilakukannya. Tiap si kecil berhasil melakukan sesuatu, kita sebagai orangtua jangan lupa untuk mengucapkan, “Terima kasih.” Berikan juga ciuman atau peluk sayang sebagai tanda kita merasa senang. Dengan merasa dihargai, anak pun belajar menghargai orang lain.
MEMPERSIAPKAN GENERASI LIFE READY

Memasuki era globalisasi, persaingan yang akan dihadapi oleh generasi mendatang pun semakin ketat. Anak-anak Anda, bisa jadi menjadi salah satu kunci kesuksesan Indonesia di tahun 2025 nanti. Bagaimana agar anak tumbuh cemerlang?

Sebagai ibu, tentu akan berusaha maksimal untuk dapat menciptakan seorang manusia berkualitas di masa mendatang. Kesuksesan buah hati, menjadi satu target penting yang harus dipersiapkan jauh hari sebelum mereka masuk ke dunia sebenarnya. Salah satu cara adalah mempersiapkan generasi ‘life-ready’.

Generasi ‘life-ready’ adalah generasi atau anak yang siap menghadapi tantangan di masa mendatang, berkompetisi menghadapi peluang yang ada, berprestasi dalam lingkungan sosial dan mengarahkan kehidupannya pada hal-hal positif.

Dra. Ratih Ibrahim, MM., psikolog anak, menjelaskan bahwa tanda atau ciri anak ‘life-ready’, dapat dilihat dari jiwa pemimpin si kecil. Hal ini mulai dari kemampuan berinisiatif untuk mengambil keputusan-keputusan kecil, rasa percaya diri yang selalu senyum serta merasa nyaman dengan dirinya sendiri, kreatif serta sering berimajinasi dan banyak menghasilkan karya lewat coretan tangannya, dan mudah bergaul yang tampak dari keberaniannya bersosialisasi dan berkenalan dengan orang baru.

Menjadi Orang Tua yang Baik

Pembentukkan karakter anak ditentukan pada masa-masa keemasan di usia 0-12 tahun. Pada masa itulah, kebiasaan perilaku dan pembentukan pribadi dapat ditanamkan. Lingkungan yang sehat dan perilaku yang positif tentu menjadi faktor penting bagi pembentukan karakter ini.
Menjadikan anak sebagai subyek penerapan pendidikan dan pengasuhan yang benar.
Beri pujian. Hindari membandingkan anak dengan orang lain, terutama saudara kandung. Setiap anak adalah individu yang unik.
Hindari kritik. Jadilah tegas namun tidak berseberangan dengan apa yang mereka pikirkan. Anda hanya perlu memberitahu tentang apa yang Anda harapkan pada mereka.
Jadilah konsisten. Kendalikan emosi Anda dan menegakkan aturan yang sama sepanjang waktu.
Menjadi row model yang baik Memberikan perintah tanpa memberikan contoh perilaku yang sesuai juga tidak akan berhasil Anda terapkan.
Tampil kompak di depan anak. Usahakan untuk mendiskusikan terlebih dahulu dan menyepakati satu hal baru kemudian disampaikan kepada anak.
Berikan respon pada kemajuan sarana teknologi dan informasi. Pesatnya kemajuan informasi dari teknologi yang ada saat ini tentu membuat dunia anak semakin terbuka lebar untuk mengetahui banyak hal.
Tidak segan berdiskusi dengan para pakar. Jika orang tua merasa dirinya masih kurang dalam hal memberikan fasilitas kepada anak, kiranya tidak segan untuk berdiskusi langsung dengan para pakar untuk mendapatkan jawaban atau solusi yang lebih pasti.

Monday, 15 October 2012

Bahaya Meneriaki Anak dan Cara Menjadi Ibu yang Lebih Tenang
Oleh: Good Housekeeping | Team Mom –

Jika Anda meneriaki anak Anda, lalu menyesal setelahnya, ini saran buat Anda.

Saya, suami dan dua anak kami sedang menikmati liburan santai di Hawaii. Kami sedang berkendara di mobil melalui jalan berliku (dan berbahaya) dan menuju Hana. Saat kami sedang melihat betapa indahnya tebing dan pantai, peristiwa itu tiba-tiba terjadi; tanpa alasan jelas, anak laki-laki kami yang berusia 5 tahun melempar botol air ke arah suami.

Botol itu mengenai kaca dan membuat suara keras. Hanya keajaiban yang membuat kami tidak menabrak sesuatu — meski kami sempat kehilangan kendali. Saya dan suami sontak memarahi, berteriak dan mengancam.

"Kenapa kamu melakukan itu? Apa kamu tidak tahu kalau itu amat berbahaya? Kita sedang menikmati liburan, dan kamu melempar botol air tanpa alasan?" Lagi dan lagi kami memarahinya — melebihi apa yang sepantasnya diterima anak TK.

Air mata mulai mengalir di pipi anak saya. Bibirnya gemetar, dan ia mulai menangis. Kami pun menenangkan diri dan melanjutkan perjalanan, dan saya mencoba melupakan semua kejadian tersebut.

Beberapa minggu kemudian, saya memutar ulang video liburan kami di Hawaii. Ternyata insiden pelemparan botol air itu tidak sengaja terekam kamera (yang saya lupa matikan). Tanpa gambar, saya bisa mendengarkan diri saya sendiri sedang meneriaki anak kami dan mempermalukannya.

Saya mencoba menahan air mata. Bagaimana saya bisa berlaku seperti itu di depan anak saya sendiri, anak saya? Saya mungkin rekaman suara di kamera video, tapi tidak akan pernah bisa menghapus kejadian tersebut dari ingatan.

Suka atau tidak, sebagian orang tua mengamuk di depan anak kesayangan mereka. Kadang kemarahan itu ditujukan pada anak, kadang juga tidak. Tapi itu bukanlah pengalaman yang menyenangkan. Untungnya, ada cara sederhana yang bisa diambil untuk memperbaiki keadaan:

Harga dari sebuah kemarahan
Pertama, ingatlah mengamuk di depan anak bukan cara tepat menjadi orang tua. Hal itu bisa menyebabkan gangguan pada kejiwaan mereka, ujar ahli psikologi Matthew McKay, Ph.D, profesor dari Wright University di Berkeley, California, dan penulis “When Anger Hurt Your Kids”.

"Studi yang ada menunjukkan bahwa orangtua yang menunjukkan kemarahan di depan anaknya akan membuat anak tersebut menjadi kurang empatik, kata McKay.

Anak tersebut akan menjadi agresif dan mudah depresi dibandingkan anak yang berasal dari keluarga yang tenang, dan memiliki performa yang kurang baik di sekolah. Kemarahan dapat mengurangi kemampuan anak untuk beradaptasi dengan dunia, ujar McKay.

Semakin muda usia anak tersebut, maka semakin besar dampaknya. "Ketika anak masih kecil, Anda adalah dunianya," ujar psikolog Robert Puff, Ph.D, penulis “Anger Work: How to Express Your Anger and Still Be Kind”. "Ketika Anda marah, dunia mereka terguncang. Saat mereka tumbuh dewasa. mereka punya teman, dan orang lain dalam hidup mereka, dan hal itu akan mengurangi efeknya."

Satu lagi yang harus diperhatikan: Kemarahan tanpa kata-kata pada umumnya tidak akan membuat efek sebesar kemarahan biasa, ujar McKay.

Anak itu sebenarnya bisa belajar pelajaran penting dari melihat Anda marah sampai menenangkan diri. "Hal itu akan menunjukan pada anak bahwa kita semua bisa marah, tapi yang terpenting adalah memperbaiki keadaan sesudahnya," ujar McKay. Ini adalah langkah untuk melakukannya.

Ketika Anda meneriaki anak

Ketika Jennifer dari Huntington Beach, California, pergi ke Disneyland dengan tiga anaknya, dia tidak sadar "tempat paling bahagia di Bumi" akan menjadi salah satu lokasi momen paling buruknya sebagai orangtua. "Waktu itu hari sangat panas dan ramai" ujar Jennifer. "Dua anak saya menderita penyakit paru-paru dan bisa menggunakan kartu khusus untuk menghindari antrean. Tapi anak saya yang berusia 13 tahun menghilangkan kartunya. Tiba-tiba saya meneriakinya, setelah itu anak saya mulai menangis. Semua orang yang ada di sekitar melihat saya dengan jijik. Saya terus meminta maaf. Air mata saya juga mulai mengalir karena telah melukainya."

Studi University of New Hampshire menemukan, 90 persen orangtua mengakui pernah memarahi anaknya pada usia 2-12 tahun, dalam periode satu tahun (10 persen lagi pasti malaikat atau punya ingatan yang buruk).

Untuk menghindari meneriaki anak, kami berikan beberapa tips: Saat Anda marah bayangkan anak Anda sebagai bayi, ujar Dr. Sandra P Thomas, profesor dari University of Tennessee, Knoxville, dan penulis dari “Use Your Anger: A Woman's Guide to Empowerment”.

"Anak yang lebih tua dan remaja memang tidak selucu bayi, dan kadang mereka menyebalkan," ujarnya. "Ketika Anda marah, ingatlah mereka sebagai bayi, hal itu akan membantu Anda."

"Jika Anda bisa, istirahatlah sebentar, dan pergilah ke ruang sebelah meski hanya satu atau dua menit" ujar Laura J. Petracek, Ph.D., penulis “The Anger Workbook for Women”.

Jika Anda terlanjur marah, hal yang paling penting adalah memperbaikinya. Jangan tergoda untuk menyalahkan anak Anda karena memicu amarah. "Katakan, aku sangat kecewa pada kecerobohanmu, tapi aku seharusnya tidak berteriak seperti itu, aku minta maaf." ujar Thomas. Berjanjilah Anda tidak akan melakukannya lagi, hibur anak Anda seperlunya.

Ketika Anda bertengkar dengan pasangan
Angie dari Seattle mengatakan hidupnya penuh tekanan sejak suaminya kehilangan pekerjaan dan mereka sering bertengkar di depan anak mereka yang berumur tiga tahun, Lexi.

"Semalam saya memarahi suami karena tidak membersihkan rumah," ujarnya. "Lexi datang dan menarik baju saya sambil berkata, 'Ayah jangan dimarahi', mata Lexi terlihat sangat ketakutan. Kami akhirnya berhenti bertengkar dan mencoba meyakinkannya, bahwa ayah dan ibunya masih saling mencintai, tapi saya tidak tahu apakah Lexi percaya."

Anak bisa sangat terpukul jika melihat orang tuanya bertengkar, ujar Charles Spielberger, Ph.D., psikolog yang mempunyai spesialisasi dalam studi kemarahan di University of South Florida. Sangat penting untuk segera memperbaiki keadaan.

Tidak usah menjelaskan keadaan dengan membacakan daftar cucian yang tidak dikerjakan pasangan Anda, hal itu hanya akan membuat anak stres. "Lebih baik katakan seperti ini: 'Saya sangat marah dengan ayahmu tadi, kami telah membicarakannya dan sedang memperbaikinya, orang tinggal bersama kadang bisa marah, maaf telah berteriak, kami masih saling menyayangi.'"

Jika bisa, katakan apa yang akan Anda lakukan lain kali, ujar Jerry Deffenbacher, Ph.D., profesor psikologi di Colorado State University, yang mempelajari masalah kemarahan. Hal itu akan membuat anak belajar dari pengalaman, contohnya: "Saya marah pada ayahmu karena menghanguskan roti, tapi saya minta maaf, harusnya saya tidak berteriak seperti itu. Lain kali kami akan menggunakan timer di dapur saat menyalakan oven."

Jangan berkomentar terlalu banyak. Menjelaskan terlalu banyak akan membuat anak Anda seperti terapis atau mediator. Jangan melibatkan anak terlalu jauh.

Ketika bertengkar dengan orang asing
Saat Fiona dari Detroit memasang sabuk pengaman untuk anaknya setelah kembali dari toko roti, seorang pengemudi yang lebih tua darinya berhenti di dekatnya dan membunyikan klakson. "Dia berteriak, tutup pintumu!" tanpa memberi peringatan kalau saya menutupi jalannya. Saya langsung berteriak "Apa tidak bisa lihat kalau saya sedang meletakkan bayi di kursi? Dasar $%*#@?!'”

“Anak kembar saya yang duduk di kursi belakang sangat terkejut, dan aku merasa sangat bersalah pada anak saya."

Insting Anda pasti ingin meminta maaf, tapi jangan. Semua orang bisa marah, Anda tidak boleh minta maaf karena kemarahan. (Hal ini penting jika Anda punya anak perempuan — anak perempuan pada usia muda memendam perasaannya).

Lebih baik terangkan apa yang membuat Anda marah. Ujar McKay: "Katakan, 'orang itu melukai perasaan saya dan saya sangat marah.'" Kemudian, mintalah maaf karena cara Anda meluapkan kemarahan. "Pastikan anak tahu makian — atau apa pun yang Anda lakukan itu salah" ujar Thomas.

Mengatasi amarah Anda
Untuk tetap bersabar, ikutilah beberapa aturan dasar berikut:

-Tanyakan pertanyaan yang tepat ketika anak membuat susah dan memicu kemarahan Anda, ikuti saran McKay: Daripada berpikir, mengapa dia melakukan ini pada saya? Fokus pada anak; mungkin ada alasannya. Apa dia lapar, bosan, lelah, atau ingin diperhatikan? Coba penuhi keinginannya dan jangan terbawa emosi.

-Catat kemarahan Anda saat Anda terbawa emosi. "Lihat polanya — jam saat Anda paling marah? Situasinya? ujar Deffenbacher. "Setelah Anda menemukan inti penyebab kemarahan Anda, minta pendapat mengatasinya." Anda bahkan bisa melibatkan anak Anda, katakan: "Saya sangat kesal jika kamu tidak mengerjakan tugasmu, bagaimana supaya membuat situasi ini lebih baik? Dengan membiarkan anak memberi pendapat, Anda mendorong mereka menjadi bagian dari solusi.

-Kurangi pertengkaran rumah tangga, "Pada saat yang tenang, Anda dan pasangan harus setuju untuk mengatasi argumen secara berbeda, ujar Deffenbacher. "Jangan bertengkar di depan anak. Buat kode ketika Anda sangat marah, dan biarkan sinyal itu menjadi tanda kalau Anda ingin membahasnya nanti secara pribadi ketika suasana sudah tenang."

-Katakan emosi Anda dengan jelas, ketika anak atau orang asing membuat Anda marah, katakan "Wow, orang itu memotong jalanku — tidak sopan! Mungkin dia ada keadaan darurat atau tidak melihatku. Apa pun itu dia tidak akan merusak hariku.” ujar Deffenbacher. Dengan melakukan itu, Anda memberi contoh bagaimana mengatasi rasa frustasi sehari-hari. Dan bagaimana mengontrol emosi, sebelum Anda dikontrol emosi.

Oleh Julie Taylor

Thursday, 11 October 2012

Pendekatan Positif Dalam Melarang si Buah Hati
Saya pernah membaca buku tentang cara yang paling efektif untuk melarang anak. Di dalam buku itu dikatakan bahwa sebaiknya orang tua menggunakan kalimat positif dalam melarang anak. Jangan berkata ‘jangan’. Tidak bilang ‘tidak boleh’. Di buku itu dikatakan bahwa kata-kata positif memiliki kekuatan untuk membuat anak merasa berguna, merasa senang, memberi harapan, dan memupuk jiwa mereka. Kata-kata positif juga menular. Anak-anak yang biasa mendengarkan orangtuanya berbicara positif, akan melakukan hal yang sama pada sekelilingnya.

Jadi, misalnya saat melihat anak hendak berbecek-becek, daripada bilang “Jangan lewat sana”, mustinya orang tua mengatakan “Hei, sepatumu musti tetap kering lho”. Saya sih bisa bayangkan segera setelah kata ‘jangan’ terucap, anak memang akan menghindari becek tapi dia akan sengaja berjalan dekat dengan becek-becek tadi karena rasa keingintahuannya yang sangat besar. Mungkin malah sedikit menyentuh becek dengan ujung sepatunya.

Anjuran lain yang saya ingat di dalam buku itu adalah menyediakan alternatif. Dalam kasus becek-becek tadi, selain kita memberi tahu anak bahwa sepatunya harus selalu kering, kita juga bisa beri pilihan. “Kita lewat sini saja ya nak,” atau “kamu mau lewat sebelah sana?”

Saya sudah mencoba anjuran di buku itu saat saya belanja bersama Kai, anak saya, di supermarket. Saat itu Kai duduk manis di trolley dan sama sekali tidak ada tanda-tanda akan muncul bencana. Tak lama, kami tiba di lorong susu. Kai yang tangannya punya kecepatan akselerasi yang sama dengan mobil Formula 1 menyambar susu botol hingga berjatuhan. Saya menarik nafas. Mulai berhitung dalam hati sambil menunduk untuk mengambil susu-susu yang berserakan.

Perlahan namun pasti, akhirnya saya berhasil mengkonstruksi kalimat positif di kepala. “Kai, kita jaga supaya susu-susu di rak supaya tetap rapih ya?” ucapku. Kai menjawab singkat. “Kai mau susu, Ma”. Inginnya saya jawab dengan cepat “Iya boleh, tapi kan jangan diberantakin gitu”. Saya terdiam. Selang empat kali jangkrik berbunyi di dalam kepala, akhirnya terucap dari mulut saya. “Iya boleh, Kai bilang ke Mama mau apa, nanti Mama yang ambilin”.

”Kata-kata positif juga menular. Anak-anak yang biasa mendengarkan orangtuanya berbicara positif, akan melakukan hal yang sama pada sekelilingnya”

Berhasil? Mmm... Kai memang tidak lagi menjatuhkan barang dari rak tapi secara misterius di dalam trolley saya muncul: makanan kucing (kami tidak punya kucing), satu butir jeruk, dan satu lembar papan display harga.

Well, meski tidak mudah, setidaknya, dengan berusaha membuat kalimat positif sebagai larangan, ada waktu sejenak untuk mengurangi tekanan darah yang tiba-tiba meningkat.

Selain itu, ucapan “Kai, ikannya harus dibiarkan berenang di air lho supaya tetap hidup,” kan terdengar lebih sophisticated dibandingkan dengan penampakan wajah dengan otot-otot tertarik kencang berteriak “Kaiii… ikannya jangan diambil dari aquariuuum…!!”. - Intan. Ibu dari Kai (3 tahun), Bali

Friday, 5 October 2012

bidadari kecil itu bernama "Marwah Khumaira Firmansyah"


MARWAH KHUMAIRA ciptaan Alloh yang sangat sempurna,,,
4 Tahun lalu,,,21 Juni 2008...tepat pukul 15.30..Anakku lahir dengan segala kepayahan yang aku rasakan,mules,nyeri dan smeua kepedihan menjadi satu dalam perjuanganku melahirkan janin yang ada dalam rahimku,tak peduli berapa banyak peluh yang aku teteskan dan tak peduli berapa banyak darah yang mengalir memperjuangkan kelahirannya. Bukan hanya tetesan peluh dan aliran darah yang harus aku lalui dalam proses kelahiran ini,namun tak hentinya air mata mengalir menahan sakit yang aku raasakan,aku ingin semua cepat berlalu dengan lahirnya si janin dalam rahimku.

Alhamdulillah semua berkat pertolongan Alloh SWT dan ibu Bidan yang membantu jalannya persalinan ku,lahirlah bayi perempuan yang mungil dan cantik dengan berat 2.9kg dan panjang 50cm,,bayi yang sangat aku idamkan selama ini.bayi yang dalam rahimku slealu menendang dan memutar perlahan menandakan dia selalu sehat dan akan segera lahir,aku menamai puteri cantik itu MARWAH KHUMAIRA FIRMANSYAH...

Hari,bulan dan tahun berganti,lambat laun membentuk anak bayi ku menjadi seorang gadis kecil yang ceria,anak gadis kecil yang selalu menjadi obat pelipur laraku,sekarang Marwahku sudah tak lagi memakai kain bedong dan sudah tidak lagi memakai diapers,,dia sudah 4 tahun kini,,semakin pintar dan cerdas di setiap harinya...Betapa aku sangat berterimakasih padaMu ya Rabb atas nikmat yang hamba terima,nikmat melihat perkembangan anak hamba dengan jelas. Begitu indah karuniaMu ya Rabb,,ciptaanMu sangat sempurna,,,,









written by Tian Lustiana di 02:11 Tidak ada komentar:
Friday, October 05, 2012

marwahku dari hari kehari

by
marwahku dari hari kehari


Yaa ampuuun ga kerasa banget dan bener-bener ga kerasa deh,,rasanya baru kemarin deh neng Marwah masih bayi,masih imut dan selalu nangis kalau pampers nya sudah kepenuhan atau kalau dia lapar pengen mimi susu,dan triiing ternyata itu sudah 4 tahun lalu,,ceileeeh anak bayi yang unyu-unyu itu kini menjelma menjadi gadis kecil yang sangaaaat cantik dan cerdas.
Apalagi sekarang kan neng marwah sudah mulai sekolah niih,,haduh denger dari cerita mamah ( karena aku kerja jadi ga bisa stay terus nemenin marwah deh :( ) kalau di sekolah itu Neng Marwah sangat sangat aktif sekali,dia selalu saja tunjuk tangan kalau sang Guru mengajukan pertanyaan atau menantang murid untuk maju kedepan,,dan voilaaaaa bintang Neng Marwah udah banyak lho,,katanya sih udah 4 ... hihihihi yaa buat ku udah banyak sih,,karena keberaniaan anakku itu yang sebenernya membuat aku berfikiran banyak,,hehehh...







Setiap hari yang dilalui dengan mahluk kecil yang sangat luarrr biasa ini adalah dengan keajaiban,,,hmmmm setiap tingkahnya lucu dan gemesin banget deeh...


yang pinter yaa sayang sekolahnya,,,semoga neng marwah bisa menjadi anak yang solehah yaaa,,,

bersambung deh ceritain anak ibu yang cantik ini...

Bandung,4 oktober 2012


with kiss,,muaaaaach
ibu tercinta